Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Senin, 29 Juni 2020

Mendidik Anak Berakhlak Alquran

Juara 3 Karya Tulis Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2015


Latar Belakang

Pada zaman modernitas ini, telah hadir budaya-budaya pop dari barat yang masuk ke Indonesia. Masuknya budaya pop ini mengakibatkan akhlak anak-anak umat Islam bangsa terpengaruh dan membuat mereka ingin tahu. Hasilnya, mereka pun mencoba-coba dengan keingintahuannya tersebut. Beberapa dari mereka yang kurang pemikiran dan pengawasan orang tua akan terus nekat melakukannya. Padahal, budaya pop tersebut sangat berpengaruh buruk bagi moral anak, khususnya akhlak. Sekarang saja sudah tersebar banyak kabar berita bahwa anak-anak terjerat khasus narkoba, pemerkosaan, pembunuhan, dan khasus-khasus kejahatan lainnya. Sehingga Negara kita Indonesia ini menjadi rusak akhlak bangsanya.

Mereka seakan tidak menyadari bahwa Tuhan selalu mengawasinya dan tidak merasa takut telah melakukan hal itu. Sebelum terjadi kejahatan-kejahatan yang demikian itu, pasti ada faktor-faktor lain yang menyebabkan mereka berbuat tindakan-tindakan tersebut. Yang diantaranya seperti faktor keluarga, lingkungan, pendidikan, dan pergaulan. Faktor pendidikanlah yang menjadi penting dalam pembentukan akhlak anak. Baik pendidikan secara umum maupun pendidikan spiritual keagamaan anak. Namun pendidikan spiritual keagamaan anak yang lebih diutamakan dalam pembentukan akhlak anak sejak dini. Karena dengan akhlak, anak akan lebih berhati-hati dalam mengambil suatu pelajaran/pendidikan yang umum.

A.   Rumusan Masalah

1.      Bagaimana budaya pop serta pengaruhnya terhadap anak?

2.      Bagaimana mendidik anak agar tidak terpengaruh budaya pop?

3.      Mengapa pemahaman tafsir Alquran digunakan sebagai ilmu?

4.      Mengapa harus mendidik anak berdzikir dan bersyukur?

B.   Tujuan

Adapun tujuan pembuatan karya ilmiah ini antara lain:

1.      Untuk menggambarkan kondisi budaya pop di Indonesia serta mengetahui contoh sebab-akibat pengaruhnya terhadap anak.

2.      Untuk menjelaskan cara agar anak terdidik dengan baik dan tidak terpengaruh oleh buruknya budaya pop.

3.      Untuk mendalami makna ayat-ayat dalam Alquran yang dapat digunakan sebagai penambah wawasan ilmu pengetahuan kita dan anak mengenai hidup mana yang haq dan batil.

4.      Untuk menjelaskan pada anak bahwa dzikir dan syukur merupakan tali erat kehidupan beragama seorang muslim.


1.     Seputar Budaya Pop Serta Pengaruhnya Terhadap Anak

Budaya pop kini sudah semakin merajalela di Indonesia akibat adanya globalisasi dan modernisasi. Kebudayaan kebarat-baratan atau westernisasi pun ikut masuk ke dalam secara mudah. Budaya pop adalah budaya di mana ia hadir dalam wujud yang serba menyenangkan, glamour instan, dan pragmatis. Budaya pop adalah budaya ‘hiburan’ dimana pesona keindahan menjadi gambaran dari citra diri seseorang. Seseorang dikatakan ‘cerdas’ jika ia mampu memperlihatkan kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuhnya. Inilah parameter kecerdasan sekarang.

Seberapa orang sering pergi ke diskotek, ke kafe-kafe, mall-mall, minum-minumman keras, mengisap ganja dan narkoba, serta menyalurkan hasrat seksualnya dengan bebas (free sex). Kemaksiatan dianggap biasa. Semakin sering orang itu melakukan hal-hal tersebut maka ia semakin ‘cerdas’ dan semakin modern. Begitu sebaliknya, semakin jarang orang-orang melakukan hal-hal tersebut maka dikatakan semakin kolot, usang, konvensional, dan tidak modern. Na’udzubillah.

Dapat kita perhatikan dari para penduduk di kampung-kampung yang telah lama menikmati suguhan hiburan dan informasi dari stasiun-stasiun televisi. Bahkan tidak sedikit tetangga-tetangga kita di kampung-kampung memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses hiburan-hiburan dari mancanegara yang cenderung seronok, terbuka, dan biadab. Iklan-iklan yang menantang, cerita-cerita sinetron yang melambungkan angan-angan, dan gaya-gaya hidup selebritis yang menggiurkan telah berhasil mempengaruhi sisi-sisi psikologis kita untuk meniru dan mengikutinya. Oleh sebab terpengaruhnya hiburan-hiburan dan informasi-informasi dari teknologi audio visual itu, orang-orang mulai pintar memoles diri seperti iklan-iklan yang ia lihat, mulai pandai bertengkar seperti cerita-cerita dalam sinetron, dan mulai malas bekerja karena mengharap bisa memenangkan kuis jutaan rupiah dari televise. Otak kita semakin hari semakin dijejali dengan lamunan-lamunan keindahan tentang kekayaan dan hasrat ingin kaya.

Sesungguhnya kita telah terbiasa melihat pemandangan yang berbeda. Ada orang yang hidup senang, ada pula sengsara, ada yang berkecukupan, ada pula yang kekurangan, ada yang mempunyai pangkat dan kedudukan tinggi, ada pula yang pengangguran, ada anak yang menjadi pengamen, ada pula yang berpendidikan, ada yang suka main robot, ada pula yang main kelereng. Pendeknya, sesungguhnya kita telah terbiasa mengetahui, ada orang yang berbuat baik, ada pula orang yang berbuat jahat. Bahkan kita menyadari, ada kalanya orang berbuat jahat oleh sebab keterpaksaan hidup, da nada pula orang yang pura-pura baik, karena ingin mengatur irama hidup.

Cekikikan politik, canda tawa selebritis, tangisan anak-anak kecil dengan pakaian kumal, dan kulit-kulit terbakar, keringat bercucuran tukang becak atau pendorong gerobak, ibu-ibu yang pergi ke majelis ta’lim, anak-anak muda yang menjalani kehidupan bebas, iklan-iklan yang menggiurkan, sinetron-sinetron yang melambungkan angan-angan, film-film yang mempertontonkan kekerasan dan aurat, dan masih banyak lagi pemandangan yang carut marut terjadi di tengah kehidupan kita sekarang ini.

Inilah budaya pop itu. Alkisah budaya ini lahir dari semangat free enterprise dan high technology, yang keduanya ini adalah produk filsafat individualism yang merupakan akar-akar kapitalisme. Free Enterprise adalah suatu situasi yang di dalamnya setiap anggota masyarakat memiliki kebebasan dalam berusaha. High Technology merupakan produk sains dari hasil riset-riset yang canggih. Menurut Fachry Ali, adanya free enterprise melahirkan high technology. Sebaliknya, semakin tinggi teknologi dalam masyarakat, maka akan semakin berkembang pula free enterprise. Jadi, ada semacam lingkaran setan antara kedua hal tersebut.

Kita semua mengetahui bahwa kapitalisme merupakan inti kebudayaan dan perdaban Barat. Bahkan, sampai ada yang menyatakan bahwa kapitalisme adalah ruh rakyat Amerika. Bisa dibayangkan sebagaimana dikatakan oleh Gunnatilake, budaya dan peradaban Barat telah menjadikan Barat sebagai pusat penyebaran kebudayaan ke seluruh dunia. Maka telah terjadi transformasi besar-besaran akan struktur sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan sains dan teknologi. Dunia Timur yang rata-rata tergolong dalam Negara-negara dunia ketiga (tegasnya Negara miskin dan bodoh menerima bahkan dengan sukarela dan asyik menerima transformasi tersebut). Negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim tak luput dari pengaruh ini.

Anak-anak (juga diri kita sendiri) hidup di tengah-tengah budaya pop dengan hingar bingarnya. Nasib mereka kelak, tergantung cara kita mendidiknya sekarang. Apabila kita tenggelam dalam budaya pop dan modern seperti sekarang, maka sesungguhnya kita telah membiarkan anak-anak kita sendiri mempunyai masa depan yang robek-robek dan porak poranda, padahal, kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi pada mereka.

 

2.     Mendidik Anak dengan Dasar Alquran

Setelah kita mengetahui kenyataaan dari budaya pop, kita sebagai orang yang sudah mengetahui apa itu budaya pop, maka, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kebenaran Alquran agar anak tidak terpengaruh oleh budaya pop tersebut. Inilah puncak dari segala kebenaran dan puncak dari segala kecerdasan. Kebenaran Alquran adalah kebenaran yang tidak akan keropos dimakan zaman. Ia adalah kebenaran mutlak, bukan kebenaran relatif. Dengan Alquran, anak-anak tidak hanya akan cerdas secara spiritual saja, tidak hanya anak-anak kita akan mampu menghancurkan budaya-budaya dan peradaban-peradaban jahiliyah modern saja, tetapi, dengan Alquran, anak-anak kita akan mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat kelak, insha Allah.

Hal tersebut tidak diragukan lagi. Bila segala sesuatu menyangkut ucapan dan perbuatan disandarkan pada Alquran, maka Allah akan memberikan cahaya-Nya laksana matahari memberikan sinarnya untuk menerangi bumi. Allah adalah cahaya di atas cahaya, seperti pada surah di dalam Alquran Q.S. An-Nur ayat 35. Maka cahaya apa lagi yang mampu mengalahkan-Nya. Lebih-lebih cahaya peradaban dan budaya modern seperti sekarang ini. Maka anak-anak kita akan terus berada pada cahaya-Nya bila kita mendidiknya dengan Alquran.

Mendidik anak dengan Alquran diawali dengan mengajarkan cara membaca Alquran. Baik diberi pengajarannya di rumah maupun di TPQ. Namun dengan belajar di TPQ itu juga akan bertambah baik. Si anak dapat mendapatkan teman bergaul dan berlatih mengenal lingkungannya.

Alquran adalah petunjuk bagi seluruh manusia, yang dengannya manusia akan mempunyai pedoman dalam hidupnya, tetapi persoalannya kembali pada diri manusia itu sendiri, yang dalam hal ini adalah diri manusia nonmuslim; terhadap yang muslim saja kadangkala Alquran tidak digunakan sebagai petunjuk hidupnya. Padahal, Alquran adalah kitab petunjuk hidup seluruh manusia, maka sesungguhnya manusia secara keseluruhan tidak akan sesat bila menggunakan petunjuk tersebut. Dengan kata lain, barangsiapa menggunakan Alquran sebagai petunjuk hidupnya, maka ia tidak akan kehilangan arah. Dengan begitu, kita dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Haq adalah seluruh perkara yang diridai Allah atau kebaikan yang Allah perintahkan. Sedangkan batil adalah seluruh perkara yang tidak diridai Allah atau keburukan yang harus ditinggalkan.

Tafsir Alquran juga sangat dibutuhkan untuk mengajari anak. Membelajarkan tafsir Alquran pada anak yang dimaksudkan disini adalah, “Upaya-upaya kita menggunakan tafsir sebagai metode untuk mengajar anak berakhlak Alquran.” Kebutuhan akan tafsir Alquran bukan disebabkan bahwa Alquran itu ayat-ayatnya tidak jelas, tetapi harus dimaknai bahwa ayat-ayat Alquran itu mempunyai kandungan makna yang dalam. Terhadap ayat-ayat Alquran, kita berlaku seperti penyelam yang mencoba menyelam dalamnya samudera. Bila kita hanya mampu menyelam bagian yang dangkal, maka kita hanya akan mendapatkan ikan-ikan yang kecil, tetapi bila kita bisa mencapai dasar samudera, maka kita akan menemukan mutiara yang bisa kita bawa. Selain kita belajar untuk diri kita sendiri, kita juga mengajarkan pada anak didik kita. Seperti Rasulullah katakan yang artinya, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.”

Oleh karena itu, bukan hanya mengajarkan bagaimana cara membaca Alquran dengan tajwid yang benar, kita juga membelajarkan tafsir Alquran pada anak. Tafsir itu berarti usaha untuk memahamkan isi dan kandungan Alquran tersebut yang berangkat dari pemahaman kita terhadap tafsir-tafsir Alquran yang telah ada. Pendeknya, kita tidak akan membuat tafsir baru untuk dikonsumsi oleh anak-anak, tetapi kita hanya menggunakan tafsir-tafsir yang telah ada untuk kita pahamkan kepada anak-anak kita ketika menjelaskan ayat ini atau ayat itu.

Langkah-langkah yang bisa dipakai untuk membelajarkan tafsir Alquran pada anak agar nalar anak sampai pada nalar Alquran adalah sebagai berikut:

1.      Kita harus berusaha untuk memahami penafsiran ayat-ayat Alquran dari kitab-kitab yang dibacanya. Termasuk dalam usaha ini adalah melempar jauh-jauh perasaan malas untuk mengkaji kitab-kitab tafsir yang telah ada itu. Juga termasuk dalam usaha ini adalah membuang perasaan ‘merasa cukup’ dengan apa yang telah dipahami hingga detik ini tentang Alquran.

2.      Kita harus bisa memahami sifat dan karakter psikologis anak.

3.      Kita harus menurunkan bahasa tafsir dari para ulama ke dalam bahasa anak-anak agar anak mudah paham.

4.      Selanjutnya, kita menggunakan metode-metode yang efektif dan efisien untuk memulai pembelajaran tafsir Alquran kepada anak.

 

Rumusan tentang metode itulah yang paling penting diketahui, dipahami, dan dimiliki oleh pengajar ketika menyampaikan penjelasan kepada anak. Dengan metode yang tepat ini, insya Allah nalar anak akan lebih mudah memahami Alquran.

Selain mengajari anak untuk memahami tafsir Alquran dan cara membaca Alquran berdasarkan tajwidnya, kita juga harus mengajarkan pada anak agar pandai berdzikir dan bersyukur. Karena dzikir dan syukur merupakan dua hal sangat penting yang bertalian erat satu sama lain dalam kehidupan beragama seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh lalai dari dua hal ini. Allah berfirman pada QS. Al-Baqarah/2:152, yang artinya “Maka berdzikir (ingat)-lah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Dan bersyukurlah kepada-Ku janganlah engkau mengingkari (nikmat)-Ku.”

Dzikir kepada Allah berarti mencakup ingat terhadap nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya, (serta selalu menyebut-nyebutnya dengan lisan). Jika semangat dzikir dan syukur ini ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak sejak dini melalui pendidikan yang baik, niscaya dengan taufik Allah, anak-anak tersebut kelak akan menjadi orang yang iman serta amaliahnya sangat baik karena ia merupakan orang yang pandai dan terbiasa berdzikir serta bersyukur kepada Allah SWT.

Imam Ibnu al-Qayyim menjelaskan, yang dimaksud dengan dzikir adalah bukan sekedar dzikir secara lisan, tetapi dzikir secara hati (ingat) dan secara lisan. Dzikir kepada Allah berarti mencakup ingat terhadap nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya, (serta selalu menyebut-nyebutnya dengan lisan). Demikian pula ingat akan perintah serta larangan-Nya dan ingat akan perkataan-Nya. Itu semua mengharuskan untuk memahami Allah, mengimani-Nya, mengimani sifat-sifat-Nya, mengimani keagungan-Nya, dan memuji-Nya dengan berbagai macam pujian. Dan semua itu tidak mungkin terjadi dengan sempurna kecuali harus dengan mentauhidkan-Nya.

Jadi, dzikir kepada Allah mengharuskan itu semua, ditambah harus pula mengingat nikmat-nikmat serta karunia-karunia Allah dan kebaikan-kebaikan-Nya kepada seluruh makhluk. Adapaun yang dimaksud dengan syukur adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah serta senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan bermacam-macam hal yang dicintai-Nya, baik secara lahir maupun batin.

