Dijawab oleh: Dina Nurw
Ada. Singkat saja, tapi penting. Jadi begini, sebelum saya cerita, lihat dan baca tulisan pada gambar screen shoot di bawah ini:
Saya menemukan komentar ini di Play Store. Dia ceritanya mengomentari sebuah aplikasi edukasi cerdas cermat yang dianggapnya tidak mampu memberikan jawaban yang sesuai.
Jadi begini, komentar tersebut adalah salah satu gambaran dari wajah netizen kita yang mudah marah dan tersinggung.
Ini pentingnya kita belajar ilmu pengetahuan bukan hanya sekadar tahu, tapi juga dipahami dan ditelaah jika ragu.
Sama
halnya ketika kita dapat informasi, lalu kita baca. Kita membaca jangan
hanya sekadar baca, ditangkap sekali, lalu sudah. Itu masih mentah.
Kita
perlu tahu dulu akar masalahnya itu apa, baru setelahnya kritik jika
diperlukan. Sampaikan dengan baik namun tegas, nggak perlu ngegas. Biasa
saja. Woles.
Kalau kita dapat salah tak melulu langsung protes
"Kenapa saya salah! Saya itu benar! Saya sudah begini, saya sudah
begitu!" Sama halnya seperti mahasiswa yang mudah protes kenapa dosen
memberikan dia nilai C padahal dia mengerjakan tugas dan masuk kelas.
Perlulah kita pikirkan dulu untuk mengoreksi diri. Mungkin memang saya ada keliru? Pikirkan itu dulu, baru protes.
Untuk
sekadar mengucapkan maaf dan mengakui kesalahan itu sekarang ini
terbilang miris. Banyak yang merasa pintar dan benar sampai tidak mau
membuka diri untuk dikritik kembali.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar