Dijawab oleh: Dina Nurw
Terakhir ngukur tinggi saya 170 cm. Tapi kayaknya nambah sesenti/dua senti deh, soalnya rok SMA saya sekarang saat kuliah sudah agak cingkrang kalau dipakai. Wkwk. Berat saya terlalu langsing, jadi tak perlu diperjelas. Rasanya jadi orang tinggi apalagi saya seorang perempuan adalah sebagai berikut:
………
- Setiap ketemu orang baru pasti dikata/ditanya begini: “Tingginya berapa Mbak?”, “Keluarga kamu tinggi-tinggi ya?”, “Kok kuliah jurusan keguruan, kenapa nggak jadi pramugari saja?”, “Dulu anggota paskibra ya?”, “Tadi waktu duduk pendek, kok setelah berdiri jadi panjang”, yang paling konyol adalah pertanyaan: “Kok bisa tinggi? Makan apa?”
Jujur saja, di keluarga justru saya malah paling tinggi. Di kalangan saudara saya ada juga yang tingginya sama seperti saya, tapi laki-laki dan itu cuma 2 orang. Kayaknya bukan karena gen, meskipun kata bapak saya dulu ayah dari ayahnya ibu saya tinggi. Saya merasa bahwa saya tinggi karena sejak kecil kelas 3 SD dst itu saya rutin berenang. Jadi mungkin overdosis berenang jadilah melar ke atas begini. Badan yang dulu sebelum renang gemuk banget, langsung menciut seketika jadi langsing banget kayak kerangka manusia yang ada di laboratorium IPA (ya enggak gitu-gitu banget deng, masih berisi kok).
Saya nggak ngerti sama paradigma orang. Menurut saya kan ya nggak harus gitu orang yang bertubuh tinggi terus kuliahnya di sekolah pramugari atau jadi model. Terus kalau orang gemuk kuliahnya harus di Tata Boga jadi Chef gitu? Sungguh absurd. Saya justru malah ingin kuliah seni/sastra murni saja. Tapi oleh orang tua dilarang karena anggapan-anggapan yang begitulah dan diharuskan kuliah keguruan hanya gara-gara ayah saya seorang guru. Lanjut.
Soal paskibra. Justru saat penunjukan paskibraka di SMA, saya tidak terpilih. Malah teman saya satunya lagi yang tingginya 169 yang dipilih. Mungkin karena berat badan. Biarlah. Saya juga sebenarnya tidak tertarik menjadi paskibra. Saya tertarik ikut organisasi lain pada masa itu.
Soal kok bisa tinggi makan apa? Ya makan nasi, dipikir saya makan monas apa. Absurd.
- Susahnya jadi perempuan tinggi juga kalau mau cari gamis/rok susahnya kayak cari kutu di padang pasir. Ga ketemu! Jadi, rok dan gamis saya kebanyakan jahit sendiri. Untungnya baju nggak congklang di lengan sih, tapi kalau beli batik jadi itu pasti congklang banget meskipun ukurannya udah L. Ya kalik XL, badan udah kayak triplek pake XL ntar dikira ondel-ondel diet.
- Ketika nggak sadar atap warung/sebuah pintu masuk ternyata pendek, otomatis tuh… biasalah urusan kepala. Mending kalau kejedutnya pelan, nah kalau kenceng ya otomatis disko nih kepala.
- Di kelas kalau mahasiswa mau presentasi, biasanya saya yang suruh mencetin tombol LCD kalau tombol otomatisnya eror. Sekalian saja ya tiap kelas saya datengin terus tanyain “mana yang LCD-nya eror, biar saya pencetin dari atas”. Absurd.
- Enaknya kalau mau ngambil barang-barang di tempat tinggi jadi nggak susah.
- Kalau foto bersama pasti dapat posisi foto paling belakang, pojok. Otomatis. Sampai pernah udah pose-pose dengan cakepnya di belakang-pojok, pas sampai rumah fotonya di share di grup, wujudku doang yang nggak kefoto. Ngenes cuy, asli. Kalau nggak dapat posisi itu berarti pas lagi beruntung saja.
- Saya kan kuliah jurusan bahasa nih. Anak bahasa biasanya kalau acara-acara ditempatin jadi MC/moderator, nah saya jadi dirigen karena selain “tinggi” juga yang bisa mandu. Tapi kalau soal bisa mandu, sebenarnya anak lain juga bisa, tapi karena saya “tinggi” jadilah saya yang mandu. Kalau acara keagamaan beda lagi, tapi tetap bukan MC/moderator.
- Kalau iklan susu Zee bilang, “Tumbuh itu ke atas, ga ke samping”, saya malah ngarep ada iklan yang bilang, “Tumbuh itu ke samping nggak ke atas”. Udah cukup segini saja tingginya.
- Laki-laki banyak yang minder sama saya cuma gara-gara tingginya kalah dengan saya. Awalnya saya merasa putus asa seperti, “Cari pasangan yang sama tinggi/lebih tinggi saja ga gampang, eh yang pendek malah minder. Padahal yang lebih pendek malah orangnya lebih membuat nyaman. Gimana mau dapat jodoh kalau begini.”—tapi setelah tahu kabar pernikahan Baim Wong dan Paula, saya nggak jadi putus asa. Wkwkwk.
- Ada juga omongan orang yang pingin tinggi kayak saya, tapi omongannya bikin males jawab kayak gini: “Bagi-bagi tinggi dong….” Ya… terus saya harus jawab apa gitu loh. Secara logika yang namanya bagi-bagi tinggi ya nggak bisa. Absurd. Kalau mau tinggi ya kan usaha saja. Basket kek, renang kek, lompat-lompat tengah malam pakai daster di depan rumah kek. Apalah terserah lo. Absurd.
- Jadi tinggi “mudah diingat orang” karena cenderung beda sendiri ciri-cirinya. Bukan cuma ingat orangnya yang mana, tapi kadang juga namanya/daerah asalnya juga paling diinget. Mau tanya tukang parkir, penjaga perpus, murid magang saya, kepsek/guru-guru tempat magang saya, dll. Pasti inget deh, asli. Wkwkwk.
- Kalau berdiri bersama sekumpulan orang banyak nggak ketutupan-ketutupan amat. Masih bisa lah curi-curi pandang cari gebetan. Wkwkwk.
………
Sekiranya itu sih susah-senang jadi tinggi. Karena takdirnya tinggi ya sudah syukuri saja. Kalau yang pendek ingin tinggi, yang sedang ingin pendek/tinggi, yang tinggi ingin pendek gitu-gitu terus diulang keluhan-keluhannya nggak akan selesai-selesai. Kalau siap dengan posisi itu ya silakan berusaha untuk menjadi yang diinginkan.
Seringkali manusia banyak ingin. “Termasuk ingin dirinya dianggap berbeda". Tp ketika sudah diletakkan pada posisi yang diinginkan malah banyak mengeluhnya. Jadi kesimpulannya, saya merasa biasa-biasa saja dengan tinggi saya dan saya bersyukur. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar