Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Minggu, 26 April 2020

Rasa Sakit


"Ya Allah... kenapa sih masalahnya nggak selesai-selesai? Sakit banget rasanya mesti kayak begini terus," keluhmu sambil menangis tersedu-sedu.

Kenyataannya hidup tidak mungkin tanpa masalah dan setiap orang pernah merasakannya. Entah itu karena cinta kepada apa dan siapa saja atau perasaan kecewa. Sementara kita hanya bisa menerima. Kemudian keluhanmu itu tidak akan membawa kebaikan apa-apa, kecuali hanya akan menambah cemas dan lara.

Percayalah kawan, ketika kamu yakin akan ada hal baik yang Allah sembunyikan dibalik itu, kamu benar akan menemukannya. Bagaimana kamu bisa tahu benar ada? Yakinlah dulu, bersabar, lalu jangan lupa bernapas. Kalau kamu terus mengeluh, kamu akan terjebak dengan perasaan yang sama.
Kamu meminta pada Allah agar kamu menjadi orang yang kuat, maka Allah uji dengan berikanmu rasa sakit supaya kamu belajar berserah diri dan menjadi orang yang lebih kuat. Lapangkan hatimu, maka Allah akan senantiasa bersamamu. Allah katakan dalam Alquran surah Al Insyirah ayat 5,

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kawan, tidak ada permasalahan tanpa penyelesaian. Yakinlah bahwa kamu mampu lewati ujian akan rasa sakit dalam masalahmu saat ini. Khusnuzon, baik sangka dengan Allah. "Yakinlah bahwa Allah selalu ada untukmu". Itu poinnya.

Yuk, bentangkan sajadahmu. Mari berdialog kepada Tuhan dengan serius.
Tenang... ada Allah. :)

"Mbak, Aku Dulu!"

 
 
Sebut saja dia. Eaakk... dia siapa?

Saya teringat oleh seorang murid mengaji TPA. Dia seorang laki-laki, masih SD. Iya dia. (Kirain dia siapa?). Zonk. Dalam hidup ini nggak selamanya kata "dia" dipermaksudkan untuk doi yang begitulah. Paham sampai sini? Oke, lanjut gaes. Kesan pertama ketika saya ajak mengaji, anak-anak masih saling lempar pandang dan tunjuk-tunjukkan supaya temannya dulu yang mengaji.

Yang ujung kiri bilang ujung kanan dulu, yang ujung kanan bilang ujung kiri dulu, yang tengah bilang ujung kanan-kiri dulu. Gitu saja terus sampai Bus Trans Jogja berubah jadi Transformer. Tapi, seketika semua berubah saat "dia" angkat tangan dan bilang.

"Mbak, aku dulu."

Mantap.... dalam hatiku. Aku tanyalah ke dia sampai mana ngajinya. Dia jawab sampai surah Al-Anam. Ketika dia tengah mempersiapkan Alquran-nya, dia bilang begini.

"Sebentar Mbak. Aku punya target. Kemarin aku tuh ngaji sampai ayat 15. Berarti sekarang..." ngitung target ayatnya. "Berarti sekarang aku ngaji sampai ayat 40 Mbak."

Batinku, mantap kali bocah ni. Kecil-kecil udah punya target 25 ayat per hari. Lumayan loh target 25 ayat untuk anak kecil. Itu udah luar biasa banget mau disuruh ngajinya juga. Beda. Target kalian yang udah balig, berapa ayat hayoo? Mengetuk batin, jiwa, dan raga atau tidak ini?

Aku kecil seumuran dia ngaji sama bapakku nggak mau banyak-banyak, kena marah kalau salah. Salahnya banyak lagi wkwkwk. Tapi ngajinya tetap banyak karena dipaksa. Selesai ngaji pasti nangis, pasti nangis, pasti nangis, pasti nangis, pasti nangis. Nggak bisa lari aku, guru ngajinya aja bapak sendiri. Zaman dulu cuy, pendidikan keras. Tapi sekarang udah mengerti bahwa hasilnya cakep. Secakep bapakku.

Tidak hanya ditarget. Mantapnya bocah satu ni yang membuat saya batin dua kali adalah bapak dan ibunya kayak apa ya? Ketika dia keliru membaca lafadz yang mestinya disamarkan, tapi dia baca jelas dan saya ingatkan, disitu tiba-tiba dia bilang.

"Oh iyaa ikhfa. Ikhfa, ikhfa dibaca samar. Siap Mbak!"

Padahal saya belum ngomong apa-apa. Baru negur suruh perhatikan ayatnya dulu. Dia ingat-ingat sendiri dan langsung nyeletuk sendiri. Kemudian di tengah-tengah mengaji dia berhenti sebentar cuma buat nyeletuk lagi.

"Oh... disini ternyata banyak mad jaiznya ya Mbak. Ya ya ya."

Terus dia lanjut lagi. Ternyata di setiap bacaan, dia mengamati letak-letak tajwidnya dan itu menunjukkan bahwa dia membaca Quran tidak sekadar membaca dan tidak hanya sekadar lancar/cepat, tapi juga benar-benar memahami, memperbaiki, dan memperbagus pelafalan yang seharusnya dibaca "dengan hati" dan "hati-hati".

Secara spontan, saya berpikir bahwa dia anak yang keren. Semua murid ngaji TPA keren sih, maksudnya dia yang paling cetar gitu di antara cowok-cowok lainnya. Jarang banget cowok macam ini di luar anak pesantren.

Ketika dihadapkan murid seperti ini tuh rasanya mengetuk batin, jiwa, dan raga saya. Anak kecil yang saya temukan ini saja paham tajwid, apalah kita yang sudah dewasa ini mestinya juga sudah paham dan lancar mengajinya. Bukan membandingkan, melainkan mengingatkan akan kesadaran kita sebagai umat muslim yang kece badai ini terasah. Jika merasa belum bisa/terbata dalam mengaji, maka belajar kepada orang-orang yang bisa mengaji di sekitar Anda.

Jangan gampang merasa puas dengan kecepatan mengaji. Apalah arti cepat, jika lafadz yang dibaca keliru. Karena seorang ustad favorit saya (Ustad Adi Hidayat) pernah mengatakan, "Kekeliruan bacaan tajwid pada saat mengaji itu bisa membelokkan makna sebenarnya. Panjang-pendek suatu bacaan yang keliru pun sama halnya." Sebenarnya bukan hanya kata beliau doang sih, tapi juga kata guru agama saya di SMP, SMA, teman saya yang belajar di pesantren pun semua pernah menyampaikan demikian.

Jadi gini, kita itu mau mengaji, bukan mau balap motor. Jadi, ya woles aja. Nikmati aja kayak minum kopi bareng temen-temen. Sama-sama lah ayok kita belajar! Kalau memikirkan gengsi, kita tidak akan pernah belajar dan bisa. Malulah kita ini jika hanya berada disitu-situ aja (stagnan) dan nggak menambah ilmu akhirat. Malu sama siapa? Sama Allah gaes.

Power ranger aja berubah, masa kita enggak. Jangan kalah sama Power Ranger. Kita juga mesti punya "power" sendiri. Jadi, intinya apa?

Sebagai umat Muslim yang keren dan kece badai, marilah kita sama-sama untuk terus:

"Belajar Mengaji Tanpa Gengsi".

Itu doang sih intinya.

“Yuk hijrah, yuk Muhasabah!” :)

Sahabat Muda



1.
Ketika sekarang kalian telah sibuk dengan masa kini,
biar kuingatkan lagi bahwa dulu kita pernah sedekat nadi.
Merajut asa, mengkaji ilmu bersama, dan mengaji,
Menyelisik perkara hingga akhirnya saling memberi arti.

2.
Meski kali ini dalam angan hanya tinggal wajah,
Tiada kenang yang telah sudah atau pun punah.
Lantaran kisah kita adalah ada dan nyata,
Sapalah lagi sejumlah wajah yang pernah singgah.

3.
Barangkali sekarang senyum kalian tak lagi kaku,
Kulumlah itu sehangat ketika kita berkumpul dulu.
Mengurai canda untuk menepis lelah keseharian kita,
Lantas lari kemanakah kita setelah semua itu berganti?

Kata Rasul, dalam hadist riwayat H.R Al-Hakim:
"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan
sebaik-baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya."

Salam,
Dina, manusia biasa aja yang terlalu langsing bak model
laboratorium IPA dan kata kalian 'suka gaje' wkwk.

Miss you so much sahabat "Rohis SMA N 3" Purworejo (Romant's)

Kalian sangat memberi arti dalam hidup saya. Salah satu alasan saya bertahan hidup sampai selama ini. Selama aku ingin keluar dari zona nyaman dan berkembang dalam suatu hal penuh tantangan, hingga tanpa aku minta pun pada Tuhan, kesungguhanku justru di-amin-kan.

Aku sayang kalian, saudaraku, sahabat-sahabatku. Segala doa baik untuk kalian selalu kusematkan dalam doa. Supaya kita bisa bertemu lagi di surga-nya Allah, insyaAllah. :)