Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Senin, 06 Maret 2023

Dua Tahun Lalu

 Karya: Dina Nur Wulan

 

Apakah kamu masih ingat,

Kapan tatap pertama kali ini melihatmu?

Kapan deras hujan membasahi kita?

Dan suara tawa yang renyah terdengarnya.

Aku masih ingat itu semua.

 

Dua tahun lalu,

Kamu dan keindahan namamu masih selalu kuingat

Hingga kini aku masih berharap

Dulu aku takut mengakuinya

Dan lewat puisi ini,

Aku harap kamu bisa merasakannya

 

Purworejo, 1 Oktober 2022

 .................................................................

Merupakan Penulis Terpilih Lomba Cipta Puisi Nasional yang diadakan oleh Arus Pedia pada Februari 2023. Terkumpul menjadi satu dalam buku Antologi Puisi Harapan.

Siapa penulis buku favoritmu? Apa buku-bukunya yang kamu rekomendasikan?

 Dijawab oleh: Dina Nurw

Rekomendasi buku yang akan saya sebutkan di sini seputar dengan sosial-budaya, psikologi, sejarah, dan pendidikan.

  • Han Nolan - Dancing on The Edge

Untuk penggemar sastra-psikologi, buku ini sangat menarik ceritanya dan selalu membuat penasaran di setiap kejadian-kejadiannya. Sebenarnya ini buku dari penulis barat, namun ada terjemahannya di penerbit Serambi.

Dancing on the Edge merupakan cerita yang luar biasa tentang pencarian kebenaran dari seorang gadis muda, diceritakan dengan penuh keharuan dan humor.

Buku ini merupakan kategori sastra remaja dalam sejarah nasional book award. Bisa dicek sinopsisnya melalui web berikut: Menari di Tepian.

  • Dewi Sartika - Dadaisme

Masih dalam ranah sastra-psikologi. Buku ini juga membicarakan keduanya. Buku ini merupakan Pemenang Pertama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2003.

Novel dengan judul yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan sebuah aliran seni lukis ini seperti membentangkan serpihan-serpihan kritik atas kultur etnik, perselingkuhan, halusinasi, dunia surealis dan peristiwa tragis.

  • Oka Rusmini - Tarian Bumi

Untuk penggemar sastra-budaya Bali dan perempuan, buku ini sangat rekomendasi dan menarik. Buku ini menampilkan fenomena sekaligus kontroversi.

Novel ini dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih sangat feodal. Dalam konteks adat istiadat Bali, Tarian Bumi dipandang sebagai sebuah pemberontakan kepada adat (Tempo, 9 Mei 2004). Bisa dicek sinopsisnya melalui web berikut: Tarian Bumi

  • Ahmad Tohari - Ronggeng Dukuh Paruk

Buku ini sebenarnya terbagi menjadi 3 serial. Seri 1: Jantera Bianglala, Seri 2: Lintang Kemukus Dini Hari, dan Seri 3: Ronggeng Dukuh Paruk.

Ronggeng Dukuh Paruk pada intinya menceritakan tentang kisah cinta antara Srintil, seorang penari ronggeng dan Rasus, teman sejak kecil Srintil yang berprofesi sebagai tentara.

Ronggeng Dukuh Paruk mengangkat latar Dukuh Paruk, desa kecil yang dirundung kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan. Latar waktu yang diangkat dalam novel ini adalah tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.

Bisa dicek sinopsisnya melalui web berikut: Ronggeng Dukuh Paruk

, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala

.

  • Ahmad Tohari - Belantik

Belantik merupakan buku ke-2 dari Bekisar Merah. Jadi sebelum membaca ini, membaca Bekisar Merah dulu. Mau langsung membaca Belantik pun tak masalah.

Bekisar adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Lasi adalah anak desa berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas—kulit putih, mata eksotis—membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tidak disadari olehnya.

Bisa dicek sinopsisnya melalui web berikut: Belantik

.

  • Pramoedya Ananta Toer - Bumi Manusia

Buku ini mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Lebihnya bisa dicek di sini: Bumi Manusia

.

  • Butet Manurung - Sokola Rimba

Buku ini merupakan catatan dari seorang petualang dan pengabdi lingkungan yang disajikan secara ’apa adanya’, nyata, hidup, penuh dengan pengalaman langsung tangan pertama.

Lewat proses pengalaman langsung ini, Butet tidak saja berhasil mendidik Orang Rimba, tapi juga belajar dari dan diajari oleh Orang Rimba tentang cara pandang, budaya, perilaku dan kehidupan Orang Rimba dengan segala kekayaannya.

Lebihnya bisa dicek di sini: Sokola Rimba

.

————————

Dll. Sebenarnya banyak buku-buku menarik untuk direkomendasikan, tapi sekiranya itu saja yang saya jabarkan. Barangkali tertarik untuk menjadikan list bacaan.

Apakah perbedaannya antara menjadi orang pandai dan orang bijaksana?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Orang pandai belum tentu bijaksana, tapi orang bijaksana tidak bodoh.

Orang yang pandai bisa saja ceroboh dan tidak tahu adab terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebab orang pandai yang tidak bijaksana hanya mengandalkan intelektualnya saja sebagai pegangan diri. Ia bisa saja menjadi sombong karena kepandaiannya yang ia banggakan dan mementingkan diri sendiri.

Tetapi orang yang bijaksana adalah orang yang menggunakan akal budinya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan. Ia mempelajari sesuatu bukan hanya sekadar tahu, tapi juga ia pahami dan diaplikasikan/riset dalam kehidupan. Menurut saya orang yang bijaksana adalah orang yang cermat dan teliti dalam menghadapi/menyikapi sesuatu. Orang yang bijaksana tidak mungkin menelantarkan orang-orang yang membutuhkannya.

Mungkin beberapa orang bijaksana tidak sepandai orang yang “sangat pandai”, tapi menurut saya orang yang “bijaksana” lebih bernilai dan bermanfaat ada di bumi.

Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bertubuh tinggi?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Terakhir ngukur tinggi saya 170 cm. Tapi kayaknya nambah sesenti/dua senti deh, soalnya rok SMA saya sekarang saat kuliah sudah agak cingkrang kalau dipakai. Wkwk. Berat saya terlalu langsing, jadi tak perlu diperjelas. Rasanya jadi orang tinggi apalagi saya seorang perempuan adalah sebagai berikut:

………

  • Setiap ketemu orang baru pasti dikata/ditanya begini: “Tingginya berapa Mbak?”, “Keluarga kamu tinggi-tinggi ya?”, “Kok kuliah jurusan keguruan, kenapa nggak jadi pramugari saja?”, “Dulu anggota paskibra ya?”, “Tadi waktu duduk pendek, kok setelah berdiri jadi panjang”, yang paling konyol adalah pertanyaan: “Kok bisa tinggi? Makan apa?”

Jujur saja, di keluarga justru saya malah paling tinggi. Di kalangan saudara saya ada juga yang tingginya sama seperti saya, tapi laki-laki dan itu cuma 2 orang. Kayaknya bukan karena gen, meskipun kata bapak saya dulu ayah dari ayahnya ibu saya tinggi. Saya merasa bahwa saya tinggi karena sejak kecil kelas 3 SD dst itu saya rutin berenang. Jadi mungkin overdosis berenang jadilah melar ke atas begini. Badan yang dulu sebelum renang gemuk banget, langsung menciut seketika jadi langsing banget kayak kerangka manusia yang ada di laboratorium IPA (ya enggak gitu-gitu banget deng, masih berisi kok).

Saya nggak ngerti sama paradigma orang. Menurut saya kan ya nggak harus gitu orang yang bertubuh tinggi terus kuliahnya di sekolah pramugari atau jadi model. Terus kalau orang gemuk kuliahnya harus di Tata Boga jadi Chef gitu? Sungguh absurd. Saya justru malah ingin kuliah seni/sastra murni saja. Tapi oleh orang tua dilarang karena anggapan-anggapan yang begitulah dan diharuskan kuliah keguruan hanya gara-gara ayah saya seorang guru. Lanjut.

Soal paskibra. Justru saat penunjukan paskibraka di SMA, saya tidak terpilih. Malah teman saya satunya lagi yang tingginya 169 yang dipilih. Mungkin karena berat badan. Biarlah. Saya juga sebenarnya tidak tertarik menjadi paskibra. Saya tertarik ikut organisasi lain pada masa itu.

Soal kok bisa tinggi makan apa? Ya makan nasi, dipikir saya makan monas apa. Absurd.

  • Susahnya jadi perempuan tinggi juga kalau mau cari gamis/rok susahnya kayak cari kutu di padang pasir. Ga ketemu! Jadi, rok dan gamis saya kebanyakan jahit sendiri. Untungnya baju nggak congklang di lengan sih, tapi kalau beli batik jadi itu pasti congklang banget meskipun ukurannya udah L. Ya kalik XL, badan udah kayak triplek pake XL ntar dikira ondel-ondel diet.
  • Ketika nggak sadar atap warung/sebuah pintu masuk ternyata pendek, otomatis tuh… biasalah urusan kepala. Mending kalau kejedutnya pelan, nah kalau kenceng ya otomatis disko nih kepala.
  • Di kelas kalau mahasiswa mau presentasi, biasanya saya yang suruh mencetin tombol LCD kalau tombol otomatisnya eror. Sekalian saja ya tiap kelas saya datengin terus tanyain “mana yang LCD-nya eror, biar saya pencetin dari atas”. Absurd.
  • Enaknya kalau mau ngambil barang-barang di tempat tinggi jadi nggak susah.
  • Kalau foto bersama pasti dapat posisi foto paling belakang, pojok. Otomatis. Sampai pernah udah pose-pose dengan cakepnya di belakang-pojok, pas sampai rumah fotonya di share di grup, wujudku doang yang nggak kefoto. Ngenes cuy, asli. Kalau nggak dapat posisi itu berarti pas lagi beruntung saja.
  • Saya kan kuliah jurusan bahasa nih. Anak bahasa biasanya kalau acara-acara ditempatin jadi MC/moderator, nah saya jadi dirigen karena selain “tinggi” juga yang bisa mandu. Tapi kalau soal bisa mandu, sebenarnya anak lain juga bisa, tapi karena saya “tinggi” jadilah saya yang mandu. Kalau acara keagamaan beda lagi, tapi tetap bukan MC/moderator.
  • Kalau iklan susu Zee bilang, “Tumbuh itu ke atas, ga ke samping”, saya malah ngarep ada iklan yang bilang, “Tumbuh itu ke samping nggak ke atas”. Udah cukup segini saja tingginya.
  • Laki-laki banyak yang minder sama saya cuma gara-gara tingginya kalah dengan saya. Awalnya saya merasa putus asa seperti, “Cari pasangan yang sama tinggi/lebih tinggi saja ga gampang, eh yang pendek malah minder. Padahal yang lebih pendek malah orangnya lebih membuat nyaman. Gimana mau dapat jodoh kalau begini.”—tapi setelah tahu kabar pernikahan Baim Wong dan Paula, saya nggak jadi putus asa. Wkwkwk.
  • Ada juga omongan orang yang pingin tinggi kayak saya, tapi omongannya bikin males jawab kayak gini: “Bagi-bagi tinggi dong….” Ya… terus saya harus jawab apa gitu loh. Secara logika yang namanya bagi-bagi tinggi ya nggak bisa. Absurd. Kalau mau tinggi ya kan usaha saja. Basket kek, renang kek, lompat-lompat tengah malam pakai daster di depan rumah kek. Apalah terserah lo. Absurd.
  • Jadi tinggi “mudah diingat orang” karena cenderung beda sendiri ciri-cirinya. Bukan cuma ingat orangnya yang mana, tapi kadang juga namanya/daerah asalnya juga paling diinget. Mau tanya tukang parkir, penjaga perpus, murid magang saya, kepsek/guru-guru tempat magang saya, dll. Pasti inget deh, asli. Wkwkwk.
  • Kalau berdiri bersama sekumpulan orang banyak nggak ketutupan-ketutupan amat. Masih bisa lah curi-curi pandang cari gebetan. Wkwkwk.

………

Sekiranya itu sih susah-senang jadi tinggi. Karena takdirnya tinggi ya sudah syukuri saja. Kalau yang pendek ingin tinggi, yang sedang ingin pendek/tinggi, yang tinggi ingin pendek gitu-gitu terus diulang keluhan-keluhannya nggak akan selesai-selesai. Kalau siap dengan posisi itu ya silakan berusaha untuk menjadi yang diinginkan.

Seringkali manusia banyak ingin. “Termasuk ingin dirinya dianggap berbeda". Tp ketika sudah diletakkan pada posisi yang diinginkan malah banyak mengeluhnya. Jadi kesimpulannya, saya merasa biasa-biasa saja dengan tinggi saya dan saya bersyukur. :)

Seperti apa gambar yang kamu buat dengan tanganmu sendiri?

Dijawab oleh: Dina Nurw

 

Sejauh ini menggambar bagi saya hanyalah sebuah keisengan yang hakiki. Saya cenderung menggambar dengan detail-detail yang kata teman saya rumit dan absurd, tapi kata saya biasa saja perasaan. Namun ketika saya menggambar ini rasanya sungguh nikmat dan mewakili segala isi kepala saya yang pemikir.

Berikut “beberapa” gambar yang biasa saja perasaan menurut saya: (Haricahayabulan adalah nama pena saya).

Karena dikata absurd berkali-kali, saya mencoba menggambar sesuatu yang baru dan lebih layak sedikit. Gambar berikut ini terinspirasi oleh Pinterest. Tapi ternyata nggak bisa mirip, maka sengaja saya ubah:

Lalu teman-teman saya bertanya, apakah saya bisa menggambar sketsa wajah? Nah, sebenarnya saya tidak yakin saya bisa. Karena saya cuma tahu teknik menggambar wajah, tapi saya tidak mempelajari teknik arsiran. Karena saya suka iseng, maka saya ngawur. Jadilah sketsanya seperti ini:

Suatu ketika saya tertarik dengan gambar ilustrasi digital. Saya sebenarnya tidak tahu cara mengatur layer, tapi saya mencoba cari tahu di Youtube. Saya juga sebenarnya tidak bisa mengkomposisikan warna dengan baik, maka saya kembali ngawur:

Udah, ah. Itu saja kira-kira beberapa gambar iseng saya. Sekian….

Postingan apa yang membuatmu mendadak bersedih?

Dijawab oleh: Dina Nurw

 

Postingan saya sendiri di Instagram. Maaf, bukan bermaksud narsis. Tapi bagi saya foto ini memiliki kenangan yang membuat saya bersedih setiap melihatnya. Kenapa?

Itu foto di hari terakhir saya mengajar tahsin (perbaikan bacaan Alquran) kepada ibu-ibu di tempat saya melaksanakan KKN. Sebenarnya masih ada banyak ibu-ibunya, tapi di hari terakhir itu ibu-ibu yang lain berhalangan hadir karena ada yang sakit dan keperluan lainnya.

Saya mengajar tahsin kepada mereka di sana dengan metode yang diajarkan di salah satu ponpes tahfidz yang ada di Yogyakarta tempat saya belajar. Yang membuat saya bersedih adalah harapan-harapan mereka untuk bisa mengaji begitu antusias, namun tidak ada pengajar rutin yang memberikan ilmu tersebut di desanya. Sementara saya bukan orang sana dan saya selalu rindu momen tersebut.

Dulu saya berencana mengadakan pengajaran tahsin satu minggu dua kali. Tapi melihat semangat mereka yang begitu ingin untuk dapat membaca dan dekat dengan Alquran membuat hati saya tersentuh. Maka saya mengadakan itu semau mereka ingin belajar kapanpun saya siap.

Saya memberi mereka fotocopy-an berupa huruf-huruf hijaiyah, tanda-tanda pembacaannya, dan nama-nama pelafazannya agar memudahkan mereka dalam mengingat, mencatat, dan belajar membacanya dari dasar.

Saya tidak menyangka bahwa ternyata orang-orang di desa pelosok masih minim sekali edukasi tentang belajar membaca Alquran. Di desa tempat saya KKN justru tidak ada edukasi tersebut. Bahkan usia yang sudah tua pun ibu-ibu di sana ada yang buta huruf arab, tapi mereka memiliki antusias yang tinggi untuk mau belajar Alquran tanpa malu-malu.

Satu hal yang membuat saya ingin menangis haru ketika ibu berkerudung biru tua yang ada di foto saya itu sampai menangis sambil berkata bahwa kalau tidak ada yang mengajarkan mereka mengaji lagi, lalu bagaimana mereka bisa lancar membacanya dan bekal untuk di akhirat nanti? Bahkan ada juga yang bilang bahwa ingin sekali dekat dengan Alquran sebagai penyelamat dan penerang mereka di alam barzah dan akhirat kelak.

Aduh, nggak ngerti lagi deh, nano-nano rasanya ingat itu semua. Ketika anak-anak muda masih banyak yang "bangga" dengan hidup glamour, foya-foya, dan bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana kematian mereka kelak, itu menampar diri saya sendiri juga sebagai anak muda yang banyak dosa. Baper saya.

Intinya saya mendapatkan pembelajaran dari cerita ibu-ibu di sana bahwa "Kalau hidup hanya untuk bermain-main, ingatlah bahwa kematian tidak menunda tanggal main". Maka belajarlah dari sekarang untuk mentafakuri bekal apa yang sudah kita siapkan di akhirat kelak, selalu senantiasa bermuhasabah diri dan memperbaiki diri. Usia muda atau tua tak ada yang tahu kapan kamu akan dipanggil Tuhan. Maka bersiaplah untuk selalu mendekatkan diri pada hal-hal baik dan juga kepada Tuhanmu.

Sekian. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita bersama. :)

Bagaimana caramu menambah pemasukan ketika masih kuliah?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Orang tua saya "melarang keras" diri ini untuk tidak bekerja part time sebagai pemasukan tambahan atau tabungan selama kuliah. Sebab orang tua saya merasa mampu memenuhi semua permintaan saya. Disisi lain, saya hobi sekali menabung sejak SD. Jadi, rasanya ada yang kurang gitu kalau dalam hidup saya tidak menabung. Lantas bagaimana saya menambah pemasukan untuk sekadar ditabung?

Saya mencoba keluar dari zona nyaman. Saya mengikuti organisasi untuk mengembangkan diri. Saya mencoba berdiskusi dan belajar dari senior-senior saya. Saya melakukan itu agar saya bisa menjadi diri saya yang lebih baik daripada sebelumnya dan melatih kepercayaan diri saya dalam bersosialisasi.

Karena sebenarnya saya seorang yang sangat pemalu dan gampang panic attack jika harus berbicara di depan khalayak umum. Saya juga tipikal orang yang tidak bisa berbicara spontan. Ambyar semua deh pokoknya. Dalam organisasi saya belajar banyak. Sehingga saya bisa berkembang sekaligus mendapatkan pengalaman dan ilmu.

Saya mengikuti lomba menulis sejak semester 1. Awalnya saya ikut lomba tersebut karena didaftarkan teman saya untuk mewakili kelas. Karena tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan tidak mengerjakan, ya saya mengerjakan saja. Lomba menulis yang pertama kali saya lakukan adalah lomba Karya Tulis Ilmiah.

Disitu saya tidak pernah menyangka kalau saya mendapatkan juara 3. Saya satu-satunya mahasiswa baru yang mendapatkan juara KTI. Karena juara 1 dan 2-nya senior. Bahkan saya mendapatkan penawaran dari dosen prodi untuk mengerjakan karya ilmiah prodi dan diberi uang saku yang bisa digunakan untuk membeli 1 ponsel android.

Saya tidak menyangka karena seumur hidup label "bodoh" selalu dilontarkan teman-teman yang suka mem-bully saya dan orang tua saya. Dari hal tersebut saya meyakinkan diri bahwa saya mampu melampaui orang-orang yang menghujat saya dengan terus mengembangkan diri secara diam-diam tapi pasti.

Saya terus berusaha mengikuti lomba menulis apapun yang saya tahu infonya sekaligus mengoleksi prestasi hahay. Bukan hanya KTI yang saya tulis, tapi juga esai, cerpen, cerita mini, dan puisi. Alhamdulillah, setiap tahun saya kuliah, saya mendapatkan juara menulis dan mendapatkan uang saku tambahan dari kejuaraan-kejuaraan menulis tersebut. Selain itu, karena saya ikut organisasi, saya juga mengais rezeki dari panggilan adik tingkat untuk mengisi materi di acara ospek.

Begitulah cara saya menambah pemasukan sekaligus mengais prestasi. Semoga menginspirasi. :)

  Apa percakapan yang tidak sengaja kamu dengar yang membuatmu sedih?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Singkat saja. Suatu ketika saat saya dan teman-teman saya nongkrong bersama. Seorang teman perempuan saya bercerita tentang mantan pacarnya yang tertutup dan suka melukai dirinya sendiri. Mantannya itu masih mencintai dia, begitu mempercayai dia sebagai orang paling dekat yang mau mendengarnya, tapi dia memutuskan hubungan hanya karena mantan pacarnya ini melakukan self-harming dan anggapannya terlalu apa-apa larinya ke dia. Kata teman saya itu begini:

"Ya aku takut lah dia kalau ada apa-apa ceritanya ke aku, nggak mau sama yang lain. Nanti kalau aku nggak bisa nolongin, dia macem-macem gimana? Dia ngelukain dirinya sendiri aja berani, gimana kalau pas kalap dia ngelukain itu ke aku. Dia kayak gitu udah dari SMA."

Lalu teman saya berbondong-bondong mengiyakan, kecuali saya yang hanya diam. Padahal mantan pacarnya tidak pernah melukai dia secara fisik maupun verbal. Hanya karena setelah dia tahu mantan pacarnya melukai dirinya sendiri dan enggan menampung ceritanya lagi, lalu ia memutuskan dan menjauhi. Salah satu teman saya yang lain menjawab:

"Bener! Jangan mau digituin. Bener kamu, diputusin aja. Orang yang ngelukain dirinya gitu bisa aja loh mempengaruhi kita untuk melakukan hal yang sama. Jangan dideketin orang kayak gitu."

Lagi-lagi semua anak yang ada di situ mendukung teman perempuan saya ini dan pernyataan teman saya di atas, kecuali saya yang masih diam menonton mereka bicara. Sungguh menyedihkan ketika saya sangat sadar bahwa mantan pacarnya ini melakukan tindakan yang sama seperti saya.

Tindakan yang kata teman-teman saya manusia seperti itu mesti dijauhi. Gimana mau curhat, belum curhat aja anggapan miring sudah dipukul rata. Entah apa respon mereka kalau tahu saya melakukan hal yang sama. Pada saat itu tindakan saya masih mania, tapi sekarang sudah cukup dapat dikendalikan.

Biar saya jelaskan: Saya tidak meminta belas kasihan dengan saya bercerita seperti ini. Saya hanya merasa sedih dan miris dengan anggapan miring teman-teman saya yang kok terlalu mudah menghakimi "orang-orang yang melakukan self-harming". Meski saya tahu ini tindakan yang salah, tapi tindakan ini terkadang berlangsung di luar kendali kepada diri sendiri. Bukan ke orang lain.

Saya sudah sempat memberi masukan ke teman-teman saya untuk tidak menghakimi orang dengan kondisi seperti itu disertakan alasan-alasan yang mendukung masukan saya, lalu meminta teman saya untuk mempertimbangkan keputusannya, setidaknya tetap menjadi teman dia. Tapi saya kalah suara. Teman saya tetap memilih menjauh.

Miris sekali ketika "orang-orang yang bernasib demikan" selalu dianggap miring. Bahkan hanya sekadar menjadi tempat mendengar pun enggan. Peduli apa lagi. Sekian.

Apa kejadian yang mengejutkanmu hari ini?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Sebuah penerbit indie, yaitu Ellunar Publisher, tengah mengadakan lomba menulis quote, puisi, dan novel. Saya sudah begitu sering megikuti lomba-lomba yang diadakan Ellunar dan saya selalu masuk ke dalam penulis terpilih. Belum lama ini Ellunar membuka lomba menulis lagi, lantas saya iseng-iseng mengikuti lomba quote saja.

Saya pikir saat itu menge-share situs lomba di facebook tidak masalah, jadi saya share saja di facebook guna memenuhi syarat lomba. Karena saat itu saya lagi mager-magernya membuat tulisan dikala saya sedang opname, jadi saya hanya mengikuti satu lomba saja, yaitu quote. Saya memilah-milah quotes lama mana yang kiranya menurut saya menarik dan memberi arti.

Sampailah saya mengirim 1 quote yang sudah saya tentukan. Beberapa hari kemudian, saya tanya pada pihak Ellunar bahwa saya share di facebook dan men-tag facebook Ellunar. Saya pikir tulisan saya sudah masuk. Sampai tanggal penutupan lomba saya baru tahu kalau hanya boleh menge-share lomba itu lewat Instagram. Oleh karena hal itu ya sudah saya cuek. Saya pikir quote saya tidak diterima.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman lomba Ellunar tersebut terpampang paling depan di beranda Instagram saya. Saya kepo-kepo saja baca nama-nama yang mendapat juara, menjadi 10 besar penulis terpilih dan 50 penulis terpilih.

Saat saya men-scroll slide demi slide. Saya kaget tiba-tiba ada nama saya dong di bagian slide ke-3. Disitu tertera 10 penulis terpilih quote dari 832 peserta. Seumur-umur saya ikut lomba di medsos, saya tidak pernah masuk sepuluh besar. Paling hanya sebagai penulis terpilih biasa dari berpuluh-puluh orang yang kemudian karya-karya tersebut dibukukan. Namun beda jika saya lomba di dunia nyata. Saya pernah masuk 10 besar dan 5 besar. Kemudian lihat foto di bawah ini, Nama saya berada di nomor 4.

Bonus quote saya yang lolos 10 besar. Semoga bisa jadi renungan:

"Jangan hanya lurus melihat sudut pandang hidup, nanti tahunya hanya satu arah saja. Jangan terlalu mudah percaya apa kata orang, nanti tahunya hanya karena 'katanya'. Kita hidup mesti punya ilmu pengetahuan dan prinsip, tapi bukan berarti menutup diri dari pendapat dan pengalaman orang lain."

Apakah ustaz Dhanu benar-benar bisa menyembuhkan penyakit?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Jadi gini… saya pernah berobat ke beliau sewaktu saya masih kelas X SMA. Sejak SMP saya mengalami gejala gangguan mental. Karena pengobatan yang beragam tidak berhasil pada saya, maka Ustad Danu pilihan ayah saya saat SMA. Padahal harusnya saya dibawa ke psikolog.

Biasanya sebelum bertemu dengan ustad, kami sekeluarga disuruh memotret rumah, sela-sela atap rumah, dan lain-lain. Foto tersbut diminta ustad untuk dibawa saat bertemu nanti.

Nah, sampailah waktu di mana saya dan keluarga ayah-ibu datang ke ruang periksa. Saya duduk ditengah kedua orang tua saya dan ustad Danu di depan saya.

Tulisan ini tidak bermaksud membenarkan atau menyalahkan beliau/menyudutkan atau menghakimi beliau. Ambil saja yang baik, buang yang buruk, dan telaah yang meragu. Karena di sini posisi saya bercerita sebagai pasien.

Buat saya pribadi sebagai "pasien" beliau yaitu, tidak merasakan pengaruh apa-apa. Jujur, pengalaman ini membuat saya bingung sampai sekarang. Saya hanya diminta untuk tidak berprasangka buruk kepada Ibu saya. Saya yang pasien, tapi yang diobati malah ayah saya. Kata beliau, ada jin yang menempel pada ayah saya. Oleh karenanya Ustad Danu mengeluarkannya. Sempat ditanya kepada ayah saya, "Bagaimana perasaannya? sudah lega? Ada sesuatu yang bergerak nggak tadi waktu saya doa?" Ayah saya mengangguk dan berkata seperti ada yang keluar melalui nadi tangan ayah saya. Saya cuma dikasih omongan doang dan obat kapsul herbal yang harus diminum rutin sampai habis dan tidak boleh putus.

Saya sudah melakukan apa yang diperintahkan sampai obat habis, tapi tidak membawa pengaruh apa-apa pada diri saya. Tak kalah aneh, orang tua saya malah mau membawa saya ke ustad yang cara prakteknya dengan kertas bertuliskan surah apa entah. Kemudian digulung dan dibakar, lalu saya disuruh minum air itu. Ya saya ogah lah! Nggak masuk akal babar blas. Gangguan masih ada dan tidak tahu apa akibatnya? Saya yang disemprot amarah, dimaki, nyusahin orang tua, tidak bisa mengendalikan diri dengan kata-kata "Masak kayak gitu aja ga bisa! Seminggu harus udah sembuh!", Dll. Dipikir sakit flu apa seminggu sembuh.

Membuat orang tua saya yang tertutup pikirannya akan psikologi membuat saya sulit menjelaskan. Karena kebanyakan orang menganggap bahwa orang yang dibawa psikolog atau psikiater adalah orang gila. Orang tua saya melihat saya seolah baik-baik saja, padahal hati ini menanggung beban batin yang berat sejak pengalaman menjadi korban bullying verbal di SD, juga mendapat kekeraan fisik dan verbal di lingkungan keluarga.

Sungguh itu tidak mudah untuk menjadikannya sembuh dari trauma tersebut. Apalagi orang tua saya selalu melarang saya untuk mengeluarkan emosi seperti menangis. Padahal itu salah satu cara agar menjadi lega. Tapi saya selalu diajarkan untuk menahan feeling apa yang saya rasakan.

Jadi pada intinya, pengobatan saya di Ustad Danu tidak berpengaruh apa-apa. Saya tetap merasa harus dibawa ke psikolog pada masa itu. Pengobatan Ustad Danu hanya berpengaruh kepada ayah saya yang jinnya sudah tidak menempel ke ayah saya lagi.