Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Jumat, 28 Agustus 2020

Ajakan Beribadah

Setiap orang berbondong-bondong mengingatkan kita pada ajakan beribadah. Mengajak kepada kebaikan adalah perilaku yang mulia, apalagi ajakan beribadah. Sungguh dianjurkan. Namun menurut saya ada hal yang keliru jika ajakan ibadahmu justru dijadikan tameng untuk membandingkan nilai ibadahmu dengan ibadah orang lain. Maksudnya apa?

            Maksudnya begini: Kamu tak perlu berprasangka buruk jika orang yang kamu ajak belum mampu menunaikan ibadahnya “sama” seperti apa yang kamu lakukan. Kadang-kadang tak selalu ajakan yang kita utarakan dapat diterima selalu oleh orang-orang yang diajak. Ibaratkan seperti kita tidak bisa membuat semua orang senang dengan kita, pasti ada orang yang tidak suka dengan kita. Jadi, daripada malaikat ragu mencatat amal baikmu ketika kamu justru misuh-misuhin keimanan orang lain yang belum mampu konsisten, lebih baik doakan saja hal-hal baik untuknya. Kan adem jadinya.

            Beragama tidak mempersulit usaha orang untuk mencapai berapa nilai ibadahnya. Perlakukan segala bentuk “ajakan beribadah” dengan penuturan yang baik dan damai. Perkara seberapa banyak pahala yang didapat itu sudah hitungan Allah. Tugas kita adalah mengerjakan. “Setiap orang ada proses belajarnya. Ada tahapannya.” Tidak apa-apa, yang penting berproses.

            Dalam proses tersebut pun butuh diyakinkan bahwa ajakan beribadah tidak menyudutkan pribadinya sehingga apa yang dikerjakannya itu sampai dalam hati. Bukan justru dibandingkan atau dikomentari buruk yang dapat membuatnya berpikir bahwa beragama tidak membuatnya damai. “Padahal justru orang-orangnya yang mengajak tidak mendamaikan”.

Kamis, 27 Agustus 2020

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. Kalian dapat memanggil saya “Dina”. Kalian juga dapat menemukan saya di laman media lain, yaitu sebagai berikut:

Instagram: @haricahayabulan
Wattpad: @haricahayabulan
Quora: Dina-Nurw

Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat atau menghibur. Saya hanya berharap kalian bisa mengapresiasi tulisan saya dengan tidak memplagiat karya di blog ini atau di manapun laman saya menulis. Saya tidak akan memaksakan perspektif kalian sama dengan perspektif saya. “Selamat membaca, salam bahagia, untuk kita semua!”

Salam,
Haricahayabulan

Maukah kamu membagikan foto koleksi bukumu?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Yang ini penampakan koleksi buku-buku saya di kos. Saya campur antara buku bacaan dan buku kuliah supaya beresinnya simpel. Umurnya sudah sekitar 4 tahun. Saya kumpulkan sejak saya masuk kuliah di tahun 2015. Hanya sedikit. Saya merasa minat baca saya di akhir-akhir semester kuliah agak buruk daripada ketika saat saya masih pelajar.


Saya menyukai buku fiksi dan non-fiksi. Saya juga menyukai banyak genre. Termasuk genre fiksi remaja dan romansa hahaha. Saya terkadang butuh buku-buku bacaan ringan untuk hiburan. Terkadang? Eh, sering deng wkwk.

Kemudian selanjutnya, inilah penampakan koleksi buku saya di rumah:

Umurnya sekitar 3 tahun. Dikumpulkan saat saya kelas 1—3 SMA. Saat SMA selain membaca di rumah, saya juga membaca di perpustakaan sekolah. Saat kuliah pun sama.

Sementara saat SMP saya hanya mampu membaca buku di perpustakaan dan pinjam teman. Dan saat SD saya mengoleksi majalah-majalah Bobo yang sekarang sudah diberikan semua ke saudara sepupu saya yang masih kecil-kecil. Sekian… :)

Pernahkah kamu kenal dengan seseorang yang belum terkenal dan sekarang dia terkenal?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Pernah. Kawan baik saya di masa kecil, yaitu Agni Tri Nubuwati si anak Idola Cilik 2.

Dulu kami begitu dekat sewaktu SD meskipun sekolah kami berbeda. Saya mengenalnya karena saya dan dia sama-sama menjadi murid les renang saudara sepupu saya. Dia juga murid di sekolah adik sepupu saya. Dia memang tomboy sejak dulu. Ya, anaknya baik, seru, enjoy sama siapa aja. Masa-masa ketika berteman dengannya tidak pernah saya lupakan, karena memang seasik itu anaknya walaupun kadang pecicilan. Wkwk.

Rumah Agni sebelum masuk ICIL dekat sekali dengan rumah saudara sepupu saya dan sekolah dia yang pertama. Oleh karenanya kita sering main bersama. Tidak dipungkiri bahwa setiap pertemanan dekat pasti ada iseng-isengnya. Agni pun begitu iseng dengan saya dan saudara-saudara saya, jadi sewaktu dia ulang tahun, saya dan saudara sepupu saya mengerjainya dengan menumpahkan tepung dan air di sepan rumahnya.

Ya, banyak hal baik dan kenangan lucu yang tidak terlupakan bersama kawan baik.

Namun, setelah dia masuk ICIL, dia pindah rumah dan pindah sekolah. Jadi kami tidak pernah bertemu lagi. Saya kehilangan kontak dengannya. Karena zaman saya dulu belum dibolehkan mengenal gawai.

Sedihnya di situ. Saya kurang tau sekarang kabar dia bagaimana. Terakhir saya cuma tahu dia sekolah di SMA apa.

Sekarang entah dia masih mengenali muka saya atau tidak jika ada keajaiban bertemu atau berpapasan di jalan misal. Ya, intinya Agni adalah kawan yang baik. Saya senang mengenalnya.

Apakah tahajud dapat membuat kita berjodoh dengan orang yang kita cintai?


Dijawab oleh: Dina Nurw

Belum tentu, tapi bisa terjadi. Tergantung bagaimana kehendak Allah swt. Saya ingin menceritakan pengalaman tentang sahabat saya yang mengalami "nasib baik" karena ini.

Terkadang sebagian orang dalam berdoa kepada Allah tidak memperhatikan esensi yang dibutuhkan sebenarnya. Lantas terkesan memaksakan berdoa seperti misal:

"Ya Allah, izinkanlah saya berjodoh dengan Z*(menyebutkan nama), (lalu diutarakan unek-uneknya karena dia ini dan itu)."

Sebenarnya kita ini tahu bahwa Allah tentu maha mengetahui segala, termasuk seseorang yang kau ingin dia menikah denganmu. Tapi apakah "dia" ini baik untukmu? Kenapa kamu bisa seyakin itu?

Yang perlu kita garis bawahi adalah apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Tapi tetaplah berprasangka baik, sebab Allah lebih tahu segala hal dalam hidupmu ke depannya.

Jadi apasih esensi utama yang kita butuhkan? Bukankah pada intinya kita membutuhkan pasangan yang "dalam pandangan kita" dia mampu menerima dan mengerti kita, memiliki cukup ilmu dalam hal berkeluarga dan hidup, baik, dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Maka ciri-ciri itulah yang mestinya kita ucapkan dalam doa. Perkara siapa orangnya, itu Allah sudah tahu kok.

Saya tahu kita mesti ikhtiar dan optimis, tapi coba pikirkan, pahami, apakah niat menikah kita sudah benar menyempurnakan agama atau hanya sekadar nafsu ingin memilikinya saja, maka kamu berpikir bahwa "harus" dia orangnya.

Saya singkronkan dengan cerita nyata sahabat saya. Btw sahabat saya cewek, sebut saja dia A. Lalu pasangannya B. Silakan disimak:

A dan B ini tinggal di kota yang sama. Mereka pernah satu kelas di SMP. Mereka teman biasa. Sungguh biasa, tidak lebih. Hanya saja A sempat suka dengan B, tapi tidak diutarakan sampai perasaan itu tidak dibuat berlarut-larut olehnya lagi dan dianggapnya ya udah. Berteman saja.

Lulus SMP tidak membuat A dan B tidak berjumpa lagi. Seperti pada umumnya kita tahu meskipun sudah lulus, tapi ada reuni kelas. Biasanya memang tidak semua mau berkumpul lagi, dan semakin ke depan semakin berkurang. Tapi A dan B setiap ada reuni pasti datang dan tentu saja bertemu.

A tidak pernah berekspetasi kalau B akan terus bertemu dengannya dalam setiap reuni. A hanya bertujuan karena sahabat-sahabatnya juga ikut. Dan sebenarnya begitu pula dengan B. Sampai A kuliah pun mereka masih selalu bertemu teman-teman lamanya dalam setiap reuni. Btw si B tidak mampu melanjutkan kuliah, jadi dia sudah bekerja dengan bisnis dagang khas daerahnya sendiri.

Setiap pulang kampung, A ini selalu membawa makanan khas kotanya yang dibeli di dagangan si B, lalu dibagi-bagi ke teman-teman kelas yang dia kenal baik. Ya memang sedermawan itu orangnya, padahal saya tahu dia bukan orang yang tingkat ekonominya tinggi, tapi suka sekali bagi-bagi makanan sebanyak itu kayak nggak ada beban buat dia. Padahal itu kan dia juga beli.

Saya yang sering main kosannya. Main untuk cerita, nginep juga beberapa kali, mengutarakan unek-unek tentang oleh-oleh khas kotanya yang dia suguhkan untuk saya bahwa makanan itu masuk list favorit saya, dll. Barulah dia cerita kalau makanan ini dia beli dari temannya si B. Sebab rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi si A ini ya kalau beli oleh-oleh pasti di B. A langganan beli di B bukan karena dia suka orangnya, tapi emang karena makanan yang dibuat enak, laris manis. Saat itu dia belum bilang ke saya kalau dia pernah suka B.

Karena posisi saat itu pun dia sedang dekat dengan senior di prodi kami yang mana senior itu berencana menikahi A dan si A ini rencananya mau mengiyakan, tapi dia bilang ke si S (senior) ini untuk nanti sambil lihat kondisi alias masih ragu-ragu. Karena dia ada urusan dengan keluarganya yang hendak naik haji dulu.

A hanya sangat terbuka tentang laki-laki dengan saya saja. Kita sedeket itulah sampai saya sering diajak nginep di kosannya karena kesepian teman kosnya ga terlalu seru. Kalau tentang si B yang tahu cuma saya. Tapi kalau tentang si S memang bukan cuma saya yang tahu karena S ini mempublikasi kedekatan mereka ke anak-anak prodi angkatan kami. S punya banyak kenalan cewek di angkatan saya dan ya sering nampak lah mukanya. Bahkan beberapa kali juga sekelas dengan saya. Saya juga tahu dan pernah satu kegiatan saat Ramadhan organisasi saya. Dia orang luar organisasi. Tapi saya tidak berniat kenalan karena orangnya kelihatan ga jelas gitu selama berkegiatan, jadi males.

Saya tidak bilang A sih kalau saya sebenarnya dari awal ragu-ragu A dekat dengan S ini sampai berencana ke jenjang pernikahan. Saya hanya menjaga perasaannya yang sudah kelihatan bahagia sekali. Nanti dikiranya saya malah negatif thinking. Lagian kan saya juga ga kenal sama S. Cuma sekadar memperhatikan sikapnya saja.

A cerita banyak tentang sejarah hidup S yang diceritakan kepadanya. S ternyata punya masa lalu yang tidak baik. Dia minum alkohol, main wanita, kuliah berantakan, kegamaannya juga kurang, bolosan. Tapi setelah keburukan itu dia ceritakan, dia langsung borongan menceritakan kebaikan-kebaikan dirinya kepada A.

Seperti misal dia ikut kegiatan masjid (padahal saya tahu dia ga jelas ngapain), dia ikut organisasi Islam (maaf instansi disensor agar tidak menimbulkan paham-paham lain) dia belajar Islam, politik, sejarah lalu dia menceritakan isu-isu yang A sebenarnya tidak paham hanya seolah S ini berupaya membuat A terkesan dengan wawasannya yang dia pikir luas.

Menurut saya sih mempelajari Islam, Politik, Sejarah dalam waktu singkat itu terlalu berat untuk orang yang baru ingin memperbaiki diri. Perkaranya pemahaman dia kan masih awam, tidak memungkiri bisa dicuci otak oleh orang lain yang berada di instansi tersebut. Kalau hanya sekadar membaca buku untuk pengetahuan si tidak masalah, masalahnya ini dia belajar dari siapa dan mengapa juga narik A untuk ikut pemahamannya si S dengan tiba-tiba.

Untungnya A tipikal orang kalau nggak paham suatu hal, ya dia nggak akan ngikutin. Untungnya meskipun A ini polos, tapi dia pintar, IPK nya tinggi, jadi masih bisa terkendali perkara ini. Cuma ya saya tentu tetap kasih nasihat buat dia hati-hati apapun yang disampaikan.

Bukannya saya ingin menjelekkan, tapi berhati-hati pada seseorang yang mengaku dirinya dulu tidak baik, lalu tiba-tiba datang dengan menunjukkan segala hal baik hanya lewat omongan saja, itu jatuhnya kayak memaksakan diri agar terlihat luar biasa di mata A. Siapa yang tahu orang bisa berbohong. Siapa yang tahu isi hati manusia kecuali Tuhannya. Berhati-hati itu perlulah. Panjang lebar saya kasih nasihat peringatan untuk berpikir, si A untungnya memikirkan dan mulai menyelidiki si S lebih dalam.

Sebab sebelumnya dia hanya sekadar langsung kagum dan fokus terpesona dengan segala perlindungan baik S kepadanya. Bahkan S juga bilang ke A bahwa yang membuat dia berubah drastis pandangan hidupnya saat melihat A. Padahal A ga merasa ngapa-ngapain. Yang A sadari ya dia didekati dan dibuat kagum. Banyak hal yang dilakukan S kepada A supaya terkesan dan menyanjung-nyanjung.

Saya jadi khawatir kalau S ini cuma memanfaatkan kepintaran A dari kepolosannya dipikat lelaki. Orang pintar, IPK tinggi tidak selalu bisa tegas dengan hidupnya. A yang saya kenal dari awal ini dia orang yang sangat tidak tegaan dan dia suka memberi apapun ketika merasa orang ini baik padanya. Ya memberi itu baik, tapi konteksnya apa dulu dong. Ini yang jadi masalah kepolosannya.

S selalu memaksa A untuk memasang foto mereka berdua di layar ponsel. S selalu inginnya A melakukan ini-itu sesuai ingin S tanpa mau mendengar dulu penjelasan A. A tidak boleh mudik sampai si S mengizinkan. A dicarikan tempat kerja, A sudah diterima, tapi lagi-lagi itu beban buat dia karena bukan maunya sendiri. S selalu chat ke banyak teman perempuan buat curhat dan menjelek-jelekkan A kalau A tidak dirasa mampu memenuhi kebutuhan si S. Dan masih banyak lagi yang dilakukan S itu sungguh menekan A. S selalu memberi tuntuan, sementara A tidak boleh berpendapat.

Bagaimana pendapat kalian tentang orang egois seperti itu dalam sebuah hubungan? Pantes nggak disebut bangsat? Belum nikah aja kaya gitu, apalagi kalau udah nikah. Hijrah nggak secepet itu bro.

Bangsat emang ni kaleng sarden.

Setelah sekian lama menyelidiki, A mendatangi saya dengan muka yang gelisah dan menceritakan suatu informasi buruk tentang S bahwa keraguan saya pada S membuat A juga ikut ragu-ragu. Ini info A lacak sendiri loh ya. Bukan saya. Sebenarnya bukan hanya karena info ini juga yang membut dia langsung ragu-ragu. Ada banyak faktor.

  1. A yang sering istikharah tiap kali bingung ini berdoa diberi petunjuk apakah pilihannya benar/tidak.
  2. A memikirkan ulang sikap-sikap yang S berikan kepadanya dari awal sampai sekarang yang tiba-tiba itu.
  3. A mulai memperhatikan tingkah laku, gaya perkataan S kepadanya.
  4. S sengaja memberi ruang A untuk dapat melihat isi chat WA nya dalam memantau S apakah dia jujur dengan A atau tidak. A sampai diberi tahu cara memantau isi chat S lewat laptop. Tapi A tidak pernah mengeceknya, karena A sudah terlalu percaya dengannya.
  5. B teman SMP-nya selalu masuk dalam mimpinya. Meskipun sebenarnya A tidak berharap lebih pada B, tapi sebenarnya dia masih memendam rasa dengan B. Perkara B yang seringkali muncul di mimpinya itu membuat dia bertanya-tanya.

Mari kita kuak nomor 4:

Logikanya, ngapain? Emang dengan ngasih tau begitu bisa ngebuat orang percaya dengan mudah. Padahal A juga ga minta dan percaya-percaya aja. Ngapain juga harus ditawari. Kan bego. Kenapa saya bilang bego? Buat A itu ga perlu dan semakin ngeyakinin dia untuk makin yakin kalau S ga main-main. Tapi buat saya itu bisa buat jadi alat memantau.

Setelah selidik demi selidik, kebohongan S terbongkar juga. A sempat dikabari S karena S hendak pergi ke luar kota dulu. Katanya mau mengembalikan barang ke temennya. Ya A, iyain aja. Ngembalikan barangnya bener… tapi dong… itu barang mantannya. Dia dan mantannya. S sempat ngobrol lagi dan berusaha menyentuh mantannya, tapi mantannya suruh S cepet-cepet pulang aja. Sebelum kembali pulang, S memeluk mantannya.

Mantannya (M) ini tanpa S tahu, dia nge-save nomor si A buat di-chat. Buat ngasih tau A panjang lebar agar hati-hati sama S. M ini tahu kalau S sudah punya pacar lagi dari cerita si S. Nah, disitulah tanpa S bego sadari, M berhasil menyimpan nomor si A. Setelah si S balik, hari berikutnya M menghubungi A perkara A. Semua unek-unek jijik, risih, marah yang mantannya sembunyikan pada S itu dia curahkan ke A. Panjang deh ceritanya. intinya gitu. Dan intinya kebongkar semua kebohongan S dihadapan A. Baik lewat chat maupun telepon. Di sisi lain M ini tidak bermaksud memutuskan hubungan A dengan S, tapi hanya sekadar mengingatkan karena pengalamannya yang menjadi pacarnya dari titik nol, sampai sekarang ini dia malah ditinggalkan dan tidak dihargai.

Setelah ditelisik lebih daiam soal S ini, A semakin ragu untuk lanjut bersama S yang egonya begitu tinggi. Bahkan untuk A ingin bertemu keluarganya dulu di kampung halaman, S ngebantah. Bangsat emang. Dari situ fix, A memilih untuk memutuskan hubungan.

Jadi kesimpulannya, posisi A saat ini adalah ragu-ragu dengan S yang ngotot nikah dengan A, sementara di sisi lain A tidak paham kenapa sosok B seringkali muncul dalam mimpinya. Akhirnya A memilih untuk istikharah. dipertahankan atau dilepas. Sesering itu dia melakukan salat sunnah istikharah ini. Semakin hari, semakin keraguan pada S memuncak, fiks, temenku si A memilih putus setelah semua kebohongan S dapat dibongkarnya. Nomor S juga diblokir. Tapi S tetap mengejar-ngejar A yang sudah benar-benar ragu.

Pasca wisuda sarjana, A sudah tidak respek lagi dengan S yang kerap kali membohonginya dan menjelek-jelekkan dirinya kepada orang lain padahal tidak begitu kenyataannya. A hanya korban. Dia anak yang baik, sederhana, santun, nggak pecicilan.

Lalu, di bagian mana salat tahajudnya? Yang melakukan tahajud adalah si B.

Entah sejak kapan B mulai memendam rasa dengan A, yang pasti ada 2 perempuan yang ia bidik untuk menjadi istrinya kelak. Yang pertama teman saya A, yang kedua entah siapa.

Saat B tahu A ini seorang sarjana, sementara B hanya seorang pedagang makanan biasa, sebenarnya dia pesimis. Semakin pesimis lagi ketika melihat foto profil A bersama S di WA-nya. Tapi dalam hatinya masih menginginkan. B ini menurut versi A yang dia ceritakan kepada saya adalah orang yang sederhana, ibadahanya baik, dan begitu-begitulah.

Intinya si B ini selain tahajud juga melakukan istikharah. Dalam tahajudnya ia berdoa untuk diberi petunjuk dan kemantapan hati dalam memilih pasangan yang baik buatnya dan baik ilmunya. Dalam istikharahnya ia berdoa untuk diberi petunjuk tentang perempuan mana di antara dua yang dia pilih yang baik untuknya dan yang dia butuhkan.

Jadilah, maka jadilah, B memantapkan hati untuk melamar A setelah tahu A kembali single. Ibaratnya ya si B tidak mau menunda waktu lagi kalau-kalau A diambil orang. B pun memberanikan diri untuk menyampaikan perasaannya untuk menuju perlaminan. Bahkan bukan hanya itu, B lebih bisa menghargai dan memuliakan wanita yang ingin dipinangnya. Dia masih menahan diri untuk menjaga jarak dengan A selama proses akan melamar.

Kalau dari cerita si A ke saya sih, petunjuk yang dia rasakan lebih sering dalam mimpi, kemudian saat reuni pernikahan mereka selalu memakai baju dengan warna yang sama, dan posisi yang sama juga (misal depan-belakang atau pojok kanan-kiri). Semua itu murni tanpa rencana. Sadarnya juga pas sampai rumah. Selain itu juga tidak ada keragu-raguan dalam hati A tentang B. Begitu pun sebaliknya.

Tidak ada perjuangan yang mudah untuk memiliki seseorang yang baik buatmu dan baik buatnya. Sama-sama memperbaiki diri itulah yang mesti terus kita jaga.

Mereka bahkan tak menyangka jika mereka sama-sama memendam rasa sejak lama.

Semoga bermanfaat. :)

Foto apa saja yang bisa kamu bagikan untuk menghibur hati ini?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Maaf banget, selera ini terkadang receh, maka jawaban ini receh.

Demi Kamu.

Jutaan Warga Indonesia

Materi Kuliah Hari ini

Kenapa Nggak Pakai Helm?

Lampu Merah

Alasan Jomblo

Penyanyi Yang Nggak Sadar Diri

Barang Siapa

Pemain Bola 3 KG

Artis Yang Jualan Es

Rabun Dekat

Eaakk….

Pernahkah kamu melihat makhluk halus? Bisakah kamu ceritakan secara rinci kejadiannya?


Dijawab oleh: Dina Nurw

Cerita ini tidak untuk dipercaya, cukup untuk tahu saja. Saya pernah melihat beberapa kali. Bukan hanya melihat, tapi juga mendengar beberapa hal terkait mereka. Tapi ya sudah, saya hanya ingin cerita saja. Saya juga tidak tahu persis ini betulan makhluk halus atau halusinasi saya saja. Begini beberapa hal yang saya ingat:

  • Saat saya kelas 3 SD, saya sekeluarga naik motor bonceng 3. Karena saya paling kecil jadi saya duduk nylungsep di depan sendiri. Menjelang sore kami berempat berkendara motor pulang dari rumah nenek yang tinggal di desa gunung pedalaman. Sepanjang jalan pulang dari sana pada zaman dulu masih jarang ada rumah. Hanya pohon-pohon hutan lebat begitu. Saat menuju jalan di mana di depan sana nantinya akan lewat kuburan, saya dan keluarga dalam kondisi diam di jalan.

Tapi dari kejauhan saya sudah melihat ada seorang perempuan membawa tongkat dan berpakaian putih berjalan masuk ke kuburan dengan jalan yang sangaaaat lambat. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup rambutnya yang panjang. Saat perempuan itu masuk ke kuburan saya tidak bisa melihatnya lagi karena tertutup oleh batang pohon di depan jalan masuk kuburan. Saat perempuan itu baru saja masuk, beberapa detik yang tidak lama saya dan keluarga lewat kuburan itu. Saya yang penasaran dengan perempuan tadi melihat ke dalam pintu masuk kuburan, akan tetapi tidak ada wujud perempuan tadi.

Logikanya begini. Saat perempuan itu masuk, mestinya ketika saya lewat dia masih kelihatan sedang berjalan. Tidak ada akses untuk dia bisa pergi secepat itu mengingat dia jalannya sangat lambat. Tiba-tiba ayah saya bilang begini, “Loh kok ilang?” ternyata ayah saya juga sempat melihat perempuan itu masuk. Saya sempat ditanya ayah saya untuk memastikan bahwa ayah saya tidak melihatnya sendiri. Tapi ternyata yang melihat hanya saya dan ayah saya. Kakak dan ibu saya yang melihat ke arah kuburan tidak melihat ada orang masuk kuburan sama sekali.

  • Saat kemah pramuka SMP kelas 8 di desa pedalaman (lupa namanya). Penempatan kami di lapangan depan sekolah. Kanan-kiri-belakang sekolah hutan semua. Pemukiman rumah warga ke arah kanan agak jauh dari lapangan dan sekolah. Sebelumnya siswa pramuka sempat dipesani jika ingin ke WC, pakai WC sekolah dan jangan sendiri. Minta seorang teman mengantar.

Sehabis magrib teman saya bernama Ica ingin ke WC. Tapi teman-teman saya yang lain sudah ke WC tadi sebelum magrib karena takut ke WC belakang sekolah setelah magrib. Kebetulan saya juga belum ke WC, akhirnya saya bersama Ica ke WC. Awalnya di sana masih ada 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Ada 3 WC di belakang sekolah. Tapi WC paling ujung kanan yang ditutup—anggap saja WC 3—itu rusak katanya. Tidak boleh dipakai. Jadi hanya bisa 2 WC yang dipakai.

Kedua WC itu sedang dipakai. Saya dan Ica menunggu bersama 1 perempuan dan 1 laki-laki. Seorang perempuan keluar dari WC 2, lalu masuklah si laki-laki yang tadi menunggu ke WC 2. Lalu perempuan yang baru saja keluar itu pergi bersama teman perempuannya yang tadi menunggu. Tinggal saya dan Ica di luar. Anak lelaki di WC 1 keluar dan saya diminta Ica duluan saja nanti Ica pakai WC 2. Setelah saya selesai dan keluar WC, 2 anak laki-laki tadi baru selesai dan mereka pergi duluan. Ica baru masuk WC 2, saya sendirian di luar, di belakang sekolah.

Tadinya Ica khawatir saya penakut, tapi saya biasa-biasa saja dan merasa tidak apa-apa sendirian. Akhirnya saya menunggu dia sambil bersandar tembok dan melihat atasan pohon bambu. Ternyata Ica lama banget di WC. Tapi saya tetap masih biasa-biasa saja, meskipun tiba-tiba angin berhembus dan udara menjadi agak dingin. Lalu seseorang dari WC 3 keluar. Disitu saya bertanya-tanya.

Saya melihat dengan jelas seorang wanita berpakaian dinas keluar dari WC 3, berambut lurus sebahu. Saya membatin, “Tadi katanya WC 3 rusak. La ini ada guru baru selesai pakai kok.” setelah itu saya tidak berpikir apa-apa selain itu. Saya hanya fokus melihat ke wajahnya saja. Saat guru itu lewat di depan saya persis, dia menoleh dan memberi senyum tipis. Saya memberinya senyum balik. Saya pikir, mungkin ini salah satu guru di sekolah ini yang katanya ikut datang perkemahan sebagai perwakilan sekolah. Guru itu pun menghilang dibalik kelokan. Angin berhembus kembali beberapa detik kemudian dan udara kembali normal. Serius, suasananya memang kayak gitu waktu itu. Saya juga nggak ngerti.

Saat Ica keluar dan kembali ke lapangan perkemahan bersama saya, saya masih memikirkan guru perempuan tadi. Saya bertanya pada Ica.

“Ca, WC 3 beneran rusak?”

Ica menjawab, “Iya. Tadi kan Pak Heru udah bilang WC 3 kerannya mati. Gapernah dipakai juga WC-nya. Jadi ga boleh pakai. Makanya dari tadi ga ada orang pakai WC 3.”

Saya diam bentar mikir, terus ngapain tadi guru itu pakai WC 3 dan ga ada orang pakai katanya. Terus tadi yang saya kasih senyum siapa dong? Saya tanya lagi sama Ica.

“Ca, guru SD sini yang perwakilan ke perkemahan berapa orang?”

Ica menjawab, “Pak Heru bilang 2 orang.”

“Cowok-cewek?”

“Cowok semua katanya. Kan malam. Ga mungkin lah guru cewek ikutan.”

“Salah denger kalik. Masa ga ada ceweknya. Ada 1 kalik….”

“Dibilang 2 ga percaya. Tadi aku sempat ke posko kesehatan dan 2 gurunya ada di sana semua. Ga ada ceweknya. Cuma 2. Guru olahraga sama Agama. Kenapa sih?”

“Nggak apa-apa pingin tau saja. Kirain ada 3 guru.”

Ica tidak berpikiran kalau saya kenapa-kenapa yang lain. Dia lalu mengajak saya bicara yang lain, tapi pikiran saya terlempar pada guru wanita tadi. Mengetahui ini, saya tidak lalu langsung parno apa gimana-gimana. Karena saya emang orangnya nyantai aja sih. Jadi saya hanya berpikir, oh… berarti mungkin wanita tadi bukan manusia. Ya sudah kan…, lagian beliau cuma lewat. Ya sudah.

  • Saya sering tidur pagi sekitar pukul 1/2 saat SMA karena masalah sosial keluarga dan remaja saya yang membuat saya kurang waktu untuk me time. Saya gunakan malam hari untuk menulis atau nge-game di dalam kamar. Orang tua saya kira, saya sudah tidur karena lampunya sudah saya ganti dengan lampu temaram. Setiap malam pukul setengah 12—setengah 1 saya pasti mendengar gamelan Jawa dan sinden perempuan menyanyi Jawa. Seperti sudah terjadwal. Di antara pukul sekian itu pasti gamelan Jawa dan sinden akan menyanyi dari arah kanan kamar saya. Terkadang terdengar sangat dekat, tapi terkadang sangat jauh.

Rumah saya di tengah sawah dan kebon. Rumah tetangga saya agak jauh. Yang paling dekat hanya ada 1 di depan. Seorang sahabat indigo saya pernah mengatakan begini, “Kalau kamu mendengar suara mistis misal gamelan Jawa saat malam hari jauh dari kamu, berarti mereka sedang sangat dekat dengan keberadaan kamu. Kalau suara gamelannya dekat, berarti mereka jauh dari kamu.” Karena gending Jawa dan sindennya bernyanyi dengan mak nyus, saya malah menikmati. Wkwkwk. Karena saya memang suka mendengar orang nembang dan lagu-lagu Jawa, jadi saya menikmati saja. Kan mereka cuma lewat…. Jadi, ya sudah.

  • Saat saya sedang menulis/nge-game dalam kondisi tidak pakai headset/pakai tapi suara musiknya lirih, jendela yang letaknya tepat di kanan meja belajar saya terdengar sering diketuk beberapa kali. Mengetuknya wajar, tapi teratur dan pelan. Entah manusia atau bukan, saya tidak berniat untuk membuka gorden. Lagian nggak kelihatan juga. Samping kamar saya itu jalan rumput kosong untuk masuk sawah, lalu kanannya lagi hamparan sawah luas, kanannya lagi kebon, baru masuk pemukiman warga daerah lain. Tapi itu jaraknya cukup jauh. Terpikir kurang masuk akal kalau malam yang selarut itu manusia beneran iseng ketok-ketok kamar saya. Kayak kurang kerjaan banget kan. Kalau sudah begitu, biasanya saya mengeraskan volume headset saya dan bersikap biasa saja. Berusaha sesantai mungkin. Paling cuma iseng.
  • Dll. Sekiranya itu saja yang ingin saya bagi.

Memang tidak mengerikan dan cenderung mereka yang menampakkan diri pada saya untungnya berwujud bagus dan selalu perempuan. Intinya sih sebagai manusia yang bukan indigo, mereka tidak akan mengganggu kita kalau kita tidak menantang, mengganggu, atau bersikap tidak sopan di tempat orang. Itu juga pesan dari sahabat indigo saya. Mungkin mereka akan menampakkan diri atau bersuara, tapi hanya tampak dan suara saja. Ketika kamu takut, mereka tahu kamu takut dan malah suka dengan hal itu. Karena cara komunikasi kita dengan makhluk halus biasanya kan dengan batin. Jadi, ketika kamu membatin dan disitu kamu menunjukkan rasa takut, mereka malah tahu dan senang.

Sebenarnya saat kemah SMP saya itu. Saat Ica pergi ke rumah warga tidak bersama saya, dia diganggu oleh sosok di sana. Untungnya dia tidak sampai kesurupan, hanya saja tangannya sangat dingin dan sangat takut melihat ke arah yang mungkin di sana adalah sosoknya berada. Ica itu memang sangat kentara sekali saat dia takut. Sampai-sampai berkali-kali bilang sama saya, “Aku takut, aku takut sama gituan Din.”—ditambah dia sedang masa menstruasi.

Setelah kejadian Ica, malamnya dewan penggalang anak kelas saya perempuan sehabis bicara kasar dalam tenda, juga ditampakkan oleh sosok disana. Saat itu dia sedang jaga tenda, sementara yg lain tidur. Saat setelah dia baru saja bicara kasar, dia melihat siluet orang seperti memutari tendanya. Saat ia penasaran siapa, dikira temannya, maka dia sedikit membuka tenda. Tak disangka, saat itu juga sosok itu melihat ke dalam tenda teman saya. Dia otomatis berteriak dong. Sosok yang menampakinya itu ternyata Mbak kunt*.

Bahkan anak kelas saya juga yang berada di tenda sebelah kanan—nomor 3 dari tenda saya—tiba-tiba dia kesurupan. Anaknya emang gampang kesurupan sih. Jadi kami yang mengetahuinya sudah tidak heran lagi.

Di sisi lain, sahabat indigo saya saat persiapan api unggun dan kami duduk berdua di dekat-dekat tempat kumpul, habis ngobrol dan menunggu teman lain bersiap sempat didekati Pak Heru guru kami. Pak Heru ini penasaran kenapa sahabat saya ini duduk melihat fokus ke satu tempat ke arah hutan, tapi diam saja. Dikira melamun, takutnya kenapa-kenapa, Pak Heru bertanya, "Kamu kenapa kok diam saja? Kamu lihat apa?"

Jawaban sahabat saya, dia melihat banyak orang melingkari sebuah pohon besar dan meletakkan sesajen di sana. Mereka menyembah pohon itu dan berdoa di sana. Padahal yang dia lihat di mata orang biasa adalah hutan. Tapi Pak Heru hanya mengangguk paham. Paham kalau sahabat saya bisa melihat. Tapi untungnya dia tidak gampang kesurupan anaknya.

Saya sudah terbiasa dengan cerita-cerita dia dari sejak awal dia dikata-katain anak kelas saya gegara dilihat "aneh" dan karena indigonya itu. Awalnya dia tidak punya teman dekat yang berani menampung ceritanya. Dia depresi, sulit tidur, dsb. Sampai akhirnya kami kenal, berteman dekat, dan saya yang menampung ceritanya sejak saat baru masuk SMP, meskipun tidak duduk sebangku. Sebenarnya masih ada banyak pengalaman yang belum saya ceritakan di sini. Tapi segitu saja yang kira-kira tidak terlalu ekstrim, ntar jadi novel malah.

Sekian cerita dari saya. Semoga ada hal yang bisa diambil hikmahnya.

Postingan apa yang membuatmu mendadak bersedih?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Postingan saya sendiri di Instagram. Maaf, bukan bermaksud narsis. Tapi bagi saya foto ini memiliki kenangan yang membuat saya bersedih setiap melihatnya. Kenapa?

Itu foto di hari terakhir saya mengajar tahsin (perbaikan bacaan Alquran) kepada ibu-ibu di tempat saya melaksanakan KKN. Sebenarnya masih ada banyak ibu-ibunya, tapi di hari terakhir itu ibu-ibu yang lain berhalangan hadir karena ada yang sakit dan keperluan lainnya.

Saya mengajar tahsin kepada mereka di sana dengan metode yang diajarkan di salah satu ponpes tahfidz yang ada di Yogyakarta tempat saya belajar. Yang membuat saya bersedih adalah harapan-harapan mereka untuk bisa mengaji begitu antusias, namun tidak ada pengajar rutin yang memberikan ilmu tersebut di desanya. Sementara saya bukan orang sana dan saya selalu rindu momen tersebut.

Dulu saya berencana mengadakan pengajaran tahsin satu minggu dua kali. Tapi melihat semangat mereka yang begitu ingin untuk dapat membaca dan dekat dengan Alquran membuat hati saya tersentuh. Maka saya mengadakan itu semau mereka ingin belajar kapanpun saya siap.

Saya memberi mereka fotocopy-an berupa huruf-huruf hijaiyah, tanda-tanda pembacaannya, dan nama-nama pelafazannya agar memudahkan mereka dalam mengingat, mencatat, dan belajar membacanya dari dasar.

Saya tidak menyangka bahwa ternyata orang-orang di desa pelosok masih minim sekali edukasi tentang belajar membaca Alquran. Di desa tempat saya KKN justru tidak ada edukasi tersebut. Bahkan usia yang sudah tua pun ibu-ibu di sana ada yang buta huruf arab, tapi mereka memiliki antusias yang tinggi untuk mau belajar Alquran tanpa malu-malu.

Satu hal yang membuat saya ingin menangis haru ketika ibu berkerudung biru tua yang ada di foto saya itu sampai menangis sambil berkata bahwa kalau tidak ada yang mengajarkan mereka mengaji lagi, lalu bagaimana mereka bisa lancar membacanya dan bekal untuk di akhirat nanti? Bahkan ada juga yang bilang bahwa ingin sekali dekat dengan Alquran sebagai penyelamat dan penerang mereka di alam barzah dan akhirat kelak.

Aduh, nggak ngerti lagi deh, nano-nano rasanya ingat itu semua. Ketika anak-anak muda masih banyak yang "bangga" dengan hidup glamour, foya-foya, dan bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana kematian mereka kelak, itu menampar diri saya sendiri juga sebagai anak muda yang banyak dosa. Baper saya.

Intinya saya mendapatkan pembelajaran dari cerita ibu-ibu di sana bahwa "Kalau hidup hanya untuk bermain-main, ingatlah bahwa kematian tidak menunda tanggal main". Maka belajarlah dari sekarang untuk mentafakuri bekal apa yang sudah kita siapkan di akhirat kelak, selalu senantiasa bermuhasabah diri dan memperbaiki diri. Usia muda atau tua tak ada yang tahu kapan kamu akan dipanggil Tuhan. Maka bersiaplah untuk selalu mendekatkan diri pada hal-hal baik dan juga kepada Tuhanmu.

Sekian. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita bersama. :)

Apa kebodohan mahasiswa yang membuatmu geleng-geleng kepala?


Dijawab oleh: Dina Nurw

Bukan bodoh sih, cuma terkadang kurang mau evaluasi diri.

Jadi begini, saya punya pengalaman di mana saya dinyinyirin oleh teman sekelas saya gara-gara nilai. Lalu di situ saya batin kayak begini: “Kok jadi aku yang diserang?”

Dulu saat saya semester 4, ada mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia. Sedikit penjelasan bahwa Sintaksis merupakan cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya. Intinya tentang ilmu tata kalimat.

Kebetulan dosen yang mengajar matkul ini adalah dosen yang tertib, disiplin, dan tegas dalam artian bahwa beliau nggak akan kasih nilai A ke mahasiswa jika memang presentase dari kontrak belajar tidak mencukupi. Nggak ada kata “formalitas” dalam kamus penilaian beliau.

Banyak mahasiswa yang tidak suka dengan beliau karena perkara cara penilaiannya itu. Entah takut atau malas belajar, entahlah. Tapi biasanya dosen saya yang seperti ini mengajarnya sangat jelas dan enak sekali untuk diikuti. Saya justru merasa dosen yang seperti ini menantang.

Saya itu tipikal mahasiswa yang mood-mood-an buat mencatat omongan dosen atau apapun yang dosen tampilkan baik di LCD/papan tulis. Kalau saya nggak mood, ya nggak mencatat.

Lagian apa yang dosen sampaikan itu terkadang ada di buku dan tinggal dibaca saja. Kalau nggak ada ya tinggal minta PPT dosen. Kalau nggak boleh di-copy/nggak ada PPT ya saya lebih nyaman dengan mencatat poin-poinnya saja jika saya merasa perlu untuk dicatat. Sisanya lebih ke mendengarkan. Saya tipikal pembelajar yang seperti itu.

Nah, di matkul Sintaksis ini saya dari awal kuliah sampai akhir, nggak pernah mencatat materi yang bersifat penjelasan sama sekali. Terkesan pecicilan memang.

Tapi jujur saja saya merasa tidak perlu ditulis bukan karena saya sok-sokan bisa, tapi memang penjelasan materi di buku sudah ada semua. Tinggal dibaca dan dipahami. Ribet soalnya. Saya lebih senang mendengarkan.

Saya hanya menulis jawaban dari pertanyaan dosen saja terkait praktik tata tulis. Karena dosen akan memutari kelas untuk mengecek apakah mahasiswa mengerjakan atau tidak. Baru setelahnya mahasiswa diminta maju ke papan tulis untuk menjawab (bagi yang mau jawab).

Beberapa kali saya iseng menjawab. Nggak sering juga sih. Biasa saja. Salah ya bodo amat dah, karena niatnya saya cuma mengisi kekosongan kelas—maksudnya adalah mahasiswa lingkungan saya kalau menjawab pertanyaan tidak dihitung nilai oleh dosen itu kayak “Ngapain sih jawab? Nggak dapat nilai juga”. Oleh karenanya jadi jarang ada yang mau maju.

Dosen pun selama kuliah lebih banyak memberikan kami penjelasan dari praktik tata tulis yang baik dan benar itu seperti apa daripada materi yang bersifat deskriptif.

Praktik itu pun sekaligus diberikan keterangan kenapa kalimat benarnya seperti itu? Kenapa itu salah? Jadi mahasiswa diminta harus tahu alasan dan penjelasannya sendiri, baru nanti dikoreksi.

Kelihatannya Sintaksis ini sepele, tapi kenyataannya masih banyak mahasiswa jurusan saya yang menyepelekannya dan menganggap ini mudah, lalu tidak mempelajari sampai membuat dosen bahasa setres mengoreksi jawaban mahasiswa.

Dosen-dosen khususnya dosen bahasa biasanya akan sangat sensitif sekali dengan tulisan ilmiah mahasiswa bahasa Indonesia. Karena ya… kesannya tidak wajar anak bahasa, tapi isi tulisan ilmiahnya berantakan, tidak relevan, dan typo bertebaran di mana-mana.

Kalau prodi lain seperti itu tidak akan terlalu disindir, kalau prodi saya nyindirnya bukan cuma pas kuliah tentang ini saja, tapi segala tugas baik makalah, PPT, skripsi, atau tulis tangan semua disindir kalau tidak benar tata tulisnya. Jangan salah, nyindirnya pedas banget asli. Galak. Bahkan ada yang bisa setega itu memaki/dibantai.

Bahkan pernah teman satu kelas saya perempuan dibantai dosen habis-habisan selama 1 jam mata kuliah cuma gara-gara proposal penelitiannya untuk skripsi hancur total tata bahasa tulisnya. Bahkan ada bagian yang plagiat pun dosen saya tahu sampai membuat teman saya itu kelabakan menjawab.

Kenyataannya pun memang benar ada bagian-bagian di mana teman saya itu plagiat. Dosen bahasa Indonesia saya memang kritis-kritis soal itu. Saya rasa di universitas lain jelas sama kritisnya.

Bahkan ketika dosen bahasa Indonesia saya menjadi juri lomba tulisan ilmiah yang harus dipresentasikan, dia nggak peduli finalis lomba itu dari prodi apa, pokoknya ketika banyak kesalahan tata bahasa dan berbicara, langsung dibantai. Sesadis itu memang. Wkwk.

Tapi teman-teman sekelas saya itu rajin-rajin mencatatnya, tidak seperti saya yang mageran. Haha. Setiap orang kan punya cara masing-masing ya dalam belajar. Ya sudahlah, terserah mereka. Saya begini, mereka begitu. Nilai juga ditanggung masing-masing.

Sampai UTS dan UAS tiba. Teman-teman saya itu kebanyakan terbiasa dengan belajar di kelas dan kalau mau ujian saja. Ada juga yang di kelas ikut belajar, tapi pas ujian nggak belajar. Yang paling parah ada yang benar-benar nggak niat sampai nggak belajar sama sekali.

Saya termasuk yang ujian nggak pernah belajar. Sepecicilan itu, iya. Saya cuma baca poin-poin materi sekilas saja yang pernah saya baca dan buat catatan kecil di buku. Itu kayaknya menurut saya lebih ke peninjauan kembali sih, nggak termasuk belajar.

Nah, setelah nilai hasil akhir matkul Sintaksis keluar. Teman-teman saya pada heboh dan nggak terima karena banyak yang dapat nilai C dan beberapa dapat B. Nggak ada satu pun yang dapat A.

Mereka mulai dengan argumen masing-masing yang menyalahkan dosen karena tidak inilah, tidak itulah, gimana sih kok begini, kok begitu. Dosen pelit. Aku kan ngerjain tugas, aku kan kemarin maju, aku kan masuk kelas terus, dll.

Saya yang belum buka portal nilai ya nggak merasa perlu panik, biasa saja. Soalnya saya sudah sadar diri andaikan dapat nilai C/B. Kan saya nggak pernah mencatat sama sekali. Ujian juga nggak belajar. Jadi ya berarti salah saya sendiri. Tapi saya merasa bisa mengerjakan waktu itu. Pas saya ditanya teman-teman berapa nilainya, baru saya cek portal nilai.

Ternyata saya dapat nilai A.

Di situ saya merasa mengerti alasan kenapa saya bisa dapat A. Gara-gara itu banyak teman-teman saya (nggak semua) langsung nyinyir mencari-cari kesalahan orang lain kayak:

“Ih, kan kamu nggak pernah nyatet, kan aku yang selalu nyatet. Kok kamu yang dapat nilai A sih!”

“Kamu kan ujian nggak belajar, kok dapat A sih. Dosennya nggak adil banget!”

“Eh, gimana sih woy dosennya kasih nilainya. Nggak jelas banget. Masa Dina dapat A coba.”

“Ah, dosennya katrol nilai doang nih kalik. Nggak adil.”

“Eh, perasaan majuku di kelas juga lebih banyak daripada Dina, kok nggak dapat A sih? Curiga aku.”

“Eh, protes yuk!?”

Dll. Bahkan yang mendapat nilai B juga tidak merasa puas.

Saya senyum saja. Saya bilang:

“Belajar itu nggak cuma di dalam kelas bro. Coba koreksi diri dulu sebelum protes dosennya dan nyalahin orang lain. Begini-begini aku belajar di luar kelas lho. Nanti kalian sampai ruang dosen malah malu sendiri lho.”

Kan poinnya begini ya:

  • Apa gunanya banyak mencatat, kalau nggak pernah dibaca ulang/membaca buku panduan.
  • Apa gunanya menghapal, tapi nggak dipahami.
  • Apa gunanya selalu masuk kelas, kalau di kelas kamu cuma jadi penonton, tapi di luar kelas nggak ada usaha.

Jadi, apa yang saya lakukan padahal saya nggak pernah mencatat dan ujian nggak belajar? Jawab pertanyaan juga sekali-kali doang. Kok bisa dapat A?

Jadi begini, dalam hal sintaksis ini saya sebenarnya lebih banyak menghabiskan waktu belajar di luar kelas. Karena saya sering menulis dan iseng ikut lomba-lomba menulis ilmiah maupun karya fiksi.

Jadi, tentunya saya sudah berinisiatif sendiri untuk belajar fundamentalnya dan terbiasa praktik dari dulu. Jadi wajar saja kalau tiba-tiba saya dapat A. Teman-teman saya padahal tahu kalau saya sering ikut lomba menulis, tapi entahlah kenapa mereka tidak terima.

Di sisi lain, saya juga sering diminta tolong teman-teman progam studi lain untuk membantu editing tulisan mereka sebelum dipublikasi di publik. Jadi ya sudah, sekalian membantu, sekalian belajar.

Kesalahan mahasiswa bahasa adalah ketika dia belajar tata tulis sudah dikasih tahu yang benar seperti apa, tapi tetap dibiasakan menulis di tugas dengan suka-suka dia saja. Jadi kayak nggak ada perubahan. Percuma.

Belajar itu kan bukan hanya di ruang kelas. Bukan juga hanya saat mau ujian. Belajar itu kapan pun. Itu kenapa pas mau ujian saya santai-santai saja. Karena setiap hari saya sudah belajar. Hahaha. Tidak untuk ditiru. Kalau kamu terbiasa belajar sebelum ujian, belajarlah.

Jadi, dosen itu tidak melulu salah. Sebelum protes kan evaluasi diri dulu. Mungkin nilai UTS/UAS yang di bawah rata-rata atau kurang aktif di kelas. Kan gitu. Tuman. Haha.

Saya pun pernah jadi mahasiswa yang dapat nilai C dan diremehkan dosen. Tapi saya ya sudah. Sadar diri saja. Saya memang merasa belum mampu memahami materi atau kesalahan-kesalahan lainnya.

Apa susahnya balas dendam nilai saat mengulang nanti. Buat apa malu mengulang. Inti tujuannya kan memperbaiki dan mendalami kembali.

Akan menjadi malu ketika sudah mengulang, tapi tidak ada usaha hanya karena perkara pemahaman kolot kayak begini:

Ah, mahasiswa yang ngulang pasti otomatis dinilai A kok sama dosen karena kasihan. Dosen pasti mengerti.

Ada loh mahasiswa mengulang yang berpikirnya seperti itu.

Ya, jadi mahasiswa sekarang itu kayak susah banget evaluasi diri. Banyak yang ingin mendapatkan sesuatu dengan instan tanpa usaha lebih. Mendapat nilai A dari dosen yang formalitas nilai saja sudah merasa bangga dan hebat. Mencari-cari kesalahan dosen/orang lain ketika dirinya mendapatkan nilai kurang sempurna.

Catatan: Itu di lingkungan saya ya, entah di lingkungan lain seperti apa. Saya rasa sebagian sama, tapi sebagian lain belum tentu.

Semoga tulisan ini dapat diambil hikmahnya. Terima kasih sudah membaca. Salam geleng-geleng kepala. :)