Dijawab oleh: Dina Nurw
Belum tentu, tapi bisa terjadi. Tergantung bagaimana kehendak Allah swt. Saya ingin menceritakan pengalaman tentang sahabat saya yang mengalami "nasib baik" karena ini.
Terkadang sebagian orang dalam berdoa kepada Allah tidak memperhatikan esensi yang dibutuhkan sebenarnya. Lantas terkesan memaksakan berdoa seperti misal:
"Ya Allah, izinkanlah saya berjodoh dengan Z*(menyebutkan nama), (lalu diutarakan unek-uneknya karena dia ini dan itu)."
Sebenarnya kita ini tahu bahwa Allah tentu maha mengetahui segala, termasuk seseorang yang kau ingin dia menikah denganmu. Tapi apakah "dia" ini baik untukmu? Kenapa kamu bisa seyakin itu?
Yang perlu kita garis bawahi adalah apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Tapi tetaplah berprasangka baik, sebab Allah lebih tahu segala hal dalam hidupmu ke depannya.
Jadi apasih esensi utama yang kita butuhkan? Bukankah pada intinya kita membutuhkan pasangan yang "dalam pandangan kita" dia mampu menerima dan mengerti kita, memiliki cukup ilmu dalam hal berkeluarga dan hidup, baik, dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Maka ciri-ciri itulah yang mestinya kita ucapkan dalam doa. Perkara siapa orangnya, itu Allah sudah tahu kok.
Saya tahu kita mesti ikhtiar dan optimis, tapi coba pikirkan, pahami, apakah niat menikah kita sudah benar menyempurnakan agama atau hanya sekadar nafsu ingin memilikinya saja, maka kamu berpikir bahwa "harus" dia orangnya.
Saya singkronkan dengan cerita nyata sahabat saya. Btw sahabat saya cewek, sebut saja dia A. Lalu pasangannya B. Silakan disimak:
A dan B ini tinggal di kota yang sama. Mereka pernah satu kelas di SMP. Mereka teman biasa. Sungguh biasa, tidak lebih. Hanya saja A sempat suka dengan B, tapi tidak diutarakan sampai perasaan itu tidak dibuat berlarut-larut olehnya lagi dan dianggapnya ya udah. Berteman saja.
Lulus SMP tidak membuat A dan B tidak berjumpa lagi. Seperti pada umumnya kita tahu meskipun sudah lulus, tapi ada reuni kelas. Biasanya memang tidak semua mau berkumpul lagi, dan semakin ke depan semakin berkurang. Tapi A dan B setiap ada reuni pasti datang dan tentu saja bertemu.
A tidak pernah berekspetasi kalau B akan terus bertemu dengannya dalam setiap reuni. A hanya bertujuan karena sahabat-sahabatnya juga ikut. Dan sebenarnya begitu pula dengan B. Sampai A kuliah pun mereka masih selalu bertemu teman-teman lamanya dalam setiap reuni. Btw si B tidak mampu melanjutkan kuliah, jadi dia sudah bekerja dengan bisnis dagang khas daerahnya sendiri.
Setiap pulang kampung, A ini selalu membawa makanan khas kotanya yang dibeli di dagangan si B, lalu dibagi-bagi ke teman-teman kelas yang dia kenal baik. Ya memang sedermawan itu orangnya, padahal saya tahu dia bukan orang yang tingkat ekonominya tinggi, tapi suka sekali bagi-bagi makanan sebanyak itu kayak nggak ada beban buat dia. Padahal itu kan dia juga beli.
Saya yang sering main kosannya. Main untuk cerita, nginep juga beberapa kali, mengutarakan unek-unek tentang oleh-oleh khas kotanya yang dia suguhkan untuk saya bahwa makanan itu masuk list favorit saya, dll. Barulah dia cerita kalau makanan ini dia beli dari temannya si B. Sebab rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi si A ini ya kalau beli oleh-oleh pasti di B. A langganan beli di B bukan karena dia suka orangnya, tapi emang karena makanan yang dibuat enak, laris manis. Saat itu dia belum bilang ke saya kalau dia pernah suka B.
Karena posisi saat itu pun dia sedang dekat dengan senior di prodi kami yang mana senior itu berencana menikahi A dan si A ini rencananya mau mengiyakan, tapi dia bilang ke si S (senior) ini untuk nanti sambil lihat kondisi alias masih ragu-ragu. Karena dia ada urusan dengan keluarganya yang hendak naik haji dulu.
A hanya sangat terbuka tentang laki-laki dengan saya saja. Kita sedeket itulah sampai saya sering diajak nginep di kosannya karena kesepian teman kosnya ga terlalu seru. Kalau tentang si B yang tahu cuma saya. Tapi kalau tentang si S memang bukan cuma saya yang tahu karena S ini mempublikasi kedekatan mereka ke anak-anak prodi angkatan kami. S punya banyak kenalan cewek di angkatan saya dan ya sering nampak lah mukanya. Bahkan beberapa kali juga sekelas dengan saya. Saya juga tahu dan pernah satu kegiatan saat Ramadhan organisasi saya. Dia orang luar organisasi. Tapi saya tidak berniat kenalan karena orangnya kelihatan ga jelas gitu selama berkegiatan, jadi males.
Saya tidak bilang A sih kalau saya sebenarnya dari awal ragu-ragu A dekat dengan S ini sampai berencana ke jenjang pernikahan. Saya hanya menjaga perasaannya yang sudah kelihatan bahagia sekali. Nanti dikiranya saya malah negatif thinking. Lagian kan saya juga ga kenal sama S. Cuma sekadar memperhatikan sikapnya saja.
A cerita banyak tentang sejarah hidup S yang diceritakan kepadanya. S ternyata punya masa lalu yang tidak baik. Dia minum alkohol, main wanita, kuliah berantakan, kegamaannya juga kurang, bolosan. Tapi setelah keburukan itu dia ceritakan, dia langsung borongan menceritakan kebaikan-kebaikan dirinya kepada A.
Seperti misal dia ikut kegiatan masjid (padahal saya tahu dia ga jelas ngapain), dia ikut organisasi Islam (maaf instansi disensor agar tidak menimbulkan paham-paham lain) dia belajar Islam, politik, sejarah lalu dia menceritakan isu-isu yang A sebenarnya tidak paham hanya seolah S ini berupaya membuat A terkesan dengan wawasannya yang dia pikir luas.
Menurut saya sih mempelajari Islam, Politik, Sejarah dalam waktu singkat itu terlalu berat untuk orang yang baru ingin memperbaiki diri. Perkaranya pemahaman dia kan masih awam, tidak memungkiri bisa dicuci otak oleh orang lain yang berada di instansi tersebut. Kalau hanya sekadar membaca buku untuk pengetahuan si tidak masalah, masalahnya ini dia belajar dari siapa dan mengapa juga narik A untuk ikut pemahamannya si S dengan tiba-tiba.
Untungnya A tipikal orang kalau nggak paham suatu hal, ya dia nggak akan ngikutin. Untungnya meskipun A ini polos, tapi dia pintar, IPK nya tinggi, jadi masih bisa terkendali perkara ini. Cuma ya saya tentu tetap kasih nasihat buat dia hati-hati apapun yang disampaikan.
Bukannya saya ingin menjelekkan, tapi berhati-hati pada seseorang yang mengaku dirinya dulu tidak baik, lalu tiba-tiba datang dengan menunjukkan segala hal baik hanya lewat omongan saja, itu jatuhnya kayak memaksakan diri agar terlihat luar biasa di mata A. Siapa yang tahu orang bisa berbohong. Siapa yang tahu isi hati manusia kecuali Tuhannya. Berhati-hati itu perlulah. Panjang lebar saya kasih nasihat peringatan untuk berpikir, si A untungnya memikirkan dan mulai menyelidiki si S lebih dalam.
Sebab sebelumnya dia hanya sekadar langsung kagum dan fokus terpesona dengan segala perlindungan baik S kepadanya. Bahkan S juga bilang ke A bahwa yang membuat dia berubah drastis pandangan hidupnya saat melihat A. Padahal A ga merasa ngapa-ngapain. Yang A sadari ya dia didekati dan dibuat kagum. Banyak hal yang dilakukan S kepada A supaya terkesan dan menyanjung-nyanjung.
Saya jadi khawatir kalau S ini cuma memanfaatkan kepintaran A dari kepolosannya dipikat lelaki. Orang pintar, IPK tinggi tidak selalu bisa tegas dengan hidupnya. A yang saya kenal dari awal ini dia orang yang sangat tidak tegaan dan dia suka memberi apapun ketika merasa orang ini baik padanya. Ya memberi itu baik, tapi konteksnya apa dulu dong. Ini yang jadi masalah kepolosannya.
S selalu memaksa A untuk memasang foto mereka berdua di layar ponsel. S selalu inginnya A melakukan ini-itu sesuai ingin S tanpa mau mendengar dulu penjelasan A. A tidak boleh mudik sampai si S mengizinkan. A dicarikan tempat kerja, A sudah diterima, tapi lagi-lagi itu beban buat dia karena bukan maunya sendiri. S selalu chat ke banyak teman perempuan buat curhat dan menjelek-jelekkan A kalau A tidak dirasa mampu memenuhi kebutuhan si S. Dan masih banyak lagi yang dilakukan S itu sungguh menekan A. S selalu memberi tuntuan, sementara A tidak boleh berpendapat.
Bagaimana pendapat kalian tentang orang egois seperti itu dalam sebuah hubungan? Pantes nggak disebut bangsat? Belum nikah aja kaya gitu, apalagi kalau udah nikah. Hijrah nggak secepet itu bro.
Bangsat emang ni kaleng sarden.
Setelah sekian lama menyelidiki, A mendatangi saya dengan muka yang gelisah dan menceritakan suatu informasi buruk tentang S bahwa keraguan saya pada S membuat A juga ikut ragu-ragu. Ini info A lacak sendiri loh ya. Bukan saya. Sebenarnya bukan hanya karena info ini juga yang membut dia langsung ragu-ragu. Ada banyak faktor.
- A yang sering istikharah tiap kali bingung ini berdoa diberi petunjuk apakah pilihannya benar/tidak.
- A memikirkan ulang sikap-sikap yang S berikan kepadanya dari awal sampai sekarang yang tiba-tiba itu.
- A mulai memperhatikan tingkah laku, gaya perkataan S kepadanya.
- S sengaja memberi ruang A untuk dapat melihat isi chat WA nya dalam memantau S apakah dia jujur dengan A atau tidak. A sampai diberi tahu cara memantau isi chat S lewat laptop. Tapi A tidak pernah mengeceknya, karena A sudah terlalu percaya dengannya.
- B teman SMP-nya selalu masuk dalam mimpinya. Meskipun sebenarnya A tidak berharap lebih pada B, tapi sebenarnya dia masih memendam rasa dengan B. Perkara B yang seringkali muncul di mimpinya itu membuat dia bertanya-tanya.
Mari kita kuak nomor 4:
Logikanya, ngapain? Emang dengan ngasih tau begitu bisa ngebuat orang percaya dengan mudah. Padahal A juga ga minta dan percaya-percaya aja. Ngapain juga harus ditawari. Kan bego. Kenapa saya bilang bego? Buat A itu ga perlu dan semakin ngeyakinin dia untuk makin yakin kalau S ga main-main. Tapi buat saya itu bisa buat jadi alat memantau.
Setelah selidik demi selidik, kebohongan S terbongkar juga. A sempat dikabari S karena S hendak pergi ke luar kota dulu. Katanya mau mengembalikan barang ke temennya. Ya A, iyain aja. Ngembalikan barangnya bener… tapi dong… itu barang mantannya. Dia dan mantannya. S sempat ngobrol lagi dan berusaha menyentuh mantannya, tapi mantannya suruh S cepet-cepet pulang aja. Sebelum kembali pulang, S memeluk mantannya.
Mantannya (M) ini tanpa S tahu, dia nge-save nomor si A buat di-chat. Buat ngasih tau A panjang lebar agar hati-hati sama S. M ini tahu kalau S sudah punya pacar lagi dari cerita si S. Nah, disitulah tanpa S bego sadari, M berhasil menyimpan nomor si A. Setelah si S balik, hari berikutnya M menghubungi A perkara A. Semua unek-unek jijik, risih, marah yang mantannya sembunyikan pada S itu dia curahkan ke A. Panjang deh ceritanya. intinya gitu. Dan intinya kebongkar semua kebohongan S dihadapan A. Baik lewat chat maupun telepon. Di sisi lain M ini tidak bermaksud memutuskan hubungan A dengan S, tapi hanya sekadar mengingatkan karena pengalamannya yang menjadi pacarnya dari titik nol, sampai sekarang ini dia malah ditinggalkan dan tidak dihargai.
Setelah ditelisik lebih daiam soal S ini, A semakin ragu untuk lanjut bersama S yang egonya begitu tinggi. Bahkan untuk A ingin bertemu keluarganya dulu di kampung halaman, S ngebantah. Bangsat emang. Dari situ fix, A memilih untuk memutuskan hubungan.
Jadi kesimpulannya, posisi A saat ini adalah ragu-ragu dengan S yang ngotot nikah dengan A, sementara di sisi lain A tidak paham kenapa sosok B seringkali muncul dalam mimpinya. Akhirnya A memilih untuk istikharah. dipertahankan atau dilepas. Sesering itu dia melakukan salat sunnah istikharah ini. Semakin hari, semakin keraguan pada S memuncak, fiks, temenku si A memilih putus setelah semua kebohongan S dapat dibongkarnya. Nomor S juga diblokir. Tapi S tetap mengejar-ngejar A yang sudah benar-benar ragu.
Pasca wisuda sarjana, A sudah tidak respek lagi dengan S yang kerap kali membohonginya dan menjelek-jelekkan dirinya kepada orang lain padahal tidak begitu kenyataannya. A hanya korban. Dia anak yang baik, sederhana, santun, nggak pecicilan.
Lalu, di bagian mana salat tahajudnya? Yang melakukan tahajud adalah si B.
Entah sejak kapan B mulai memendam rasa dengan A, yang pasti ada 2 perempuan yang ia bidik untuk menjadi istrinya kelak. Yang pertama teman saya A, yang kedua entah siapa.
Saat B tahu A ini seorang sarjana, sementara B hanya seorang pedagang makanan biasa, sebenarnya dia pesimis. Semakin pesimis lagi ketika melihat foto profil A bersama S di WA-nya. Tapi dalam hatinya masih menginginkan. B ini menurut versi A yang dia ceritakan kepada saya adalah orang yang sederhana, ibadahanya baik, dan begitu-begitulah.
Intinya si B ini selain tahajud juga melakukan istikharah. Dalam tahajudnya ia berdoa untuk diberi petunjuk dan kemantapan hati dalam memilih pasangan yang baik buatnya dan baik ilmunya. Dalam istikharahnya ia berdoa untuk diberi petunjuk tentang perempuan mana di antara dua yang dia pilih yang baik untuknya dan yang dia butuhkan.
Jadilah, maka jadilah, B memantapkan hati untuk melamar A setelah tahu A kembali single. Ibaratnya ya si B tidak mau menunda waktu lagi kalau-kalau A diambil orang. B pun memberanikan diri untuk menyampaikan perasaannya untuk menuju perlaminan. Bahkan bukan hanya itu, B lebih bisa menghargai dan memuliakan wanita yang ingin dipinangnya. Dia masih menahan diri untuk menjaga jarak dengan A selama proses akan melamar.
Kalau dari cerita si A ke saya sih, petunjuk yang dia rasakan lebih sering dalam mimpi, kemudian saat reuni pernikahan mereka selalu memakai baju dengan warna yang sama, dan posisi yang sama juga (misal depan-belakang atau pojok kanan-kiri). Semua itu murni tanpa rencana. Sadarnya juga pas sampai rumah. Selain itu juga tidak ada keragu-raguan dalam hati A tentang B. Begitu pun sebaliknya.
Tidak ada perjuangan yang mudah untuk memiliki seseorang yang baik buatmu dan baik buatnya. Sama-sama memperbaiki diri itulah yang mesti terus kita jaga.
Mereka bahkan tak menyangka jika mereka sama-sama memendam rasa sejak lama.
Semoga bermanfaat. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar