Dijawab oleh: Dina Nurw
Postingan saya sendiri di Instagram. Maaf, bukan bermaksud narsis. Tapi bagi saya foto ini memiliki kenangan yang membuat saya bersedih setiap melihatnya. Kenapa?
Itu foto di hari terakhir saya mengajar tahsin (perbaikan bacaan Alquran) kepada ibu-ibu di tempat saya melaksanakan KKN. Sebenarnya masih ada banyak ibu-ibunya, tapi di hari terakhir itu ibu-ibu yang lain berhalangan hadir karena ada yang sakit dan keperluan lainnya.
Saya mengajar tahsin kepada mereka di sana dengan metode yang diajarkan di salah satu ponpes tahfidz yang ada di Yogyakarta tempat saya belajar. Yang membuat saya bersedih adalah harapan-harapan mereka untuk bisa mengaji begitu antusias, namun tidak ada pengajar rutin yang memberikan ilmu tersebut di desanya. Sementara saya bukan orang sana dan saya selalu rindu momen tersebut.
Dulu saya berencana mengadakan pengajaran tahsin satu minggu dua kali. Tapi melihat semangat mereka yang begitu ingin untuk dapat membaca dan dekat dengan Alquran membuat hati saya tersentuh. Maka saya mengadakan itu semau mereka ingin belajar kapanpun saya siap.
Saya memberi mereka fotocopy-an berupa huruf-huruf hijaiyah, tanda-tanda pembacaannya, dan nama-nama pelafazannya agar memudahkan mereka dalam mengingat, mencatat, dan belajar membacanya dari dasar.
Saya tidak menyangka bahwa ternyata orang-orang di desa pelosok masih minim sekali edukasi tentang belajar membaca Alquran. Di desa tempat saya KKN justru tidak ada edukasi tersebut. Bahkan usia yang sudah tua pun ibu-ibu di sana ada yang buta huruf arab, tapi mereka memiliki antusias yang tinggi untuk mau belajar Alquran tanpa malu-malu.
Satu hal yang membuat saya ingin menangis haru ketika ibu berkerudung biru tua yang ada di foto saya itu sampai menangis sambil berkata bahwa kalau tidak ada yang mengajarkan mereka mengaji lagi, lalu bagaimana mereka bisa lancar membacanya dan bekal untuk di akhirat nanti? Bahkan ada juga yang bilang bahwa ingin sekali dekat dengan Alquran sebagai penyelamat dan penerang mereka di alam barzah dan akhirat kelak.
Aduh, nggak ngerti lagi deh, nano-nano rasanya ingat itu semua. Ketika anak-anak muda masih banyak yang "bangga" dengan hidup glamour, foya-foya, dan bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana kematian mereka kelak, itu menampar diri saya sendiri juga sebagai anak muda yang banyak dosa. Baper saya.
Intinya saya mendapatkan pembelajaran dari cerita ibu-ibu di sana bahwa "Kalau hidup hanya untuk bermain-main, ingatlah bahwa kematian tidak menunda tanggal main". Maka belajarlah dari sekarang untuk mentafakuri bekal apa yang sudah kita siapkan di akhirat kelak, selalu senantiasa bermuhasabah diri dan memperbaiki diri. Usia muda atau tua tak ada yang tahu kapan kamu akan dipanggil Tuhan. Maka bersiaplah untuk selalu mendekatkan diri pada hal-hal baik dan juga kepada Tuhanmu.
Sekian. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita bersama. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar