Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Senin, 06 Maret 2023

  Apa percakapan yang tidak sengaja kamu dengar yang membuatmu sedih?

Dijawab oleh: Dina Nurw

Singkat saja. Suatu ketika saat saya dan teman-teman saya nongkrong bersama. Seorang teman perempuan saya bercerita tentang mantan pacarnya yang tertutup dan suka melukai dirinya sendiri. Mantannya itu masih mencintai dia, begitu mempercayai dia sebagai orang paling dekat yang mau mendengarnya, tapi dia memutuskan hubungan hanya karena mantan pacarnya ini melakukan self-harming dan anggapannya terlalu apa-apa larinya ke dia. Kata teman saya itu begini:

"Ya aku takut lah dia kalau ada apa-apa ceritanya ke aku, nggak mau sama yang lain. Nanti kalau aku nggak bisa nolongin, dia macem-macem gimana? Dia ngelukain dirinya sendiri aja berani, gimana kalau pas kalap dia ngelukain itu ke aku. Dia kayak gitu udah dari SMA."

Lalu teman saya berbondong-bondong mengiyakan, kecuali saya yang hanya diam. Padahal mantan pacarnya tidak pernah melukai dia secara fisik maupun verbal. Hanya karena setelah dia tahu mantan pacarnya melukai dirinya sendiri dan enggan menampung ceritanya lagi, lalu ia memutuskan dan menjauhi. Salah satu teman saya yang lain menjawab:

"Bener! Jangan mau digituin. Bener kamu, diputusin aja. Orang yang ngelukain dirinya gitu bisa aja loh mempengaruhi kita untuk melakukan hal yang sama. Jangan dideketin orang kayak gitu."

Lagi-lagi semua anak yang ada di situ mendukung teman perempuan saya ini dan pernyataan teman saya di atas, kecuali saya yang masih diam menonton mereka bicara. Sungguh menyedihkan ketika saya sangat sadar bahwa mantan pacarnya ini melakukan tindakan yang sama seperti saya.

Tindakan yang kata teman-teman saya manusia seperti itu mesti dijauhi. Gimana mau curhat, belum curhat aja anggapan miring sudah dipukul rata. Entah apa respon mereka kalau tahu saya melakukan hal yang sama. Pada saat itu tindakan saya masih mania, tapi sekarang sudah cukup dapat dikendalikan.

Biar saya jelaskan: Saya tidak meminta belas kasihan dengan saya bercerita seperti ini. Saya hanya merasa sedih dan miris dengan anggapan miring teman-teman saya yang kok terlalu mudah menghakimi "orang-orang yang melakukan self-harming". Meski saya tahu ini tindakan yang salah, tapi tindakan ini terkadang berlangsung di luar kendali kepada diri sendiri. Bukan ke orang lain.

Saya sudah sempat memberi masukan ke teman-teman saya untuk tidak menghakimi orang dengan kondisi seperti itu disertakan alasan-alasan yang mendukung masukan saya, lalu meminta teman saya untuk mempertimbangkan keputusannya, setidaknya tetap menjadi teman dia. Tapi saya kalah suara. Teman saya tetap memilih menjauh.

Miris sekali ketika "orang-orang yang bernasib demikan" selalu dianggap miring. Bahkan hanya sekadar menjadi tempat mendengar pun enggan. Peduli apa lagi. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar