Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Kamis, 27 Agustus 2020

Pernahkah kamu melihat makhluk halus? Bisakah kamu ceritakan secara rinci kejadiannya?


Dijawab oleh: Dina Nurw

Cerita ini tidak untuk dipercaya, cukup untuk tahu saja. Saya pernah melihat beberapa kali. Bukan hanya melihat, tapi juga mendengar beberapa hal terkait mereka. Tapi ya sudah, saya hanya ingin cerita saja. Saya juga tidak tahu persis ini betulan makhluk halus atau halusinasi saya saja. Begini beberapa hal yang saya ingat:

  • Saat saya kelas 3 SD, saya sekeluarga naik motor bonceng 3. Karena saya paling kecil jadi saya duduk nylungsep di depan sendiri. Menjelang sore kami berempat berkendara motor pulang dari rumah nenek yang tinggal di desa gunung pedalaman. Sepanjang jalan pulang dari sana pada zaman dulu masih jarang ada rumah. Hanya pohon-pohon hutan lebat begitu. Saat menuju jalan di mana di depan sana nantinya akan lewat kuburan, saya dan keluarga dalam kondisi diam di jalan.

Tapi dari kejauhan saya sudah melihat ada seorang perempuan membawa tongkat dan berpakaian putih berjalan masuk ke kuburan dengan jalan yang sangaaaat lambat. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup rambutnya yang panjang. Saat perempuan itu masuk ke kuburan saya tidak bisa melihatnya lagi karena tertutup oleh batang pohon di depan jalan masuk kuburan. Saat perempuan itu baru saja masuk, beberapa detik yang tidak lama saya dan keluarga lewat kuburan itu. Saya yang penasaran dengan perempuan tadi melihat ke dalam pintu masuk kuburan, akan tetapi tidak ada wujud perempuan tadi.

Logikanya begini. Saat perempuan itu masuk, mestinya ketika saya lewat dia masih kelihatan sedang berjalan. Tidak ada akses untuk dia bisa pergi secepat itu mengingat dia jalannya sangat lambat. Tiba-tiba ayah saya bilang begini, “Loh kok ilang?” ternyata ayah saya juga sempat melihat perempuan itu masuk. Saya sempat ditanya ayah saya untuk memastikan bahwa ayah saya tidak melihatnya sendiri. Tapi ternyata yang melihat hanya saya dan ayah saya. Kakak dan ibu saya yang melihat ke arah kuburan tidak melihat ada orang masuk kuburan sama sekali.

  • Saat kemah pramuka SMP kelas 8 di desa pedalaman (lupa namanya). Penempatan kami di lapangan depan sekolah. Kanan-kiri-belakang sekolah hutan semua. Pemukiman rumah warga ke arah kanan agak jauh dari lapangan dan sekolah. Sebelumnya siswa pramuka sempat dipesani jika ingin ke WC, pakai WC sekolah dan jangan sendiri. Minta seorang teman mengantar.

Sehabis magrib teman saya bernama Ica ingin ke WC. Tapi teman-teman saya yang lain sudah ke WC tadi sebelum magrib karena takut ke WC belakang sekolah setelah magrib. Kebetulan saya juga belum ke WC, akhirnya saya bersama Ica ke WC. Awalnya di sana masih ada 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Ada 3 WC di belakang sekolah. Tapi WC paling ujung kanan yang ditutup—anggap saja WC 3—itu rusak katanya. Tidak boleh dipakai. Jadi hanya bisa 2 WC yang dipakai.

Kedua WC itu sedang dipakai. Saya dan Ica menunggu bersama 1 perempuan dan 1 laki-laki. Seorang perempuan keluar dari WC 2, lalu masuklah si laki-laki yang tadi menunggu ke WC 2. Lalu perempuan yang baru saja keluar itu pergi bersama teman perempuannya yang tadi menunggu. Tinggal saya dan Ica di luar. Anak lelaki di WC 1 keluar dan saya diminta Ica duluan saja nanti Ica pakai WC 2. Setelah saya selesai dan keluar WC, 2 anak laki-laki tadi baru selesai dan mereka pergi duluan. Ica baru masuk WC 2, saya sendirian di luar, di belakang sekolah.

Tadinya Ica khawatir saya penakut, tapi saya biasa-biasa saja dan merasa tidak apa-apa sendirian. Akhirnya saya menunggu dia sambil bersandar tembok dan melihat atasan pohon bambu. Ternyata Ica lama banget di WC. Tapi saya tetap masih biasa-biasa saja, meskipun tiba-tiba angin berhembus dan udara menjadi agak dingin. Lalu seseorang dari WC 3 keluar. Disitu saya bertanya-tanya.

Saya melihat dengan jelas seorang wanita berpakaian dinas keluar dari WC 3, berambut lurus sebahu. Saya membatin, “Tadi katanya WC 3 rusak. La ini ada guru baru selesai pakai kok.” setelah itu saya tidak berpikir apa-apa selain itu. Saya hanya fokus melihat ke wajahnya saja. Saat guru itu lewat di depan saya persis, dia menoleh dan memberi senyum tipis. Saya memberinya senyum balik. Saya pikir, mungkin ini salah satu guru di sekolah ini yang katanya ikut datang perkemahan sebagai perwakilan sekolah. Guru itu pun menghilang dibalik kelokan. Angin berhembus kembali beberapa detik kemudian dan udara kembali normal. Serius, suasananya memang kayak gitu waktu itu. Saya juga nggak ngerti.

Saat Ica keluar dan kembali ke lapangan perkemahan bersama saya, saya masih memikirkan guru perempuan tadi. Saya bertanya pada Ica.

“Ca, WC 3 beneran rusak?”

Ica menjawab, “Iya. Tadi kan Pak Heru udah bilang WC 3 kerannya mati. Gapernah dipakai juga WC-nya. Jadi ga boleh pakai. Makanya dari tadi ga ada orang pakai WC 3.”

Saya diam bentar mikir, terus ngapain tadi guru itu pakai WC 3 dan ga ada orang pakai katanya. Terus tadi yang saya kasih senyum siapa dong? Saya tanya lagi sama Ica.

“Ca, guru SD sini yang perwakilan ke perkemahan berapa orang?”

Ica menjawab, “Pak Heru bilang 2 orang.”

“Cowok-cewek?”

“Cowok semua katanya. Kan malam. Ga mungkin lah guru cewek ikutan.”

“Salah denger kalik. Masa ga ada ceweknya. Ada 1 kalik….”

“Dibilang 2 ga percaya. Tadi aku sempat ke posko kesehatan dan 2 gurunya ada di sana semua. Ga ada ceweknya. Cuma 2. Guru olahraga sama Agama. Kenapa sih?”

“Nggak apa-apa pingin tau saja. Kirain ada 3 guru.”

Ica tidak berpikiran kalau saya kenapa-kenapa yang lain. Dia lalu mengajak saya bicara yang lain, tapi pikiran saya terlempar pada guru wanita tadi. Mengetahui ini, saya tidak lalu langsung parno apa gimana-gimana. Karena saya emang orangnya nyantai aja sih. Jadi saya hanya berpikir, oh… berarti mungkin wanita tadi bukan manusia. Ya sudah kan…, lagian beliau cuma lewat. Ya sudah.

  • Saya sering tidur pagi sekitar pukul 1/2 saat SMA karena masalah sosial keluarga dan remaja saya yang membuat saya kurang waktu untuk me time. Saya gunakan malam hari untuk menulis atau nge-game di dalam kamar. Orang tua saya kira, saya sudah tidur karena lampunya sudah saya ganti dengan lampu temaram. Setiap malam pukul setengah 12—setengah 1 saya pasti mendengar gamelan Jawa dan sinden perempuan menyanyi Jawa. Seperti sudah terjadwal. Di antara pukul sekian itu pasti gamelan Jawa dan sinden akan menyanyi dari arah kanan kamar saya. Terkadang terdengar sangat dekat, tapi terkadang sangat jauh.

Rumah saya di tengah sawah dan kebon. Rumah tetangga saya agak jauh. Yang paling dekat hanya ada 1 di depan. Seorang sahabat indigo saya pernah mengatakan begini, “Kalau kamu mendengar suara mistis misal gamelan Jawa saat malam hari jauh dari kamu, berarti mereka sedang sangat dekat dengan keberadaan kamu. Kalau suara gamelannya dekat, berarti mereka jauh dari kamu.” Karena gending Jawa dan sindennya bernyanyi dengan mak nyus, saya malah menikmati. Wkwkwk. Karena saya memang suka mendengar orang nembang dan lagu-lagu Jawa, jadi saya menikmati saja. Kan mereka cuma lewat…. Jadi, ya sudah.

  • Saat saya sedang menulis/nge-game dalam kondisi tidak pakai headset/pakai tapi suara musiknya lirih, jendela yang letaknya tepat di kanan meja belajar saya terdengar sering diketuk beberapa kali. Mengetuknya wajar, tapi teratur dan pelan. Entah manusia atau bukan, saya tidak berniat untuk membuka gorden. Lagian nggak kelihatan juga. Samping kamar saya itu jalan rumput kosong untuk masuk sawah, lalu kanannya lagi hamparan sawah luas, kanannya lagi kebon, baru masuk pemukiman warga daerah lain. Tapi itu jaraknya cukup jauh. Terpikir kurang masuk akal kalau malam yang selarut itu manusia beneran iseng ketok-ketok kamar saya. Kayak kurang kerjaan banget kan. Kalau sudah begitu, biasanya saya mengeraskan volume headset saya dan bersikap biasa saja. Berusaha sesantai mungkin. Paling cuma iseng.
  • Dll. Sekiranya itu saja yang ingin saya bagi.

Memang tidak mengerikan dan cenderung mereka yang menampakkan diri pada saya untungnya berwujud bagus dan selalu perempuan. Intinya sih sebagai manusia yang bukan indigo, mereka tidak akan mengganggu kita kalau kita tidak menantang, mengganggu, atau bersikap tidak sopan di tempat orang. Itu juga pesan dari sahabat indigo saya. Mungkin mereka akan menampakkan diri atau bersuara, tapi hanya tampak dan suara saja. Ketika kamu takut, mereka tahu kamu takut dan malah suka dengan hal itu. Karena cara komunikasi kita dengan makhluk halus biasanya kan dengan batin. Jadi, ketika kamu membatin dan disitu kamu menunjukkan rasa takut, mereka malah tahu dan senang.

Sebenarnya saat kemah SMP saya itu. Saat Ica pergi ke rumah warga tidak bersama saya, dia diganggu oleh sosok di sana. Untungnya dia tidak sampai kesurupan, hanya saja tangannya sangat dingin dan sangat takut melihat ke arah yang mungkin di sana adalah sosoknya berada. Ica itu memang sangat kentara sekali saat dia takut. Sampai-sampai berkali-kali bilang sama saya, “Aku takut, aku takut sama gituan Din.”—ditambah dia sedang masa menstruasi.

Setelah kejadian Ica, malamnya dewan penggalang anak kelas saya perempuan sehabis bicara kasar dalam tenda, juga ditampakkan oleh sosok disana. Saat itu dia sedang jaga tenda, sementara yg lain tidur. Saat setelah dia baru saja bicara kasar, dia melihat siluet orang seperti memutari tendanya. Saat ia penasaran siapa, dikira temannya, maka dia sedikit membuka tenda. Tak disangka, saat itu juga sosok itu melihat ke dalam tenda teman saya. Dia otomatis berteriak dong. Sosok yang menampakinya itu ternyata Mbak kunt*.

Bahkan anak kelas saya juga yang berada di tenda sebelah kanan—nomor 3 dari tenda saya—tiba-tiba dia kesurupan. Anaknya emang gampang kesurupan sih. Jadi kami yang mengetahuinya sudah tidak heran lagi.

Di sisi lain, sahabat indigo saya saat persiapan api unggun dan kami duduk berdua di dekat-dekat tempat kumpul, habis ngobrol dan menunggu teman lain bersiap sempat didekati Pak Heru guru kami. Pak Heru ini penasaran kenapa sahabat saya ini duduk melihat fokus ke satu tempat ke arah hutan, tapi diam saja. Dikira melamun, takutnya kenapa-kenapa, Pak Heru bertanya, "Kamu kenapa kok diam saja? Kamu lihat apa?"

Jawaban sahabat saya, dia melihat banyak orang melingkari sebuah pohon besar dan meletakkan sesajen di sana. Mereka menyembah pohon itu dan berdoa di sana. Padahal yang dia lihat di mata orang biasa adalah hutan. Tapi Pak Heru hanya mengangguk paham. Paham kalau sahabat saya bisa melihat. Tapi untungnya dia tidak gampang kesurupan anaknya.

Saya sudah terbiasa dengan cerita-cerita dia dari sejak awal dia dikata-katain anak kelas saya gegara dilihat "aneh" dan karena indigonya itu. Awalnya dia tidak punya teman dekat yang berani menampung ceritanya. Dia depresi, sulit tidur, dsb. Sampai akhirnya kami kenal, berteman dekat, dan saya yang menampung ceritanya sejak saat baru masuk SMP, meskipun tidak duduk sebangku. Sebenarnya masih ada banyak pengalaman yang belum saya ceritakan di sini. Tapi segitu saja yang kira-kira tidak terlalu ekstrim, ntar jadi novel malah.

Sekian cerita dari saya. Semoga ada hal yang bisa diambil hikmahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar