Jadi
gini… saya pernah berobat ke beliau sewaktu saya masih kelas X SMA.
Sejak SMP saya mengalami gejala gangguan mental. Karena pengobatan yang
beragam tidak berhasil pada saya, maka Ustad Danu pilihan ayah saya saat
SMA. Padahal harusnya saya dibawa ke psikolog.
Biasanya
sebelum bertemu dengan ustad, kami sekeluarga disuruh memotret rumah,
sela-sela atap rumah, dan lain-lain. Foto tersbut diminta ustad untuk
dibawa saat bertemu nanti.
Nah,
sampailah waktu di mana saya dan keluarga ayah-ibu datang ke ruang
periksa. Saya duduk ditengah kedua orang tua saya dan ustad Danu di
depan saya.
Tulisan
ini tidak bermaksud membenarkan atau menyalahkan beliau/menyudutkan
atau menghakimi beliau. Ambil saja yang baik, buang yang buruk, dan
telaah yang meragu. Karena di sini posisi saya bercerita sebagai pasien.
Buat
saya pribadi sebagai "pasien" beliau yaitu, tidak merasakan pengaruh
apa-apa. Jujur, pengalaman ini membuat saya bingung sampai sekarang.
Saya hanya diminta untuk tidak berprasangka buruk kepada Ibu saya. Saya
yang pasien, tapi yang diobati malah ayah saya. Kata beliau, ada jin
yang menempel pada ayah saya. Oleh karenanya Ustad Danu mengeluarkannya.
Sempat ditanya kepada ayah saya, "Bagaimana perasaannya? sudah lega?
Ada sesuatu yang bergerak nggak tadi waktu saya doa?" Ayah saya
mengangguk dan berkata seperti ada yang keluar melalui nadi tangan ayah
saya. Saya cuma dikasih omongan doang dan obat kapsul herbal yang harus
diminum rutin sampai habis dan tidak boleh putus.
Saya
sudah melakukan apa yang diperintahkan sampai obat habis, tapi tidak
membawa pengaruh apa-apa pada diri saya. Tak kalah aneh, orang tua saya
malah mau membawa saya ke ustad yang cara prakteknya dengan kertas
bertuliskan surah apa entah. Kemudian digulung dan dibakar, lalu saya
disuruh minum air itu. Ya saya ogah lah! Nggak masuk akal babar blas.
Gangguan masih ada dan tidak tahu apa akibatnya? Saya yang disemprot
amarah, dimaki, nyusahin orang tua, tidak bisa mengendalikan diri dengan
kata-kata "Masak kayak gitu aja ga bisa! Seminggu harus udah sembuh!",
Dll. Dipikir sakit flu apa seminggu sembuh.
Membuat
orang tua saya yang tertutup pikirannya akan psikologi membuat saya
sulit menjelaskan. Karena kebanyakan orang menganggap bahwa orang yang
dibawa psikolog atau psikiater adalah orang gila. Orang tua saya melihat
saya seolah baik-baik saja, padahal hati ini menanggung beban batin
yang berat sejak pengalaman menjadi korban bullying verbal di SD, juga mendapat kekeraan fisik dan verbal di lingkungan keluarga.
Sungguh
itu tidak mudah untuk menjadikannya sembuh dari trauma tersebut.
Apalagi orang tua saya selalu melarang saya untuk mengeluarkan emosi
seperti menangis. Padahal itu salah satu cara agar menjadi lega. Tapi
saya selalu diajarkan untuk menahan feeling apa yang saya rasakan.
Jadi
pada intinya, pengobatan saya di Ustad Danu tidak berpengaruh apa-apa.
Saya tetap merasa harus dibawa ke psikolog pada masa itu. Pengobatan
Ustad Danu hanya berpengaruh kepada ayah saya yang jinnya sudah tidak
menempel ke ayah saya lagi.