            Itulah, dua perkara yang menjadi tujuan mengapa Allah SWT menciptakan jin dan manusia, menciptakan langit-langit dan bumi, menetapkan adanya pahala dan hukuman, menurunkan kitab-kitab-Nya, serta mengutus rasul-rasul-Nya. Tujuan inilah yang disebut al-haq (kebenaran dan kesungguhan) ketika Allah SWT menciptakan langit-langit dan bumi beserta segala apa yang ada di antara keduanya. Bukan kesia-siaan dan main-main seperti yang disangkakan oleh orang-orang kafir, musuh-musuh Allah. Allah berfirman pada surah, QS. Shad/38:27, yang artinya “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya hanya untuk kesia-siaan (tanpa hikmah). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”

Adapun nas lain yang menerangkan kesungguhan dari maksud diciptakannya alam semesta ini, yaitu, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya hanya untuk main-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”, (QS. Al-Dukhan/44:38-39). “Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu hanya untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”, (QS. Al-Mukminun, 23:115).

Dan masih banyak nas-nas lainnya. Wujud kesungguhan dimaksud adalah berbentuk peribadahan kepada Allah saja. Yang itu hanya akan terjadi jika seorang senantiasa dzikir dan syukur. Dzikir dalam arti ingat akan segala keagungan Allah, keperkasaan-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya, serta kedahsyatan siksa-Nya dan kemudian selalu memuji-muji-Nya, baik dengan hati, lidah maupun tindakan.

Hal ini sangat penting untuk mendidik anak-anak sejak dini akan arti penting dari dzikir dan syukur. Sebab tanpa itu, ibadah yang dilakukan oleh anak-anak kelak mungkin akan menjadi tanpa penghayatan dan hambar. Akibatnya keyakinan, tauhid, keikhlasan, dan kesungguhan ibadahnya akan rapuh. Maka, didiklah anak untuk pandai berdzikir dan bersyukur.


Penutup

Dari uraian yang telah dijelaskan, membelajarkan tafsir Alquran pada anak adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kecintaan anak-anak pada Alquran. Dengan cinta terhadap Alquran, kita mengharapkan anak-anak cinta terhadap isi kandungan Alquran. Dengan cinta terhadap isi kandungan Alquran, maka anak-anak kita mengetahui dan memahami Allah, Nabi Muhammad, para Imam, dan Sahabat, keadilan-Nya, dan hari akhir.

            Mengajarkan nilai-nilai Alquran lewat pembelajaran tafsir Alquran kepada anak, mau tidak mau, menuntut kita untuk memperhatikan perkembangan moralitas, agama, dan spiritual anak. Hal ini mensyaratkan bahwa kita, harus menempa diri juga dalam memperdalam khazanah pengetahuan kita terhadap isi dan kandungan Alquran. Dengan begitu, kita perlu juga belajar sekaligus mengajar.

            Sungguh sayang apabila kita terlambat mengajarkan nilai-nilai Alquran ini terhadap anak-anak. Sebagaimana kata pepatah, mengajar anak ibarat mengukir di atas batu, ia akan bisa lama bertahan karena anak adalah fitrah yang suci. Yang dengan kesucian ini anak-anak akan mudah untuk memahami dan menghafalkan terhadap segala sesuatu yang sampai kepada mereka. Begitu pula dengan bersyukur dan berdzikir. Dengan bersyukur dan berdzikir, anak akan lebih bertambah kuat imannya, insya Allah.

            Oleh karena itu, mari ajarkan kepada anak-anak dengan didikkan yang di dasarkan pemahan tafsir Alquran. Dengan begitu, anak akan lebih berhati-hati dalam membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang salah (batil). Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya pop. Selain itu, dengan cintanya anak kepada Alquran, semoga Allah senantiasa mencintai dan menjaganya.


Daftar Pustaka

Muhyidin, Muhammad. 2008. Mengajar Anak Berakhlak Al-Quran. Bandung:

ROSDA.

Muhammad Zakarriya, Maulana dan Al-Kandahlawi Rah. A. 2001. Fadhilah

Qur’an. Yogyakarta: Ash-Shaff.

Fais Asifuddin, Ahmas. 2015. “Mendidik Anak Pandai Berdzikir dan Bersyukur”.

            Surakarta: As-Sunnah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar