Dijawab oleh: Dina Nurw
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)
Terima kasih telah menciptakan pertanyaan greget ini. Jurusanku sering dipandang multi fungsi karena memiliki komponen 1. pendidikan, 2. bahasa, dan 3. Sastra Indonesia. Ditambah orang-orangnya juga dipandang “serba jago” dalam hal-hal berikut ini:
“Wah, anak bahasa. Pasti public speaking-nya jago!”
“Wah anak bahasa dan sastra. Pasti nulis puisinya jago!/nulis cerpen atau novel jago!/nulis ilmiah jago!” (Pokoknya semua yang berkaitan dengan kepenulisan dipandang jago semua).
“Anak sastra pasti baca puisinya jago!”
“Anak sastra pasti main drama (teater)-nya jago!”
“Anak Pendidikan pasti jago ngajar!”
“Anak PBSI lulusannya ya cuma jadi guru Bahasa Indonesia!”
“Anak PBSI apaan sih, nggak ada praktikum, mata kuliahnya juga santai! Gampang!”
“Anak bahasa kan? Editin tulisanku dong! Mau aku publikasi nih!”
Sekiranya itu anggapan-anggapan yang sering muncul.
…
Begini lo masyarakat yang budiman, biar saya jelaskan.
Kita ini manusia biasa dan mahasiswa seperti pada umumnya. Punya kurang, punya lebih. Punya keterbatasan, punya prestasi. Tapi tidak lalu “hanya karena label” kami anak Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, lalu “dipukul rata” anggapannya bahwa kami bisa melakukan “semua hal” dari program studi yang kami emban.
Kembali lagi pada “mahasiswa pada umumnya”. Tidak semua dari kami benar-benar masuk PBSI untuk menjadi guru. Ada juga yang ingin berprofesi lain. Ada juga yang karena dipaksa orang tua atau pelarian. Ada yang mengusahakan untuk tetap bisa menyesuaikan diri, ada yang cuma sekadar menjalani, ada juga yang serius menjalani.
Pertama, tentang public speaking. Karena orang mikirnya pasti jago, terus ada yang suka seenaknya sendiri nyuruh-nyuruh anak PBSI buat jadi MC/Moderator/Pidato (intinya yang berkaitan dengan public speaking) secara dadakan kayak tahu bulat.
Ketika ternyata public speaking-nya nggak jago/salah bicara/menolak bicara, malah dikata-katain kayak:
“Masak anak PBSI ga bisa ngomong/ga berani ngomong di depan umum. Besok gimana tuh kalau jadi guru!”
“Gimana sih, anak PBSI kok ngomong gitu saja ga bisa!”
Jadi begini, masyarakat yang budiman. Tidak semua anak bisa berbicara di depan umum dengan lancar dan spontan. Ada yang butuh persiapan dan latihan, ada yang memang bukan disitu kemampuannya meskipun semua mahasiswa diminta untuk berani bicara. Semua orang bisa bicara, tapi setiap orang juga punya keterbatasan dalam menyampaikannya. Bukan berarti tidak mampu. Setiap orang punya cara masing-masing dalam membentuk diri dan bicara.
Jika perintah dadakan itu dibalikkan kepada dirimu yang suka ngata-ngatain. Jika kamu juga tidak lancar publik speaking, lalu diminta secara spontan dadakan. Siapa orang yang siap bicara? Kami juga butuh persiapan, butuh latihan. Tapi memang ada anak yang bisa dadakan karena dia sudah terbiasa. Jadi jangan dipukul rata, karena tidak semua orang punya pengalaman lebih dalam bicara.
Atau bisa saja yang ngata-ngatain itu malah justru nggak mau dirinya terlihat memalukan di depan umum kalau ternyata ketika bicara di depan umum tidak bisa/tidak siap/salah. Marilah saling menjaga perasaan. Setiap orang berbeda kemampuan. Menolak public speaking di suatu acara, belum tentu tidak bisa mengajari siswa.
Kedua, sama halnya dengan menulis fiksi dan ilmiah, membaca puisi, drama, dan mengajar. Kami mempunyai keterbatasan kemampuan masing-masing dalam beberapa hal itu. Orang yang mahir menulis fiksi/puisi, belum tentu mahir menulis ilmiah. Dan begitu sebaliknya dengan yang lain juga. Bisa membaca puisi juga belum tentu bisa main drama. Ada pula yang bisa kedua-duanya atau bahkan semuanya. Tergantung bagaimana mahasiswa itu mengembangkan dirinya dan minatnya di mana. Kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk bisa melakukan semuanya.
Ketiga, tentang mengajar. Kalau ada mahasiswa PBSI mengajarnya gagal atau buruk ada yang mengatakan seperti: “Kuliah keguruan ngapain saja? Ngajar Bahasa Indonesia gitu saja kok nggak bisa. Kan gampang to Bahasa Indonesia.”
Memang di prodi kami ada mata kuliah microteaching alias praktek mengajar. Tapi kembali lagi pada keterbatasan. Tidak semua anak kuliah keguruan langsung otomatis punya daya tarik yang membius siswa dalam mengajar di depan kelas. Karena kita bisa lihat dulu dari bagaimana pengalamannya berbicara di depan umum.
Bahkan yang sering berbicara di depan umum pun belum tentu baik dalam mengajar di depan kelas. Bisa saja ia terlalu cepat, tidak menyampaikan pokok materi dengan baik, atau perkara-perkara lainnya. Kita semua mahasiswa yang masih pembelajar, belum profesi. Jika memang belum mampu mengajar dengan baik, ya wajar.
Toh, nyatanya yang sudah profesi saja bahkan masih ada kekeliruan. Suatu saat di antara kami memang akan menjadi guru, tapi guru juga manusia, tidak sempurna. Punya keliru, punya salah. Jangan hakimi kami jika memang kemampuan kami mengajar belum memiliki daya tarik. Karena memang tidak semua manusia mempunyai “karisma” mengajar di depan kelas.
Keempat, lulusan PBSI. Orang hanya seringkali melihat bahwa anak yang kuliah di fakultas “keguruan”, ya keluarnya “pasti cuma jadi guru”. Jujur, itu pemikiran yang sangat sempit. Bahkan ada yang melihat PBSI lebih parah lagi seperti jurusan PBSI ya cuma bisa ngajar Bahasa Indonesia. Ga bisa buka bimbel sendiri karena jarang peminat (ya iya sih). Lowongan kerjanya susah—kata siapa? Saya yakin kok setiap prodi pasti punya banyak kesempatan kerja yang baik meskipun itu terlihat biasa-biasa saja di mata orang lain.
Lulusan PBSI tidak hanya bisa menjadi guru. Seperti prodi Sastra Indonesia yang dianggap remeh, PBSI juga. Lulusan PBSI bisa menjadi guru bimbel di lembaga, editor, freelance, profreader, penulis, wartawan, dan lain sebagainya. Bahkan jika ada mahasiswa yang mempunyai hobi tertentu misal di bidang seni—seni lukis misalnya, mahasiswa tersebut bisa membuka pemesanan lukis. Atau di bidang agama—mahasiswa PBSI bisa menjadi guru mengaji atau mubaligh.
Setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Jadi jangan saling menghina ataupun meremehkan. Tidak ada yang sia-sia dari proses belajar.
Meskipun kuliah keguruan, tapi keluarnya bukan jadi guru. Ilmu itu kan luas, jadi memberi ilmu untuk orang lain bukan hanya jadi guru. Seorang ibu rumah tangga pun bisa menjadi guru. Guru madrasah untuk anak-anaknya.
Kelima, “Anak PBSI apaan sih, nggak ada praktikum, mata kuliahnya juga santai! Gampang!”—SOK TAHU. Kalau gampang ngapain nyuruh-nyuruh anak PBSI jadi MC/Moderator/dll? Ngapain minta tolong ngeditin tulisan? Ngapain minta tolong lain-lainnya yang berkaitan dengan bidang kami, tapi kamu ga bisa? Katanya gampang? Logikanya tolong.
“Nggak ada yang namanya mahasiswa santai”, kecuali dia memang nggak niat kuliah. Semua orang yang namanya mahasiswa, sudah pasti berjuang dan berproses dengan mengeluarkan banyak waktu, pikiran, dan tenaga.
Mahasiswa PBSI juga dibuat begadang sama dosen. Dituntut baca buku sebanyak-banyaknya. Ada praktek mengajar juga. Ada magang juga. Dituntut bisa buat RPP. Revisi ini-itu. Salah penulisan dikit saja, anak PBSI dikata-katain dosen. Dll. Itu juga capek dan pusing dikira.
Orang juga kalau disuruh pindah prodi PBSI belum tentu sanggup. Atau paling alasan klisenya kayak gini: “Ngapain kuliah bahasa sendiri? Tiap hari juga ngomong bahasa Indonesia.”—gaya banget.
Jangan mudah meremehkan orang lain, ketika kamu saja tidak mengerti dan tahu apa yang kami kerjakan dan pelajari. Marilah saling menghargai.
Keenam, “Anak bahasa kan? Editin tulisan aku dong! Mau aku publikasi nih!”—Gini ya, jangan kira ngedit tulisan orang nggak butuh waktu dan tenaga. Jangan mentang-mentang kami anak bahasa dan teman, lalu dipandang kayak: “Halah… sama teman sendiri, ayolah editin tulisanku!” Ga sesederhana itu.
Dosen saja nguras emosi baca tulisan di tugas mahasiswa yang ejaan bahasa dan typo-nya bertebaran di mana-mana. Bahkan jika ada kalimat yang sangat tidak efektif dan ga nyambung sama penjelasan sebelumnya. Dosen saja bisa emosi. Apalagi orang nyuruh anak PBSI buat ngeditin tulisannya yang “tanpa dibayar cuma modal karena teman”.
Bukannya mata duitan. Tapi begini lo, ibaratkan misal kamu mahir menggambar sketsa dengan watercolor. Lalu orang lain minta, “gambarin wajahku yang foto ini dong!” buat yang suka gambar pasti ngerti rasanya gambar berjam-jam dan harga watercolor beserta peralatannya seberapa mahal, tapi kamu ga dibayar dan itu sering banget kamu dimintain gambar kayak gitu terus. Emosi loh. Yakin.
Berguna buat orang lain sih berguna, tapi lama-lama “orang lain jadi lupa untuk saling menghargai kami” yang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu orang-orang seperti itu.
Gini ya, kami bukan editor. Seorang editor saja butuh kerja sama penulis untuk memperbaiki naskah. Ya masa kami yang anak bahasa suruh ngeditin tulisan kamu secara gratis! Ngedit itu capek kalik! Kami pun punya kerjaan lain yang bukan cuma ngurusin tulisan kamu doang.
Alangah lebih baiknya kalau dalam hal mengedit, mintalah belajar bersama saja dengan kami. Toh, kami juga masih pembelajar. Kalau mintanya belajar bersama sih kita nggak akan emosi. Tapi kalau kamu mintanya kami yang ngeditin tulisan kamu terus-terusan secara gratis, tapi kamu ga pernah mau belajar memperbaiki sendiri dan ga dapat ilmu apa-apa. Itu namanya kamu cuma nyuruh-nyuruh kami! Memanfaatkan kami.
Itu tulisan kamu, “silakan belajar untuk bertanggunh jawab dengan tulisan kamu sendiri”. Lantas ketika sudah diajari, jangan lupa belajar fundamentalnya sendiri. Sering-seringlah buka kamus dan memeriksa tulisan yang ragu-ragu di Ejaan Bahasa Indonesia. Jangan apa-apa terus ketergantungan sama “anak bahasa”. Itu nyebelin banget yakin!
Maaf, yang keenam pengalaman sendiri dan beberapa anak bahasa dan anak sastra murni di lingkungan saya. Jadi curhat. Wkwk! Barangkali di luar sana ada yang merasa sama.
Selain salah paham, “orang lain juga sering lupa untuk saling menghargai dan menjaga perasaan sesama manusia yang bukan bidangnya” hanya karena sebuah anggapan sempit yang dipukul rata.
Mari ajak orang lain untuk saling menghargai dan memahami. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar