Belum tentu, tapi bisa terjadi.
Tergantung bagaimana kehendak Allah swt. Saya ingin menceritakan
pengalaman tentang sahabat saya yang mengalami "nasib baik" karena ini.
Terkadang
sebagian orang dalam berdoa kepada Allah tidak memperhatikan esensi
yang dibutuhkan sebenarnya. Lantas terkesan memaksakan berdoa seperti
misal:
"Ya Allah, izinkanlah saya berjodoh dengan Z*(menyebutkan nama), (lalu diutarakan unek-uneknya karena dia ini dan itu)."
Sebenarnya
kita ini tahu bahwa Allah tentu maha mengetahui segala, termasuk
seseorang yang kau ingin dia menikah denganmu. Tapi apakah "dia" ini
baik untukmu? Kenapa kamu bisa seyakin itu?
Yang
perlu kita garis bawahi adalah apa yang baik menurut kita, belum tentu
baik menurut Allah. Tapi tetaplah berprasangka baik, sebab Allah lebih
tahu segala hal dalam hidupmu ke depannya.
Jadi
apasih esensi utama yang kita butuhkan? Bukankah pada intinya kita
membutuhkan pasangan yang "dalam pandangan kita" dia mampu menerima dan
mengerti kita, memiliki cukup ilmu dalam hal berkeluarga dan hidup,
baik, dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Maka ciri-ciri itulah yang
mestinya kita ucapkan dalam doa. Perkara siapa orangnya, itu Allah sudah
tahu kok.
Saya
tahu kita mesti ikhtiar dan optimis, tapi coba pikirkan, pahami, apakah
niat menikah kita sudah benar menyempurnakan agama atau hanya sekadar
nafsu ingin memilikinya saja, maka kamu berpikir bahwa "harus" dia
orangnya.
Saya
singkronkan dengan cerita nyata sahabat saya. Btw sahabat saya cewek,
sebut saja dia A. Lalu pasangannya B. Silakan disimak:
A
dan B ini tinggal di kota yang sama. Mereka pernah satu kelas di SMP.
Mereka teman biasa. Sungguh biasa, tidak lebih. Hanya saja A sempat suka
dengan B, tapi tidak diutarakan sampai perasaan itu tidak dibuat
berlarut-larut olehnya lagi dan dianggapnya ya udah. Berteman saja.
Lulus
SMP tidak membuat A dan B tidak berjumpa lagi. Seperti pada umumnya
kita tahu meskipun sudah lulus, tapi ada reuni kelas. Biasanya memang
tidak semua mau berkumpul lagi, dan semakin ke depan semakin berkurang.
Tapi A dan B setiap ada reuni pasti datang dan tentu saja bertemu.
A
tidak pernah berekspetasi kalau B akan terus bertemu dengannya dalam
setiap reuni. A hanya bertujuan karena sahabat-sahabatnya juga ikut. Dan
sebenarnya begitu pula dengan B. Sampai A kuliah pun mereka masih
selalu bertemu teman-teman lamanya dalam setiap reuni. Btw si B tidak
mampu melanjutkan kuliah, jadi dia sudah bekerja dengan bisnis dagang
khas daerahnya sendiri.
Setiap
pulang kampung, A ini selalu membawa makanan khas kotanya yang dibeli
di dagangan si B, lalu dibagi-bagi ke teman-teman kelas yang dia kenal
baik. Ya memang sedermawan itu orangnya, padahal saya tahu dia bukan
orang yang tingkat ekonominya tinggi, tapi suka sekali bagi-bagi makanan
sebanyak itu kayak nggak ada beban buat dia. Padahal itu kan dia juga
beli.
Saya
yang sering main kosannya. Main untuk cerita, nginep juga beberapa
kali, mengutarakan unek-unek tentang oleh-oleh khas kotanya yang dia
suguhkan untuk saya bahwa makanan itu masuk list favorit saya, dll.
Barulah dia cerita kalau makanan ini dia beli dari temannya si B. Sebab
rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi si A ini ya kalau beli oleh-oleh
pasti di B. A langganan beli di B bukan karena dia suka orangnya, tapi
emang karena makanan yang dibuat enak, laris manis. Saat itu dia belum
bilang ke saya kalau dia pernah suka B.
Karena
posisi saat itu pun dia sedang dekat dengan senior di prodi kami yang
mana senior itu berencana menikahi A dan si A ini rencananya mau
mengiyakan, tapi dia bilang ke si S (senior) ini untuk nanti sambil
lihat kondisi alias masih ragu-ragu. Karena dia ada urusan dengan
keluarganya yang hendak naik haji dulu.
A
hanya sangat terbuka tentang laki-laki dengan saya saja. Kita sedeket
itulah sampai saya sering diajak nginep di kosannya karena kesepian
teman kosnya ga terlalu seru. Kalau tentang si B yang tahu cuma saya.
Tapi kalau tentang si S memang bukan cuma saya yang tahu karena S ini
mempublikasi kedekatan mereka ke anak-anak prodi angkatan kami. S punya
banyak kenalan cewek di angkatan saya dan ya sering nampak lah mukanya.
Bahkan beberapa kali juga sekelas dengan saya. Saya juga tahu dan pernah
satu kegiatan saat Ramadhan organisasi saya. Dia orang luar organisasi.
Tapi saya tidak berniat kenalan karena orangnya kelihatan ga jelas gitu
selama berkegiatan, jadi males.
Saya
tidak bilang A sih kalau saya sebenarnya dari awal ragu-ragu A dekat
dengan S ini sampai berencana ke jenjang pernikahan. Saya hanya menjaga
perasaannya yang sudah kelihatan bahagia sekali. Nanti dikiranya saya
malah negatif thinking. Lagian kan saya juga ga kenal sama S. Cuma sekadar memperhatikan sikapnya saja.
A
cerita banyak tentang sejarah hidup S yang diceritakan kepadanya. S
ternyata punya masa lalu yang tidak baik. Dia minum alkohol, main
wanita, kuliah berantakan, kegamaannya juga kurang, bolosan. Tapi
setelah keburukan itu dia ceritakan, dia langsung borongan menceritakan
kebaikan-kebaikan dirinya kepada A.
Seperti misal dia ikut kegiatan masjid (padahal saya tahu dia ga jelas ngapain), dia ikut organisasi Islam (maaf instansi disensor agar tidak menimbulkan paham-paham lain)
dia belajar Islam, politik, sejarah lalu dia menceritakan isu-isu yang A
sebenarnya tidak paham hanya seolah S ini berupaya membuat A terkesan
dengan wawasannya yang dia pikir luas.
Menurut
saya sih mempelajari Islam, Politik, Sejarah dalam waktu singkat itu
terlalu berat untuk orang yang baru ingin memperbaiki diri. Perkaranya
pemahaman dia kan masih awam, tidak memungkiri bisa dicuci otak oleh
orang lain yang berada di instansi tersebut. Kalau hanya sekadar membaca
buku untuk pengetahuan si tidak masalah, masalahnya ini dia belajar
dari siapa dan mengapa juga narik A untuk ikut pemahamannya si S dengan
tiba-tiba.
Untungnya
A tipikal orang kalau nggak paham suatu hal, ya dia nggak akan
ngikutin. Untungnya meskipun A ini polos, tapi dia pintar, IPK nya
tinggi, jadi masih bisa terkendali perkara ini. Cuma ya saya tentu tetap
kasih nasihat buat dia hati-hati apapun yang disampaikan.
Bukannya
saya ingin menjelekkan, tapi berhati-hati pada seseorang yang mengaku
dirinya dulu tidak baik, lalu tiba-tiba datang dengan menunjukkan segala
hal baik hanya lewat omongan saja, itu jatuhnya kayak memaksakan diri
agar terlihat luar biasa di mata A. Siapa yang tahu orang bisa
berbohong. Siapa yang tahu isi hati manusia kecuali Tuhannya.
Berhati-hati itu perlulah. Panjang lebar saya kasih nasihat peringatan
untuk berpikir, si A untungnya memikirkan dan mulai menyelidiki si S
lebih dalam.
Sebab
sebelumnya dia hanya sekadar langsung kagum dan fokus terpesona dengan
segala perlindungan baik S kepadanya. Bahkan S juga bilang ke A bahwa
yang membuat dia berubah drastis pandangan hidupnya saat melihat A.
Padahal A ga merasa ngapa-ngapain. Yang A sadari ya dia didekati dan
dibuat kagum. Banyak hal yang dilakukan S kepada A supaya terkesan dan
menyanjung-nyanjung.
Saya
jadi khawatir kalau S ini cuma memanfaatkan kepintaran A dari
kepolosannya dipikat lelaki. Orang pintar, IPK tinggi tidak selalu bisa
tegas dengan hidupnya. A yang saya kenal dari awal ini dia orang yang
sangat tidak tegaan dan dia suka memberi apapun ketika merasa orang ini
baik padanya. Ya memberi itu baik, tapi konteksnya apa dulu dong. Ini
yang jadi masalah kepolosannya.
S
selalu memaksa A untuk memasang foto mereka berdua di layar ponsel. S
selalu inginnya A melakukan ini-itu sesuai ingin S tanpa mau mendengar
dulu penjelasan A. A tidak boleh mudik sampai si S mengizinkan. A
dicarikan tempat kerja, A sudah diterima, tapi lagi-lagi itu beban buat
dia karena bukan maunya sendiri. S selalu chat
ke banyak teman perempuan buat curhat dan menjelek-jelekkan A kalau A
tidak dirasa mampu memenuhi kebutuhan si S. Dan masih banyak lagi yang
dilakukan S itu sungguh menekan A. S selalu memberi tuntuan, sementara A
tidak boleh berpendapat.
Bagaimana pendapat kalian tentang orang egois seperti itu dalam sebuah hubungan? Pantes nggak disebut bangsat? Belum nikah aja kaya gitu, apalagi kalau udah nikah. Hijrah nggak secepet itu bro.
Bangsat emang ni kaleng sarden.
Setelah
sekian lama menyelidiki, A mendatangi saya dengan muka yang gelisah dan
menceritakan suatu informasi buruk tentang S bahwa keraguan saya pada S
membuat A juga ikut ragu-ragu. Ini info A lacak sendiri loh ya. Bukan
saya. Sebenarnya bukan hanya karena info ini juga yang membut dia
langsung ragu-ragu. Ada banyak faktor.
- A yang sering istikharah tiap kali bingung ini berdoa diberi petunjuk apakah pilihannya benar/tidak.
- A memikirkan ulang sikap-sikap yang S berikan kepadanya dari awal sampai sekarang yang tiba-tiba itu.
- A mulai memperhatikan tingkah laku, gaya perkataan S kepadanya.
- S
sengaja memberi ruang A untuk dapat melihat isi chat WA nya dalam
memantau S apakah dia jujur dengan A atau tidak. A sampai diberi tahu
cara memantau isi chat S lewat laptop. Tapi A tidak pernah mengeceknya,
karena A sudah terlalu percaya dengannya.
- B
teman SMP-nya selalu masuk dalam mimpinya. Meskipun sebenarnya A tidak
berharap lebih pada B, tapi sebenarnya dia masih memendam rasa dengan B.
Perkara B yang seringkali muncul di mimpinya itu membuat dia
bertanya-tanya.
Mari kita kuak nomor 4:
Logikanya,
ngapain? Emang dengan ngasih tau begitu bisa ngebuat orang percaya
dengan mudah. Padahal A juga ga minta dan percaya-percaya aja. Ngapain
juga harus ditawari. Kan bego. Kenapa saya bilang bego? Buat A itu ga
perlu dan semakin ngeyakinin dia untuk makin yakin kalau S ga main-main.
Tapi buat saya itu bisa buat jadi alat memantau.
Setelah
selidik demi selidik, kebohongan S terbongkar juga. A sempat dikabari S
karena S hendak pergi ke luar kota dulu. Katanya mau mengembalikan
barang ke temennya. Ya A, iyain aja. Ngembalikan barangnya bener… tapi
dong… itu barang mantannya. Dia dan mantannya. S sempat ngobrol lagi dan
berusaha menyentuh mantannya, tapi mantannya suruh S cepet-cepet pulang
aja. Sebelum kembali pulang, S memeluk mantannya.
Mantannya (M) ini tanpa S tahu, dia nge-save nomor si A buat di-chat.
Buat ngasih tau A panjang lebar agar hati-hati sama S. M ini tahu kalau
S sudah punya pacar lagi dari cerita si S. Nah, disitulah tanpa S bego
sadari, M berhasil menyimpan nomor si A. Setelah si S balik, hari
berikutnya M menghubungi A perkara A. Semua unek-unek jijik, risih,
marah yang mantannya sembunyikan pada S itu dia curahkan ke A. Panjang
deh ceritanya. intinya gitu. Dan intinya kebongkar semua kebohongan S
dihadapan A. Baik lewat chat maupun telepon. Di sisi lain M ini tidak
bermaksud memutuskan hubungan A dengan S, tapi hanya sekadar
mengingatkan karena pengalamannya yang menjadi pacarnya dari titik nol,
sampai sekarang ini dia malah ditinggalkan dan tidak dihargai.
Setelah
ditelisik lebih daiam soal S ini, A semakin ragu untuk lanjut bersama S
yang egonya begitu tinggi. Bahkan untuk A ingin bertemu keluarganya
dulu di kampung halaman, S ngebantah. Bangsat emang. Dari situ fix, A memilih untuk memutuskan hubungan.
Jadi
kesimpulannya, posisi A saat ini adalah ragu-ragu dengan S yang ngotot
nikah dengan A, sementara di sisi lain A tidak paham kenapa sosok B
seringkali muncul dalam mimpinya. Akhirnya A memilih untuk istikharah.
dipertahankan atau dilepas. Sesering itu dia melakukan salat sunnah
istikharah ini. Semakin hari, semakin keraguan pada S memuncak, fiks,
temenku si A memilih putus setelah semua kebohongan S dapat
dibongkarnya. Nomor S juga diblokir. Tapi S tetap mengejar-ngejar A yang
sudah benar-benar ragu.
Pasca
wisuda sarjana, A sudah tidak respek lagi dengan S yang kerap kali
membohonginya dan menjelek-jelekkan dirinya kepada orang lain padahal
tidak begitu kenyataannya. A hanya korban. Dia anak yang baik,
sederhana, santun, nggak pecicilan.
Lalu, di bagian mana salat tahajudnya? Yang melakukan tahajud adalah si B.
Entah
sejak kapan B mulai memendam rasa dengan A, yang pasti ada 2 perempuan
yang ia bidik untuk menjadi istrinya kelak. Yang pertama teman saya A,
yang kedua entah siapa.
Saat
B tahu A ini seorang sarjana, sementara B hanya seorang pedagang
makanan biasa, sebenarnya dia pesimis. Semakin pesimis lagi ketika
melihat foto profil A bersama S di WA-nya. Tapi dalam hatinya masih
menginginkan. B ini menurut versi A yang dia ceritakan kepada saya
adalah orang yang sederhana, ibadahanya baik, dan begitu-begitulah.
Intinya
si B ini selain tahajud juga melakukan istikharah. Dalam tahajudnya ia
berdoa untuk diberi petunjuk dan kemantapan hati dalam memilih pasangan
yang baik buatnya dan baik ilmunya. Dalam istikharahnya ia berdoa untuk
diberi petunjuk tentang perempuan mana di antara dua yang dia pilih yang
baik untuknya dan yang dia butuhkan.
Jadilah, maka jadilah, B memantapkan hati untuk melamar A setelah tahu A kembali single. Ibaratnya
ya si B tidak mau menunda waktu lagi kalau-kalau A diambil orang. B pun
memberanikan diri untuk menyampaikan perasaannya untuk menuju
perlaminan. Bahkan bukan hanya itu, B lebih bisa menghargai dan
memuliakan wanita yang ingin dipinangnya. Dia masih menahan diri untuk
menjaga jarak dengan A selama proses akan melamar.
Kalau
dari cerita si A ke saya sih, petunjuk yang dia rasakan lebih sering
dalam mimpi, kemudian saat reuni pernikahan mereka selalu memakai baju
dengan warna yang sama, dan posisi yang sama juga (misal depan-belakang
atau pojok kanan-kiri). Semua itu murni tanpa rencana. Sadarnya juga pas
sampai rumah. Selain itu juga tidak ada keragu-raguan dalam hati A
tentang B. Begitu pun sebaliknya.
Tidak
ada perjuangan yang mudah untuk memiliki seseorang yang baik buatmu dan
baik buatnya. Sama-sama memperbaiki diri itulah yang mesti terus kita
jaga.
Mereka bahkan tak menyangka jika mereka sama-sama memendam rasa sejak lama.
Semoga bermanfaat. :)