Dijawab oleh: Dina Nurw
Jadi gini… saya pernah berobat ke beliau sewaktu saya masih kelas X SMA. Sejak SMP saya mengalami gejala gangguan mental. Karena pengobatan yang beragam tidak berhasil pada saya, maka Ustad Danu pilihan ayah saya saat SMA. Padahal harusnya saya dibawa ke psikolog.
Biasanya sebelum bertemu dengan ustad, kami sekeluarga disuruh memotret rumah, sela-sela atap rumah, dan lain-lain. Foto tersbut diminta ustad untuk dibawa saat bertemu nanti.
Nah, sampailah waktu di mana saya dan keluarga ayah-ibu datang ke ruang periksa. Saya duduk ditengah kedua orang tua saya dan ustad Danu di depan saya.
Tulisan ini tidak bermaksud membenarkan atau menyalahkan beliau/menyudutkan atau menghakimi beliau. Ambil saja yang baik, buang yang buruk, dan telaah yang meragu. Karena di sini posisi saya bercerita sebagai pasien.
Buat saya pribadi sebagai "pasien" beliau yaitu, tidak merasakan pengaruh apa-apa. Jujur, pengalaman ini membuat saya bingung sampai sekarang. Saya hanya diminta untuk tidak berprasangka buruk kepada Ibu saya. Saya yang pasien, tapi yang diobati malah ayah saya. Kata beliau, ada jin yang menempel pada ayah saya. Oleh karenanya Ustad Danu mengeluarkannya. Sempat ditanya kepada ayah saya, "Bagaimana perasaannya? sudah lega? Ada sesuatu yang bergerak nggak tadi waktu saya doa?" Ayah saya mengangguk dan berkata seperti ada yang keluar melalui nadi tangan ayah saya. Saya cuma dikasih omongan doang dan obat kapsul herbal yang harus diminum rutin sampai habis dan tidak boleh putus.
Saya sudah melakukan apa yang diperintahkan sampai obat habis, tapi tidak membawa pengaruh apa-apa pada diri saya. Tak kalah aneh, orang tua saya malah mau membawa saya ke ustad yang cara prakteknya dengan kertas bertuliskan surah apa entah. Kemudian digulung dan dibakar, lalu saya disuruh minum air itu. Ya saya ogah lah! Nggak masuk akal babar blas. Gangguan masih ada dan tidak tahu apa akibatnya? Saya yang disemprot amarah, dimaki, nyusahin orang tua, tidak bisa mengendalikan diri dengan kata-kata "Masak kayak gitu aja ga bisa! Seminggu harus udah sembuh!", Dll. Dipikir sakit flu apa seminggu sembuh.
Membuat orang tua saya yang tertutup pikirannya akan psikologi membuat saya sulit menjelaskan. Karena kebanyakan orang menganggap bahwa orang yang dibawa psikolog atau psikiater adalah orang gila. Orang tua saya melihat saya seolah baik-baik saja, padahal hati ini menanggung beban batin yang berat sejak pengalaman menjadi korban bullying verbal di SD, juga mendapat kekeraan fisik dan verbal di lingkungan keluarga.
Sungguh itu tidak mudah untuk menjadikannya sembuh dari trauma tersebut. Apalagi orang tua saya selalu melarang saya untuk mengeluarkan emosi seperti menangis. Padahal itu salah satu cara agar menjadi lega. Tapi saya selalu diajarkan untuk menahan feeling apa yang saya rasakan.
Jadi pada intinya, pengobatan saya di Ustad Danu tidak berpengaruh apa-apa. Saya tetap merasa harus dibawa ke psikolog pada masa itu. Pengobatan Ustad Danu hanya berpengaruh kepada ayah saya yang jinnya sudah tidak menempel ke ayah saya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar