Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Kamis, 27 Agustus 2020

Apa kebodohan mahasiswa yang membuatmu geleng-geleng kepala?


Dijawab oleh: Dina Nurw

Bukan bodoh sih, cuma terkadang kurang mau evaluasi diri.

Jadi begini, saya punya pengalaman di mana saya dinyinyirin oleh teman sekelas saya gara-gara nilai. Lalu di situ saya batin kayak begini: “Kok jadi aku yang diserang?”

Dulu saat saya semester 4, ada mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia. Sedikit penjelasan bahwa Sintaksis merupakan cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya. Intinya tentang ilmu tata kalimat.

Kebetulan dosen yang mengajar matkul ini adalah dosen yang tertib, disiplin, dan tegas dalam artian bahwa beliau nggak akan kasih nilai A ke mahasiswa jika memang presentase dari kontrak belajar tidak mencukupi. Nggak ada kata “formalitas” dalam kamus penilaian beliau.

Banyak mahasiswa yang tidak suka dengan beliau karena perkara cara penilaiannya itu. Entah takut atau malas belajar, entahlah. Tapi biasanya dosen saya yang seperti ini mengajarnya sangat jelas dan enak sekali untuk diikuti. Saya justru merasa dosen yang seperti ini menantang.

Saya itu tipikal mahasiswa yang mood-mood-an buat mencatat omongan dosen atau apapun yang dosen tampilkan baik di LCD/papan tulis. Kalau saya nggak mood, ya nggak mencatat.

Lagian apa yang dosen sampaikan itu terkadang ada di buku dan tinggal dibaca saja. Kalau nggak ada ya tinggal minta PPT dosen. Kalau nggak boleh di-copy/nggak ada PPT ya saya lebih nyaman dengan mencatat poin-poinnya saja jika saya merasa perlu untuk dicatat. Sisanya lebih ke mendengarkan. Saya tipikal pembelajar yang seperti itu.

Nah, di matkul Sintaksis ini saya dari awal kuliah sampai akhir, nggak pernah mencatat materi yang bersifat penjelasan sama sekali. Terkesan pecicilan memang.

Tapi jujur saja saya merasa tidak perlu ditulis bukan karena saya sok-sokan bisa, tapi memang penjelasan materi di buku sudah ada semua. Tinggal dibaca dan dipahami. Ribet soalnya. Saya lebih senang mendengarkan.

Saya hanya menulis jawaban dari pertanyaan dosen saja terkait praktik tata tulis. Karena dosen akan memutari kelas untuk mengecek apakah mahasiswa mengerjakan atau tidak. Baru setelahnya mahasiswa diminta maju ke papan tulis untuk menjawab (bagi yang mau jawab).

Beberapa kali saya iseng menjawab. Nggak sering juga sih. Biasa saja. Salah ya bodo amat dah, karena niatnya saya cuma mengisi kekosongan kelas—maksudnya adalah mahasiswa lingkungan saya kalau menjawab pertanyaan tidak dihitung nilai oleh dosen itu kayak “Ngapain sih jawab? Nggak dapat nilai juga”. Oleh karenanya jadi jarang ada yang mau maju.

Dosen pun selama kuliah lebih banyak memberikan kami penjelasan dari praktik tata tulis yang baik dan benar itu seperti apa daripada materi yang bersifat deskriptif.

Praktik itu pun sekaligus diberikan keterangan kenapa kalimat benarnya seperti itu? Kenapa itu salah? Jadi mahasiswa diminta harus tahu alasan dan penjelasannya sendiri, baru nanti dikoreksi.

Kelihatannya Sintaksis ini sepele, tapi kenyataannya masih banyak mahasiswa jurusan saya yang menyepelekannya dan menganggap ini mudah, lalu tidak mempelajari sampai membuat dosen bahasa setres mengoreksi jawaban mahasiswa.

Dosen-dosen khususnya dosen bahasa biasanya akan sangat sensitif sekali dengan tulisan ilmiah mahasiswa bahasa Indonesia. Karena ya… kesannya tidak wajar anak bahasa, tapi isi tulisan ilmiahnya berantakan, tidak relevan, dan typo bertebaran di mana-mana.

Kalau prodi lain seperti itu tidak akan terlalu disindir, kalau prodi saya nyindirnya bukan cuma pas kuliah tentang ini saja, tapi segala tugas baik makalah, PPT, skripsi, atau tulis tangan semua disindir kalau tidak benar tata tulisnya. Jangan salah, nyindirnya pedas banget asli. Galak. Bahkan ada yang bisa setega itu memaki/dibantai.

Bahkan pernah teman satu kelas saya perempuan dibantai dosen habis-habisan selama 1 jam mata kuliah cuma gara-gara proposal penelitiannya untuk skripsi hancur total tata bahasa tulisnya. Bahkan ada bagian yang plagiat pun dosen saya tahu sampai membuat teman saya itu kelabakan menjawab.

Kenyataannya pun memang benar ada bagian-bagian di mana teman saya itu plagiat. Dosen bahasa Indonesia saya memang kritis-kritis soal itu. Saya rasa di universitas lain jelas sama kritisnya.

Bahkan ketika dosen bahasa Indonesia saya menjadi juri lomba tulisan ilmiah yang harus dipresentasikan, dia nggak peduli finalis lomba itu dari prodi apa, pokoknya ketika banyak kesalahan tata bahasa dan berbicara, langsung dibantai. Sesadis itu memang. Wkwk.

Tapi teman-teman sekelas saya itu rajin-rajin mencatatnya, tidak seperti saya yang mageran. Haha. Setiap orang kan punya cara masing-masing ya dalam belajar. Ya sudahlah, terserah mereka. Saya begini, mereka begitu. Nilai juga ditanggung masing-masing.

Sampai UTS dan UAS tiba. Teman-teman saya itu kebanyakan terbiasa dengan belajar di kelas dan kalau mau ujian saja. Ada juga yang di kelas ikut belajar, tapi pas ujian nggak belajar. Yang paling parah ada yang benar-benar nggak niat sampai nggak belajar sama sekali.

Saya termasuk yang ujian nggak pernah belajar. Sepecicilan itu, iya. Saya cuma baca poin-poin materi sekilas saja yang pernah saya baca dan buat catatan kecil di buku. Itu kayaknya menurut saya lebih ke peninjauan kembali sih, nggak termasuk belajar.

Nah, setelah nilai hasil akhir matkul Sintaksis keluar. Teman-teman saya pada heboh dan nggak terima karena banyak yang dapat nilai C dan beberapa dapat B. Nggak ada satu pun yang dapat A.

Mereka mulai dengan argumen masing-masing yang menyalahkan dosen karena tidak inilah, tidak itulah, gimana sih kok begini, kok begitu. Dosen pelit. Aku kan ngerjain tugas, aku kan kemarin maju, aku kan masuk kelas terus, dll.

Saya yang belum buka portal nilai ya nggak merasa perlu panik, biasa saja. Soalnya saya sudah sadar diri andaikan dapat nilai C/B. Kan saya nggak pernah mencatat sama sekali. Ujian juga nggak belajar. Jadi ya berarti salah saya sendiri. Tapi saya merasa bisa mengerjakan waktu itu. Pas saya ditanya teman-teman berapa nilainya, baru saya cek portal nilai.

Ternyata saya dapat nilai A.

Di situ saya merasa mengerti alasan kenapa saya bisa dapat A. Gara-gara itu banyak teman-teman saya (nggak semua) langsung nyinyir mencari-cari kesalahan orang lain kayak:

“Ih, kan kamu nggak pernah nyatet, kan aku yang selalu nyatet. Kok kamu yang dapat nilai A sih!”

“Kamu kan ujian nggak belajar, kok dapat A sih. Dosennya nggak adil banget!”

“Eh, gimana sih woy dosennya kasih nilainya. Nggak jelas banget. Masa Dina dapat A coba.”

“Ah, dosennya katrol nilai doang nih kalik. Nggak adil.”

“Eh, perasaan majuku di kelas juga lebih banyak daripada Dina, kok nggak dapat A sih? Curiga aku.”

“Eh, protes yuk!?”

Dll. Bahkan yang mendapat nilai B juga tidak merasa puas.

Saya senyum saja. Saya bilang:

“Belajar itu nggak cuma di dalam kelas bro. Coba koreksi diri dulu sebelum protes dosennya dan nyalahin orang lain. Begini-begini aku belajar di luar kelas lho. Nanti kalian sampai ruang dosen malah malu sendiri lho.”

Kan poinnya begini ya:

  • Apa gunanya banyak mencatat, kalau nggak pernah dibaca ulang/membaca buku panduan.
  • Apa gunanya menghapal, tapi nggak dipahami.
  • Apa gunanya selalu masuk kelas, kalau di kelas kamu cuma jadi penonton, tapi di luar kelas nggak ada usaha.

Jadi, apa yang saya lakukan padahal saya nggak pernah mencatat dan ujian nggak belajar? Jawab pertanyaan juga sekali-kali doang. Kok bisa dapat A?

Jadi begini, dalam hal sintaksis ini saya sebenarnya lebih banyak menghabiskan waktu belajar di luar kelas. Karena saya sering menulis dan iseng ikut lomba-lomba menulis ilmiah maupun karya fiksi.

Jadi, tentunya saya sudah berinisiatif sendiri untuk belajar fundamentalnya dan terbiasa praktik dari dulu. Jadi wajar saja kalau tiba-tiba saya dapat A. Teman-teman saya padahal tahu kalau saya sering ikut lomba menulis, tapi entahlah kenapa mereka tidak terima.

Di sisi lain, saya juga sering diminta tolong teman-teman progam studi lain untuk membantu editing tulisan mereka sebelum dipublikasi di publik. Jadi ya sudah, sekalian membantu, sekalian belajar.

Kesalahan mahasiswa bahasa adalah ketika dia belajar tata tulis sudah dikasih tahu yang benar seperti apa, tapi tetap dibiasakan menulis di tugas dengan suka-suka dia saja. Jadi kayak nggak ada perubahan. Percuma.

Belajar itu kan bukan hanya di ruang kelas. Bukan juga hanya saat mau ujian. Belajar itu kapan pun. Itu kenapa pas mau ujian saya santai-santai saja. Karena setiap hari saya sudah belajar. Hahaha. Tidak untuk ditiru. Kalau kamu terbiasa belajar sebelum ujian, belajarlah.

Jadi, dosen itu tidak melulu salah. Sebelum protes kan evaluasi diri dulu. Mungkin nilai UTS/UAS yang di bawah rata-rata atau kurang aktif di kelas. Kan gitu. Tuman. Haha.

Saya pun pernah jadi mahasiswa yang dapat nilai C dan diremehkan dosen. Tapi saya ya sudah. Sadar diri saja. Saya memang merasa belum mampu memahami materi atau kesalahan-kesalahan lainnya.

Apa susahnya balas dendam nilai saat mengulang nanti. Buat apa malu mengulang. Inti tujuannya kan memperbaiki dan mendalami kembali.

Akan menjadi malu ketika sudah mengulang, tapi tidak ada usaha hanya karena perkara pemahaman kolot kayak begini:

Ah, mahasiswa yang ngulang pasti otomatis dinilai A kok sama dosen karena kasihan. Dosen pasti mengerti.

Ada loh mahasiswa mengulang yang berpikirnya seperti itu.

Ya, jadi mahasiswa sekarang itu kayak susah banget evaluasi diri. Banyak yang ingin mendapatkan sesuatu dengan instan tanpa usaha lebih. Mendapat nilai A dari dosen yang formalitas nilai saja sudah merasa bangga dan hebat. Mencari-cari kesalahan dosen/orang lain ketika dirinya mendapatkan nilai kurang sempurna.

Catatan: Itu di lingkungan saya ya, entah di lingkungan lain seperti apa. Saya rasa sebagian sama, tapi sebagian lain belum tentu.

Semoga tulisan ini dapat diambil hikmahnya. Terima kasih sudah membaca. Salam geleng-geleng kepala. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar