Postingan Rekomendasi

Tentang Penulis

Hai! Salam kenal kepada yang telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan-tulisan random ini. Haricahayabulan merupakan nama pena saya. ...

Senin, 29 Juni 2020

Aurelia Struggle

Karya: Haricahayabulan

Buat Aurel, matanya seperti tertusuk garpu saat setelah membaca nama Pradipta Ageng di file pdf kelompok Kuliah Kerja Lapangannya yang disingkat KKL. Isi kepalanya meronta-ronta minta tolong untuk protes saja supaya ganti kelompok, tapi logikanya membalas itu tidak mungkin jika tanpa memiliki alasan penting yang mengharuskan mereka dipisahkan.

Pihak program studi (prodi)-nya tentu tidak akan menggubris rengekan manja Aurel untuk dipisahkan dengan Dipta hanya karena perkara urusan pribadi mereka. Urusan tentang kenyataan bahwa Dipta adalah saingan berprestasinya dulu selama sekelas 3 tahun di SMA. Bukan cuma itu, sebutan teman bahkan rasanya tidak pernah melekat dalam dada mereka.

            Sementara buat Dipta, kenyataan dirinya satu kelompok dengan Aurelia Malam Hari membuat tawanya meledak dan begitu bersemangat. Bayangan-bayangan akan sebetapa hebohnya Aurel berusaha menyaingi dan melawan dirinya itulah yang membuatnya bahagia. Dipta tidak ada masalah sama sekali bila harus berkelompok dengan Aurel selama kuliah lapangan 10 hari.

Itu justru akan menjadi tantangan dan hiburan penuh buatnya mengingat Aurel adalah saingan beratnya. Sudah dua setengah tahun lamanya Dipta tidak bersinggungan dengan perempuan itu. Meski satu prodi, keduanya tidak pernah kedapatan satu kelas lagi. Lantas KKL adalah momen yang tepat buat Dipta untuk mencongkel ingatan Aurel tentang apa yang pernah mereka lalui bersama di masa-masa SMA dulu.

            Hal pertama yang Dipta lakukan saat hari keberangkatan melihat Aurel dari kejauhan adalah memotretnya dengan kamera yang sengaja ia bawa untuk dokumentasi pribadi kegiatan KKL nanti. Dipta mengakui perempuan itu terlihat begitu cantik kini dan lebih mampu merawat diri. Kulitnya sawo matang bersih, sudah tahu bagaimana mesti berdandan dengan wajar namun manis, dan setelah didekati akan tercium aroma tubuhnya yang wangi. Mengingat Dipta dulu sering meledek muka Aurel seperti pantat panci dan aroma tubuhnya bau bawang.

            Sadar ada Dipta yang berdiri di samping Aurel saat baris untuk persiapan penerjunan KKL, mukanya yang tadi baik-baik saja langsung otomatis melengos dan serasa tidak sudi ada lelaki itu di sampingnya. Mengapa pula Dipta mesti mengisi tempat di sampingnya kala barisan lain masih dapat diisi, begitu kata isi kepalanya. Apa lagi tujuan lelaki itu kalau bukan untuk mengomporinya. Boleh Aurel akui dalam hati bahwa lelaki itu nampak begitu gagah berisi, tampan, dan wangi kini. Mengingat dirinya dulu selalu meledek tubuh Dipta seperti kerangka laboratorium IPA, mukanya seperti gembel, dan baunya seperti tikus mati.

            “Gimana persiapan lo buat nyaingin gue lagi? Udah total?” Dipta memulai percakapan dengan sulutan api.

            “Lo lihat sendiri perubahan gue. Udah buat lo megap-megap naksir belum?” jawab Aurel berlagak sombong.

            Dipta terkekeh geli, “Pede banget lo! Hahaa… yang ada nih ya, kisaran dua atau tiga hari KKL, lo udah cinta mati sama gue.”

            “Dih, sakit jiwa lo ya?!”

            Dipta hanya tertawa saja tidak menggubris ledekan Aurel, lantas lebih memilih untuk fokus mendengar permulaan pidato dan imbauan yang diberikan oleh kepala prodinya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) kepada mahasiswa. Seluruh mahasiswa PBSI yang melaksanakan KKL nanti diharap saat keberangkatan menggunakan motor berboncengan mesti saling memperhatikan keselamatan kelompok masing-masing yang telah ditentukan. Mereka juga diimbau untuk saling mengayomi, mampu bekerja sama, dan berlaku adil dalam tim. Jika ada pelanggaran fatal, akan ditindak sanksi dalam penilaian.

            “Tuh, dengerin kuping lo. Mampu bekerja sama dalam tim. Bukannya malah menyaingi satu tim. Otak kompetitif sih lo!” bisik Dipta di dekat telinga Aurel.

            “Lagaknya kayak otak lo bersahabat aja!” semprot Aurel ketus

            “Inget Rel, ketus tanda tak mampu,” sinis Dipta.

            Aurel menahan-nahan gejolak emosi dalam dadanya yang ingin sekali dia ledakkan pada Dipta. Ekspresi dan seluruh kata yang keluar dari mulut Dipta rasanya ingin Aurel bakar habis. Tapi ia sadar diri bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melawan. Mahasiswa PBSI angkatan Aurel akan melaksanakan KKL di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Kuliah lapangan ini masih satu satu kota dengan universitas mereka. Oleh karena itu, kendaraan mereka disarankan menggunakan motor agar pelaksanaan di lapangan nanti mudah.

KKL ini diadakan guna memenuhi mata kuliah microteaching dengan penerapannya di sekolah. Kegiatan ini didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah. beberapa perwakilan dosen-dosen pendidikan, dan guru pembimbing KKLdari masyarakat nanti. Mereka disebar di beberapa bagian daerah Gunung Kidul dan menginap sementara di kepala desa daerah masing-masing.

Selain berlatih mengajar untuk anak-anak di pelosok sana, mereka juga dilatih untuk mengatasi problematika kurangnya fasilitas pendidikan, kurangnya motivasi belajar, dan kemampuan berbahasa anak-anak di daerah tersebut. Mereka sudah diberi pembekalan untuk merancang program pendidikan yang diteliti dan disetujui oleh dosen pengampu. Selain itu mereka juga diberi instruksi untuk menyumbangkan buku-buku bacaan di tempat mereka akan melaksanakan KKL.

            Satu kelompok dalam kegiatan ini masing-masing berjumlah 6 orang. Aurel mendapat kelompok dengan nama Dipta, Sanusi, Dodo, Gita, dan Yuka. Seperti yang sudah disepakati pula sebelum hari keberangkatan, mereka diimbau untuk tiga motor saja yang beroperasi setiap kelompoknya. Jadi saling berboncengan.

Dipta sebenarnya satu kelas dengan Dodo, sementara Aurel satu kelas dengan Sanusi. Tapi indekos Sanusi berdekatan dengan Dodo yang otomatis mereka memutuskan untuk berboncengan saja. Sementara Gita dan Yuka juga teman lengket satu kelas yang beruntung bisa satu kelompok di KKL, oleh karenanya mereka memutuskan untuk tidak terpisahkan, tentu saja. Mau tidak mau, Aurel dan Dipta mesti lapang dada menerima kenyataan ini.

            Jauh-jauh kuliah ke Jogja dari Tangerang, ketemunya Dipta lagi, Dipta lagi. Keluh Aurel dalam hati. Ketika teman satu kelompoknya di motor masing-masing bisa menikmati perjalanan dengan obrolan yang begitu seru, Aurel dan Dipta justru perang bisu. Aurel memilih menikmati kesunyian dan udara segar pedesaan saja sambil makan cokelat yang ia simpan di saku almamater ketimbang membakar tenaga untuk ngobrol dengan Dipta. Perempuan itu belum menyadari kalau dirinya sesekali dicuri pandang oleh Dipta lewat kaca spion sambil senyum-senyum. Cukup lama, sampai akhirnya Aurel sadar.

            “Nyetir yang bener lo kampret! Malah ngeliatin gue. Senyam-senyum lagi. Udah mulai naksir gue kan lo!?” tembak Aurel setelah sadar Dipta memperhatikannya sambil menoyor bahu Dipta, percaya diri.

            “Idih, kepedean. Lo tuh ngaca dong, makan cokelat tamunya ke mana-mana! Gigi depan lo tuh, sampai cokelat gitu. Illfeel gue,” Dipta membalas tembakan kata Aurel disertai tawa meledek.

            Otomatis Aurel melongok ke kaca spion kiri dan mengecek gigi depannya. Omongan Dipta benar. Aurel sudah salah besar mengira Dipta naksir padanya Uh, malunya! Bego banget sih lo Aurel. Nggak lagi-lagi deh sok kepedan ngira Dipta naksir gue, batin Aurel. Ternyata, kesalahannya sendiri yang makan cokelat tidak bersih. Malunya Aurel mengalir dari syaraf kaki sampai ke syaraf otak. Dipta terbahak sepuas yang dia bisa lakukan. Aurel menyeka bibirnya dengan tisu yang juga ia simpan di saku almamater sebelahnya. Buru-buru juga ia bersihkan cokelat di gigi depannya. Rasanya mau menangis malu. Mana sampai Dipta bilang illfeel padanya pula. Aurel memaki-maki dalam hati.

            “Bego!” ketus Aurel, jengkel pada Dipta.

            “Elo kan?” tanya Dipta, memastikan.

            “Iya gue, puas lo!” Aurel menyerah, sementara Dipta terbahak lagi. “Nyebelin lo!”

            “Jangan terlalu sebel, nanti sayang…” goda Dipta.

            Aurel menjiwit sebelah pinggang Dipta hingga membuat lelaki itu terkejut dan menepisnya dengan tangan kiri.

            “Eh, nabrak Rel, nabrak!” panik Dipta diiringi sisa-sisa tawanya.

            Aurel tidak menggubris lelucon Dipta lagi. Hatinya terlalu lelah kali ini. Ingin berhenti saja menyudahi segala pertengkaran yang pernah ia mulai bersama Dipta, tapi Aurel belum bisa. Tiap melihat muka Dipta rasanya selalu terpacu untuk menyainginya, bukan untuk bersikap baik padanya. Salah satu alasannya adalah sikap Dipta yang seperti tadi. Berawal dari membuatnya benar-benar merasa malu, lalu tiba-tiba membuatnya benar-benar terbawa perasaan. Aurel terlalu gengsi mengakuinya.

Sesampainya di rumah bapak dukuh yang akan mereka tinggali, Aurel yang berharap Dipta mengajukan permohonan maaf padanya justru malah begitu cuek dengannya. Dipta hanya menatapnya sekilas dengan biasa tanpa meninggalkan sepatah kata apapun. Dipta beranjak pergi bergabung dengan Sanusi dan Dodo. Dipta dan Aurel duduk berjauhan. Aurel benar kehilangan harap untuk dapat berhubungan baik dengan lelaki itu.

            Dosen pembimbing lapangan mereka menyampaikan tujuan penerjunan program KKL kepada bapak dukuh guna mahasiswa dapat memperoleh ilmu, mengasah ketrampilan mengajar, dan kemampuan mengajar di sekolah dasar dan menengah yang sudah ditentukan oleh kampus sekaligus menitipkan mahasiswanya untuk berbaur dengan masyarakat.

Obrolan-obrolan mereka diisi dengan harapan-harapan baik, yang disampaikan dari pihak dosen dan juga bapak dukuh. Dosen pembimbing lapangan tidak melepaskan mahasiswa begitu saja. Pengawasan dilakukan oleh dosen yang bertugas menjenguk dan meneliti laporan hasil kerja mahasiswa, dosen pengampu sendiri, serta penilaian masyarakat. Dosen pembimbing memberikan arahan dan bimbingan singkat sebelum beralih menuju kelompok di daerah yang lain.

Kelompok Aurel diketuai oleh Dipta, sementara sekretarisnya Aurel. Perkara itu, mereka hanya diberi kepercayaan oleh teman sekelompoknya, sebab mereka melihat kemampuan keduanya saling salip menyalip dalam beropini. Saat diskusi perancangan program pembelajaran di lapangan saja mereka berdualah yang lebih sering berebut gagasan sampai susah sekali dijeda.

Lantas ketika presentasi pemaparan hasil perencanaan program pembelajaran di depan dosen pengampu, masih saja Dipta dan Aurel yang saling berebut asumsi untuk menadapat perhatian dosen saat dilempari pertanyaan. Dosen pengampu mereka sampai tertawa bangga menengahi.

            “Sudah, sudah… cukup. Argumen kalian berdua hebat semua. Setelah ibu lihat dari penyampaian, struktural rencana aktivitas di lapangan, dan ide-ide rencana di luar dugaan ini bisa menjadi pembelajaran menarik kalian nanti di lapangan. Jadi harapan saya dalam tim kalian ya marilah saling kompak. Jangan berdebat argumen seperti tadi,” Bu Anik menunjuk Dipta dan Aurel yang saling senggol-senggol lengan menyalahkan.

“Jika memang di antara  kalian memiliki ide yang begitu banyak, ya kumpulkan dan pertimbangkan pilihan tersebut dengan vote keputusan bersama dan pertimbangan fasilitas yang ada di lapangan. Saya rasa itu lebih adil, sehingga tidak menimbulkan rasa kesal pada tim karena pendapatnya tidak diambil. Jangan sampai seperti itu. Kerja sama, saling memahami, saling menghargai, dan ingat juga 2T 1M.”

“Artinya Bu?” tanya kelomopok Aurel kompak.

“Tolong, terima kasih, dan maaf. Mengerti?”

            “Siap Bu!” seru Dipta mantap, ketika yang lainnya hanya mengangguk-angguk.

            Selepas kelompok Aurel diserahkan dosen pembimbing kepada bapak dukuh, mereka diminta untuk menata barang bawaan di kamar yang telah disediakan, bersih-bersih diri, makan siang, lalu istirahat. Malamnya, selepas Isya mereka dikumpulkan dengan warga di rumah bapak dukuh guna mahasiswa memperkenalkan diri sekaligus penyampaian program kerja lapangan di sekolah.

Hari pertama kuliah lapangan mereka akan dimulai esok hari. Selepas serangkaian acara perkenalan dengan warga malam ini selesai, mereka mesti makan malam, lalu dilanjutkan istirahat. Besok mereka mesti bangun pagi sekali untuk observasi. Dipta baru saja selesai bersiap diri. Ia keluar kamar dengan rapi dan wangi. Tidak sengaja pandangan matanya mendapati Aurel telah siap juga untuk berangkat ke sekolah. Perempuan itu tengah berfoto seorang diri sambil duduk di kursi depan rumah pak dukuh.

Gita dan Yuka belum selesai berdandan dan masih ribet sendiri di kamar. Terdengar seberisik apa kehebohan mereka dari luar. Sementara Dodo dan Sanusi baru saja selesai mandi. Dipta berjalan mendekati Aurel yang tidak menyadari kedatangannya karena tidak tertangkap kamera maupaun terdengar langkahnya. Saat Aurel sudah memasang pose termanisnya, tiba-tiba Dipta mengacak sekilas rambut Aurel setelah memposisikan diri duduk di sampingnya dan menahaan tangannya di puncak kepala Aurel.

            “Diptaaaa…” keluh Aurel sambil menepis tangan lelaki itu.

            “Barusan itu pengganti ucapan selamat pagi dari gue buat lo,” jawab Dipta, jujur.

         “Halah, biasa aja. Udah nggak ketipu gue sama trik-trik iseng lo. Udah terlatih,” cuek Aurel sembari sibuk memilah foto-fotonya yang bagus untuk disimpan, lalu yang kurang bagus untuk dibuang.

            Dipta hanya tersenyum lembut meski tak terbalas.

            “Dua setengah tahun kita nggak sama-sama. Cukup lama. Ternyata selama itu, gue kangen lo, Rel,” lagi-lagi Dipta berkata jujur disertai senyum lembut yang masih belum hilang dari air mukanya.

            Aurel sempat melirik Dipta sekilas, masih menahan diri untuk tidak terbawa perasaan apalagi sampai terjebak oleh kata-kata Dipta yang selalu membuatnya bingung harus percaya yang mana.

           “Masih biasa aja, Dip. Kurang jago lo!” balas Aurel, memilih bertahan, sementara ia dengar Dipta tertawa.

            “Siapin hati lo, Rel. Lo akan menghadapi gue dalam 10 hari ke depan mulai dari hari ini. Siap-siap cinta mati sama gue, Rel,” ucap Dipta bersemangat, lantas menutup percakapan dengan mencapit ujung hidung kepala Aurel gemas, lalu bergegas pergi untuk memanaskan motor tanpa peduli bahwa pipi Aurel merona, malu.

Seketika itu juga pertahanan hati Aurel runtuh. Dalam hatinya ia bersikeras pada dirinya sendiri untuk tidak terpengaruh rencana Dipta kepadanya. Ya, Aurel harus berjuang melawan! Mantap Aurel. Suara klakson motor Dipta yang tertuju padanya sungguh mengagetkan Aurel. Lelaki itu mengisyaratkan Aurel untuk cepat memboncengnya karena anak-anak lain sudah mulai berkumpul untuk berangkat ke sekolah pertama yang akan mereka kunjungi. Setelah Aurel menaiki motornya, kedua tangan Dipta terulur ke belakang meraih tangan Aurel untuk berpegangan padanya. Menyadari itu, spontan Aurel menghempas jengkel tangan lelaki itu sambil memaki-makinya.

            “Apaan sih lo, Dip! Ganjen!”

            ”Lo nggak liat apa? Gita sama Yuka sama-sama safety, Sans sama Edo juga iya. Gue kalau naik motor ngebut loh.”

            “Bodo amat! Ga sudi gue!"

            “Oh, ya udah oke. Tanggung sendiri akibatnya kalau lo tiba-tiba jengat ke belakang!”

            “FINE!"

            Dipta pun muenyalakan mesin motornya dan ngegas tidak kira-kira sehingga membuat Aurel mesti memeluknya dari belakang karena hampir terjatuh ke belakang. Sadar Dipta sukses menjahilinya dan lelaki itu menahan tawa, ditoyorlah kepala Dipta dari belakang, lalu berkata, “Fuck boy lu! Attitude ga disekolahin ya?”

            Dipta terbahak, “Cailah, kelepasan dikit doang tadi. Ga sengaja. Galak amat. Makanya Mbak Aurel Malam Hari, silakan safety diri. Jalanannya ga bagus soalnya.”

            Aurel tidak menjawab. Spontan saja aurel berpegangang pada tas Dipta. Hari Pertama, kegiatan observasi dan pengenalan mahasiswa KKN di SD Bina Nusa. Mereka didampingi salah satu guru di sekolah tersebut untuk observasi keadaan sekolah, fasilitas, perpustakaan, siswa-siswanya, dan lain sebagainya. SD yang mereka kunjungi kondisinya cukup memprihatinkan.

Gurunya hanya berjumlah 3 orang, bahkan ada yang tidak betah lantas memilih untuk pindah kerja ke sekolah lain. Buku-buku bacaan siswa sedikit, ruang kelasnya selalu bocor jika hujan, ruang kelas kurang terawat, dindingnya kumuh, serta kurangnya motivasi belajar dari peserta didik yang ada di sini. Hanya ada dua kelas di SD ini.

Guru pembimbing mereka, Bu Anjar, menjelaskan bahwa kelompok mereka akan dibagi menjadi dua. Jadi, tiga anak di kelas A, kemudian 3 anak lagi di kelas B. Saat menjelaskan tentang itu. Yuka dan Gita buru-buru mengajak Aurel untuk satu tim dengan mereka di kelas A. Tentu saja Aurel ikut girang. Sayangnya, Bu Anjar menjeda. Olehnya, Aurel dikelompokkan dengan Dipta dan Sanusi, sedangkan Dodo masuk ke kelompok Yuka dan Gita. Ini perintah dari dosen mereka, Bu Anjar tidak ingin berbohong perkara ini dengan dosen mereka.

Hari ke dua, satu kelompok menyusun rencana-rencana, program kerja, dadakan yang diakibatkan karena kondisi sekolah yang di luar dugaan. Di hari kedua itu juga mereka sudah mulai memperkenalkan diri kepada siswa di kelas A dan B. Dan sudah mulai menggantikan guru-guru mengajar dalam beberapa hari ke depan.

Hari ke tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan mereka mulai memfokuskan program kerja mereka di sekolah. Baik yang akademik maupun non-akademik. Selain mengajar, di tengah-tengah sesi pembelajaran, mereka juga memberi ice breaking atau permainan kelompok agar tidak bosan dan juga motivasi untuk memiliki cita-cita dan semangat belajar yang tinggi.

Para mahasiswa juga bergotong royong menciptakan suasana kelas menjadi nyaman. Meminta tolong warga membenahi atap yang rusak, membantu mengecat tembok-tembok yang terlihat kumuh menjadi lebih bersih dan baru. Mahasiswa laki-laki membantu pengecatan, sementara mahasiswa perempuan membuat ketrampilan origami di musala dekat SD untuk dipasang di dalam kelas nanti.

Selain origami, mereka juga diminta untuk menggambar tema bebas. Mereka yang suka menulis puisi, cerita juga diminta untuk membuatnya dan menghiasnya denggan pita dari kertas atau kain. Mereka juga dilatih seni menggambar dan menyanyi. Boleh menggambar poster, pemandangan alam, batik, atau apapun yang mereka bisa mereka kerjakan

Seringkali Aurel mencari-cari keberadaan Dipta di mana, lalu memandanginya beberapa detik untuk memuaskan rasa penasarannya saja sedang apa dia. Terkadang tidak disangka Aurel juga kalau Dipta duluan yang menatap ke arahnya. Biasanya kalau sudah sama-sama ketahuan seperti itu, salah satu dari mereka pasti akan langsung pura-pura tidak peduli atau melengos cuek.

Bukan hanya itu. Satu hal yang Aurel tidak tahu adalah Dipta sering mengaabadikan sosok Aurel ke dalam lensa kamera pribadinya. Pernah sekali, hampir ketahuan. Dalam sendirinya juga, Dipta pandang ulang hasil foto candid Aurel di kameranya sambil senyum-senyum sendiri. Sampai pernah kepergok bapak dukuhnya, Pak Arif.

Tapi untungnya Pak Arif bisa menjaga rahasia. Tapi gara-gara itu, Dipta dan Aurel jadi sering dijahaili Pak Arif supaya sama-sama salah tingkah dan berhasil. Tapi dalam hati, Dipta berterima kasih pada Pak Arif yang telah membuat 10 harinya bahagia. Disisi lain, Aurel sebenarnya juga sama bahagianya, tapi gengsi untuk menunjukkan kode-kode pada Dipta. Biasanya, jatuhnya Aurel malah diolok.

Hari ke sepuluh, mahasiswa KKL menutup segala kegiatan dengan makan tumpeng bersama di rumah pak dukuh. Semacam syukuran karena sekolah dekat perdukuhan sudah cukup layak menjadi motivasi tempat belajar siswa menjadi seru dan tidak membosankan. Setelah doa bersama, kemudian irisan tumpeng pertama kali diberikan kepada bapak dukuh dan orang-orang penting yang berkontribusi dalam membantu mahasiswa, selanjutnya warga dan anak-anak mengikuti pengambilan tumpeng Sampai-sampai mahasiswa hampir kehabisan tempat untuk duduk.

Diliharnya oleh Aurel kalau Dipta duduk sendiri di luar salah satu sudut rumah pak dukuh. Aurel beranjak mendekatiya Perempuan itu datang tanpa mengeluhkan apa-apa seperti biasanya. Ia hanya duduk tenang, lalu meneguk sirup di gelasnya.

“Ngapain ke sini? Temen-temenmu di dalam semua tuh!” ucap Dipta yang tak bermaksud mengusir, justru senang sembari mengunyah makanannya.

Aurel tidak menjawab pertanyaan Dipta, melainkan malah mengeluhkan hal lain, “Wah, gila ya, nggak kerasa 10 hari terasa secepat naik roller coaster.”

“Bikin pusing dong?”

“Iya, pusing. Pusing garap laporan dan pusing sama sikap lo yang aneh-aneh itu!”

Dipta terbahak, ‘Habisnya lo nggak peka. Gue udah pernah bilang berkali-kali sama lo kok, tapi lo nggak pernah peduli itu dan menganggap apa yang gue katakan bercanda.”

Aurel menatapnya, lantas Dipta tersenyum lembut. Sayang dan rindulah yang sering Dipta katakan unruk Aurel, ya, tentu saja Aurel masih mengingatnya.

“Lo sadar nggak sih Dip? Kalau kata-kata lo itu sering ngebuat orang merasa jatuh, tapi tiba-tiba dibawa terbang tinggi. Dan itu rasanya nggak enak banget. Gue ngerasain itu ke lo, tapi gue bingung harus ngadepin elonya gimana.”

“Sekarang gue ngerti Rel kalau komunikasi itu penting. Makasih ya.”

“Gue juga Dip, sama-sama.”

Keduanya tersenyum lembut. Dipta mengulurkan tangan persahabatan dengan Aurel yang langsung di raih olehnya.

“Ada satu hal lagi yang belum lo tahu dari gue, Dip,” ucap Aurel.

“Apa tuh?”

“Gue juga sayang sama lo,” jujur Aurel disertai senyum manis.

Dipta membalas senyumnya, lalu mengusap puncak kepala Aurel gemas, seperti biasanya. Kali ini diterima, tidak ditepis. Kali ini juga Aurel banyak senyumnya. Itu tertanda, Aurel sudah membuka gerbang hatinya untuk Dipta.

 

TAMAT

Instrumen Derap Kaki Kuda

Karya: Haricahayabulan
Cerita ini telah dipublikasikan online oleh Penerbit Haru Grup

Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa melankolis sekali. Ditambah remang-remang bias hujan pada sinar lampu jalan dalam kaca bus. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku sembari kutiup-tiupkan, berharap ada kehangatan yang bisa melindungiku dari dingin hujan. Kata orang, hujan bisa mencukil keluar ingatanmu pada masa-masa silam. Aku tidak berpikir untuk mempraktekkan, karena itu sungguh kurang kerjaan. Tapi, ingatan beberapa tahun silam itu sendiri yang pelan-pelan merembet masuk. Sesosok manusia ajaib dari luar angkasa itu menari-nari dalam kepalaku.

Aku tertawa samar. Luar angkasa. Bukan, bukan maksud yang sesungguhnya. Dia hanya begitu unik. Kupikir, orang-orang di bus ini tidak akan peduli apa yang sedang kulakukan sekarang. Termasuk tertawa sendiri. Mereka mungkin sibuk mendengarkan riuh bising mesin bus yang berduet dengan para pedagang jeruk yang tengah mempromosikan jeruk manisnya. Kupikir mereka selalu gunakan metode yang sama. Pasti ada saatnya penumpang bus ini menunggu untuk menjadi pembeli terakhir yang akan mendapatkan kesempatan membayar dengan turunan harga paling murah. Mudah sekali ditebak. Tunggu saja nanti. Tidak menunggu pun, kau yang pernah naik bus akan berkata, itu benar.

Mungkin kau bertanya aku hendak ke mana sekarang. Aku akan pulang, ke kota asalku. Aku mengambil cuti kerja agar bisa menjenguk keadaan ibuku. Aku rindu. Ibu pasti kesepian, karena bapak sudah pergi duluan. Keluargaku tinggal aku, ibu, dan kakak perempuanku. Kakakku jauh di Bandung, bersama suaminya. Aku yang paling dekat, karena aku di Solo. Makanya, selagi sempat bisa cuti, aku akan pulang menemui ibu. Lagipula jaraknya dekat, sudahlah cukup mewakili perasaan ibu yang rindu kepada anaknya.

Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke rumah. Mungkin 3 jam pula aku akan mengingat dia, sosok ajaib itu. Karena kota asalku itu, menyimpan segudang kenangan tentang kami. Sebelum semua berakhir muram. Aku kembali menatap keluar jendela. Kubiarkan kebisingan di dalam bus ini lenyap dan menggantikan itu dengan ingatan masa-masa silam diiringi dentingan suara piano yang mengalun lewat kabel headset-ku. White Night, dentingan sederhana Ludovico Einaudi selalu mewakili perasaanku atas banyak hal yang telah terjadi. Mungkin kau tidak ingin tahu, tapi aku tetap ingin berkisah.

            Aku tidak mengerti bagaimana cara otak dan telinga bekerja sama. Tapi impuls dari dalam melagukan suara tawanya yang renyah dan bisa kudengar. Kamu harus tahu, suara tawanya adalah salah satu lagu favoritku. Kami sama-sama suka tertawa dalam hal sekecil apapun. Kami memang sereceh itu. Tapi, kami pada masa itu adalah dua manusia yang merasa paling bahagia.

Pertama kali kutemukan dia ada di warung Bu Wit, tempat tongkrongan anak-anak sepak bola SMA. Tapi, dia tidak suka sepak bola. Terus kenapa dia ada di sana? Hahaha. Kalau aku sih, karena diajak main Febian untuk teman ngobrol menjaga warung. Febian anak Bu Wit. Dia teman sekelasku waktu SMA. Kami memang dekat sejak SMP, karena setiap ayah belum menjemputku sewaktu SMP, aku sering numpang makan dan main di warung Febian untuk menunggu ayah. Aku sering diberi makan gratis oleh Bu Wit. Dia adalah ibu yang baik dan perhatian sekali.

Temanku kebanyakan memang anak laki-laki, karena dari kecil, menurutku permainan yang mereka lakukan lebih seru daripada perempuan. Saat itu umur kami 17 tahun. Jadi, alasan manusia ajaib itu berada disana, karena dia numpang menunggu teman. Febian mengenalinya. Kau harus tahu, ternyata mereka saudara sepupu. Kau ingin tahu nama manusia ajaib itu? Terlalu cepat. Nanti saja. Yang kau harus tahu lebih dulu adalah dia seorang pemerhati yang begitu baik dan tulus.

Dia selalu tahu kapan harus datang mendengar dan membantuku tanpa aku pinta. Dia selalu tahu kapan harus mencari saat aku tersesat. Dia selalu mengerti dan bisa membacaku dalam segala gerak-gerik dan cara mataku menatapnya. Kalau aku sedang tidak baik-baik saja, dia hanya akan berusaha membuatku tertawa dengan caranya yang gila. Dia selalu tahu apa yang membuat aku senang. Entah insting dari mana, sudah kukatakan bahwa dia manusia “ajaib”.

Bersahabat dengannya membuat hari-hariku terasa seru dan unik, cuma itu yang kupikirkan tentangnya. Meskipun kami tidak pernah satu sekolah, kami seringkali bertukar cerita pengalaman, ambisi, dan diskusi. Apalagi setelah menduduki bangku kuliah. Bentang jarak antara kami adalah Solo-Yogyakarta. Kami masih sering bertukar obrolan dan informasi tentang kota dan universitas masing-masing. Dia seorang pendengar terbaik yang aku temukan di bumi. Tidak ditemukan di planet lain.

Bicara soal kesibukan, jelas ada di antara kami. Tentu memungkinkan keterbatasan komunikasi. Tanpa dijadwal, selagi sempat, salah satu di antara kami terkadang sebatas menanyakan kabar. Kami cuma bisa bertemu saat liburan. Iya, kalau tanggal liburan kami sama.

Mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya, aku selalu merasa tenang. Kata-kata itu menjelma makna-makna yang lucu, rumit terpikir di kepala, dan lagi-lagi kubilang itu ajaib. Lebih ajaib daripada tongkat Harry Potter. Menginspirasi dalam beberapa tulisan-tulisanku yang aku buat sejak 2016 lalu sampai sekarang dan dia tahu, karena memang aku beri tahu. Dia senang. Aku seorang penulis. Dan ini kutulis karena dia ada. Di mana? Nanti saja, kau akan tahu.

Orang bilang, gagasan-gagasannya kelewat serius dan genius pada masa itu. Karena, orang pikir umurnya belum pas untuk sering-sering berfilsafat setiap mengemukakan pendapatnya sendiri. Dia satu-satunya manusia yang mengajak bicara dengan cara yang unik dan berbeda. Pasti ada tawa di antaranya, meskipun terkesan menuntun berpikir. Menurutku, tetap dia bukan orang serius, karena saat bersamaku dia tak pernah nihil dari tawa. Laki-laki lain yang kutemukan, tidak ada yang seabsurd ini. Tapi aku suka. Selalu suka.

Sampai suatu ketika yang tidak biasa, dia mempertanyakan suatu hal yang membuatku mesti memiringkan kepala, bingung. Iya, tidak biasa. Masa itu, senja itu, saat libur kuliah menuju semester 6. Kami berdua sedang nongkrong di pinggir rel kereta api yang sudah tidak lagi dipakai. Kami sama-sama menggoyangkan kaki yang tidak sampai ke tanah. Seperti tidak ada tempat lebih layak daripada di pinggir rel kereta api untuk kami singgahi berdua. Kau mau tahu apa pertanyaannya? Kau jawab tidak pun, aku akan tetap mengatakan.

Dia bertanya, “Rara, kalau derap langkah kaki kuda adalah instrumen merdu di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, bagaimana menurutmu dengan instrumen derap jantung yang tiba-tiba berlari di penghujung perjalanan manusia?”

            Dia menatapku dalam-dalam, menunggu jawaban. Dia tidak suka jawaban, ‘aku tidak mengerti maksudmu’. Dia akan senang mendengar jawabanku, apapun itu. Karena dia tidak pernah membuatku sedih, aku harus berpikir untuk menjawabnya.

            “Semerdu lagu Jatuh Cintanya Titiek Puspa mungkin.”

            Dia tertawa renyah.

            “Kenapa tertawa? Aku sedang tidak melucu!”

            “Kamu pikir manusia itu sedang jatuh cinta?”

            “Derap apa lagi yang berlari tiba-tiba pada jantung manusia kalau bukan debaran yang orang sebut-sebut dengan jatuh cinta?”

            “Siapa tahu dia serangan jantung.”

            Kami berdua terbahak, memecah udara dan disaksikan oleh manisnya senja.

            “Itu pilihan kedua, kalau dia serangan jantung.”

            Kami masih belum menghilangkan tawa.

            “Kamu pernah merasakan itu?” tanya dia.

            Aku terperangah, “Merasakan apa? Serangan jantung?”

            Dia tertawa lagi, “Bukan. Yang satunya lagi,” katanya, enggan menyebutkan.

            “Pernah. Waktu… masa pubertas. Tapi aku tahu, itu cuma cinta monyet,” aku nampak geli sendiri mengatakan cinta.

Kami belum pernah membahas tentang ini sebelumnya. Mungkin ini akan menjadi perbincangan menarik yang aku pikir pada masa itu.

            “Ternyata seleramu bukan manusia. Aku salah mengira.”

            Aku tertawa, jawabannya salah. Aku tahu dia paham, tapi dia sengaja mengartikan lain.

            “Bukan itu maksudku… ah, kamu pasti pura-pura tidak tahu. Aku yakin kamu juga pernah kan? Tidak usah dijawab.”

            “Kalau sekarang, bagaimana?” dia bertanya lain lagi.

            “Sekarang kenapa?”

            “Kamu sedang merasakan itu?”

            “Memangnya kamu sedang merasakan itu?” aku bertanya balik, karena curiga dengan pertanyaannya yang menyangkut urusan hati.

            Dia diam tiga detik, lalu mengangguk. Aku tersenyum lebar penasaran, berpikir bahwa perempuan itu pasti sama uniknya dengan dia. Aku ingin dengar ceritanya!

            “Ciee… cerita dong, cerita. Perempuan seperti apa sih yang kamu suka? Pasti orangnya seunik kamu ya? Atau lebih unik lagi? Aku penasaran…”

            “Kamu mau dengar?”

            “Mauuuu… mau banget!” kataku, bahagia sekali.

            “Dia perempuan yang biasa-biasa saja. Tidak unik, tapi lucu.”

            Aku hanya tertawa geli mendengarnya memuji perempuan itu.

            “Dia selalu membuat aku bahagia dengan tingkahnya yang sederhana. Kata-katanya tidak pernah sengaja dirangkai untuk membuat orang tertawa, tapi tetap membuatku ingin tertawa secara alami. Kalaupun bukan tawa, itu adalah senyum.

Diamnya saat mendengarkan aku bicara selalu menjelma sejuta tanya. Tapi aku tidak mau bertanya, karena merasa itu belum perlu. Biar itu jadi rahasianya dulu. Aku pikir, cukup membantu segala hal yang dia merasa kesulitan adalah cara lain yang lebih nyata untuk tahu benar apa isi hatinya. Tapi sampai sekarang, aku tidak benar-benar tahu apa isi hatinya. Mau bantu aku menemukan isi hatinya?”

            “Aku coba. Bagaimana caranya?” sebenarnya aku bingung untuk membantunya, karena menemukan isi hati manusia tidak semudah mencari benda yang lupa ditaruh di mana.

            “Cukup katakan dengan jujur, apa yang kamu rasakan untuk aku.”

            Ku kira, dia salah menyebut orang.

            “Aku?” tanyaku, tidak yakin.

            “Iya, kamu.”

            “Kamu…”

            “Iya, kamu perempuan itu.”

            Aku mengusap leherku sekali, lantas salah tingkah. Dia menyukaiku? Ya, dia menyukaimu Rara! Apa yang harus ku katakan? Aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama. Aku hanya menyayangi dia sebagai sahabat. Tidak kurang, tidak lebih. Apakah itu akan menyakiti hatinya? Aku tidak mau dia sakit hati, tapi berbohong juga akan menyakiti hati. Aku dilanda kebingungan yang hebat saat itu. Tidak tahu harus bagaimana.

            “Dika…” ya, itu namanya. Dika.

Aku masih merasa kesulitan untuk menjawab sampai aku butuh waktu yang cukup lama untuk merangkai kata yang tepat. Dika masih setia menunggu, tentu saja. Tak lama, kudengar tiba-tiba Dika tertawa, seolah bercanda, padahal ku tahu, sama sekali tidak.

“Aku tidak meminta apa-apa kok. Aku hanya ingin tahu. Ngomong-ngomong, perasaan itu lucu ya, Ra? Seperti kamu. Suka bercanda. Bisa datang kapan saja, tapi juga bisa hilang semaunya.”

            Aku tidak bisa ikut bicara, karena memang tidak tahu harus bicara apa. Aku cuma bisa jadi pendengar. Dia nampak menghela napas pendek, lalu menoleh padaku, tersenyum manis menyaingi senja.

            “Aku sekarang sudah tahu. Kamu tidak perlu menjawab. Aku pikir, ini cuma sebatas saja ya, Ra. Tidak usah dipikirkan. Agak ge-er aku mengatakan ini, tapi aku harus bilang kalau aku baik-baik saja. Kamu tidak usah pikirkan ya.”

            “Maaf, Dika.”

            Laki-laki itu selalu pintar membaca aku. Lagi-lagi Dika hanya tersenyum. Laki-laki itu tidak pantas mendapatkan ketidakberuntungan ini. Aku juga tidak mengerti, kenapa perasaanku biasa-biasa saja untuknya? Aku memang tidak melakukan kesalahan, tapi aku merasa bersalah.

            “Kamu setuju kan, kalau perasaan itu suka bercanda seperti kita?” tanya Dika, kali ini meminta jawaban.

            Aku hanya mengangguk dan tersenyum miris.

            “Kalau suatu ketika nanti lamaaa sekali masih tidak hilang, berarti perasaanku sedang tidak bercanda, Ra. Hahaha…” Dika tertawa, aku tidak.

            Kamu tahu? Tentu tidak. Akan kuberi tahu, hari itu adalah hari terakhir di mana aku dan Dika bertemu, bicara, dan tertawa. Keesokan harinya ku dengar bahwa kabar kepergian Dika ke Yogyakarta dengan mobilnya mengalami kecelakaan maut di jalan perbatasan Wates dengan Kulon Progo. Dia mengalami kritis dan tidak sadarkan diri. Aku baru sampai di Solo saat mendengar kabar itu. Aku hendak melakukan tindakan gila seperti menyusulnya ke rumah sakit tempat Dika dirawat jalan, tapi ibu tidak mengizinkan dan memintaku tetap di Solo.

            Aku dapat kabar dari Febian kalau Dika tidak sadar selama 24 hari. Itu waktu yang sangat lama dan aku tidak bisa untuk tidak gelisah setiap hari. Sering sekali aku menangis memikirkan keadaannya. Perasaan kehilangan itu baru kurasakan saat dia benar-benar terluka. Di hari ke-25, dia sadar. Hal yang paling membuat aku tidak kuasa menahan kekecewaan adalah kenyataan Dika mengalami amnesia. Kau harus tahu, itu rasanya sakiiittt sekali. Sangat sakit. Bahkan ketika aku meminta Febian bertanya soal siapa Rara, Dika tidak ingat. Sama sekali tidak.

Langit seolah runtuh dan tanah sengaja kukuh untuk menghimpitku di antaranya. Aku benar-benar baru tahu rasanya kehilangan sebelum sempat mengatakan aku sayang dia. Bagaimana kalau dia benar-benar tidak akan pernah ingat siapa Rara lagi? Bagaimana kalau saat kecelakaan itu terjadi, Dika sedang mengingat tentang aku yang tidak memiliki perasaan yang sama untuknya dan kenangan-kenangan kami yang selama ini tumbuh, langsung hancur dan rusak bersama mobil yang ditumpanginya. Binasa. Aku selalu khawatir akan hal itu. Oh, Dika…. Aku rindu. Kamu di mana sekarang?

Kau tahu, sekarang aku meneteskan air mata lagi. Kurasa orang-orang di bus ini tetap tidak akan peduli aku menangis, karena mereka sibuk tertidur, makan, dan berbicara dengan penumpang di sebelahnya. Lelaki tua di sampingku saja sibuk memejamkan matanya dan mungkin bermimpi sedang makan apel di bawah pohon jeruk.

Sudah bertahun-tahun aku tidak bertanya pada Febian tentang bagaimana keadaan Dika sekarang setelah terakhir aku tanya, katanya aku tidak usah mengganggu Dika lagi, karena Dika akan menikah. Kamu tahu rasanya seperti apa menjadi Rara? Sebenarnya aku tidak rela dan ternyata aku cemburu. Kamu tahu, selama kehilangan itu baru aku sadar bahwa aku memiliki perasaan lebih dari seorang sahabat.

Tapi sebagai sahabat yang baik, bagaimana pun juga takdir sudah digariskan oleh Tuhan. Kupikir, aku tidak pantas mengganggu hidup Dika lagi yang sekarang akan resmi mempunyai teman hidup. Dan lagi, mungkin malah sekarang Dika sudah menikah dan punya anak juga. Kalau dihitung, aku sudah tidak bertemu Dika selama 5 tahun. Di umurku yang sudah 25 tahun ini, aku masih tidak tahu harus menikah dengan siapa. Aku tahu, keluargaku mengkhawatirkan itu.

            Tak terasa, tiga jam perjalanan pun tiba. Aku harus turun kalau tidak mau tersesat di kota lain. Aku bernapas lega dan tersenyum tenang saat kucium udara segar di kota kelahiranku. Di sini tidak hujan, malah panas sekali. Kalau ini mah, mataharinya bocor. Untuk sampai ke rumah, aku mesti naik kopada dua kali. Itu memakan waktu lagi. Tapi aku sudah berhenti mengingat Dika. Cukup 3 jam tadi saja. Sekarang waktunya mengingat jalan pulang.

            Aku keluar terminal dengan harus menerima konsekuensi berdesak-desakkan. Wajar saja, aku mengambil cuti, tepat di waktu mahasiswa tengah mudik. Suasana seperti itu memang selalu mencipta arus yang lebih padat dari biasanya. Tidak masalah. Ini hal yang biasa terjadi. Kurasa hanya manusia tukang mengeluh yang akan berkata ini menyusahkan.

            “Aw!”

Rintihku saat seorang lelaki menabrak bahuku tiba-tiba di depan terminal, kesal sekali. Aku nyaris jatuh karena beban di tasku sangat berat. Lelaki itu hanya mengatakan maaf tanpa menoleh, lalu cepat-cepat berjalan lagi. Seperti sangat buru-buru. Aku tidak suka dengan orang yang begitu. Tidak sopan! Aku berjalan lagi sampai tempat mengetem kopada yang jauh dari terminal agar biaya ongkosnya tidak dipermahal.

Aku berdiri di dekat warung jalan yang sudah cukup jauh dari terminal. Sesaat kulihat seorang lelaki bermasker dan berjaket jeans hitam dengan kaos abu-abu itu mensejajarkan berdirinya di sampingku. Dia baru saja membeli tisu di warung itu. Kulihat dia mengusap keningnya yang berkeringat dengan tisu. Penting sekali ya beli tisu cuma buat mengusap keringat? Aku saja yang perempuan bodo amat. Dan penting sekali juga ya aku mengomentari orang ini? Kurasa, dia juga sedang menunggu kopada.

“Mau?” tanyanya sembari menyodorkan satu pak tisu untuk aku ambil isinya sambil melihat ke arah mataku.

Tatap kami sempat beradu satu, sebelum aku membagi pandangan antara tisu dan dirinya. Aku menggeleng sambil tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang begitu dengan orang asing, irit bicara. Lelaki itu menyakukan tisunya. Pandanganku sedikit terganggu saat lelaki itu bolak-balik menatapku. Aku tahu itu karena tertangkap oleh ekor mataku. Aku tidak tahan untuk tidak menoleh, memastikan apa yang dia mau. Aku menoleh kepadanya, menatapnya penuh dengan muka curiga. Dia menatapku juga, lama sekali. Aku mulai risih.

“Ada apa?” tanyaku sedikit ketus.

Laki-laki itu memalingkan muka sebentar, melepas maskernya. Sembari menyimpannya di saku, dia menatapku lagi. Mata kami beradu satu kembali. Disitu aku baru tidak curiga dan merasa harus menatapnya lama-lama untuk mengingat setiap detail pahatan wajahnya yang nyaris terlupa. Laki-laki itu tersenyum hangat untukku. Sehangat itu sampai aku merasa aman.

“Aku mencari kamu di Solo. Tapi tidak ketemu. Aku pulang. Dan kamu di sini. Kamu tahu? Aku terkejut. Wajah kamu sedikit berbeda ya? Atau aku yang belum begitu mengingat? Hemm,” katanya.

            Aku masih diam membisu. Tidak tahu harus bicara apa. Aku bahkan jadi lupa sekarang hari apa dan pukul berapa. Untuk mencatat bahwa hari ini dan detik ini adalah penting buatku mengingat lebih lama lagi.

            “Kamu ingat instrument derap kaki kuda itu? Setiap liburan tiba, aku datang ke rel kereta api dan mengingat kata-kataku untuk kamu. Saat burung-burung senja di rel kereta api itu berkicau mengajak sahabatnya pulang ke rumah, aku pun begitu. Pulang untuk kamu. Karena ternyata, perasaanku tidak sedang bercanda. Di situ aku mengingat banyak hal. Tentang kita.”

            Kau tahu, air mataku jatuh saat dia masih menatapku. Aku langsung menunduk untuk menyembunyikan. Tapi aku tahu, itu sia-sia. Dia sudah tahu. Aku cepat-cepat menghapusnya, lalu menatapnya lagi dengan berani.

            “Kamu nggak perlu pulang ke aku. Jaga saja istri kamu. Aku baik-baik saja kok!”

            “Istri?!” dia terdengar syock.

            “Iya, istri,” jawabku yang jadi bingung.

            “Aku belum menikah,” selanjutnya dia tertawa renyah seperti dulu.

            “Febian bilang, kamu bakal menikah waktu itu. Ya, aku pikir bahkan kamu sudah punya anak,” jelasku polos-polos menggelikan.

            “Iya, dulu akan rencana. Tapi, belum dan nggak jadi. Mendengar derap kaki kuda di Yogyakarta membuatku ingat kamu, Rara.”

            “Karena aku mirip telapak kaki kuda?”

            Dika terbahak gemas, “Nggak sama sekali, Rara.”

            “Terus?”

            “Aku mau kamu. Kamu mau?”

            Mata kami masih beradu, tapi aku belum menjawab. Dia nampak masih menunggu. Dia selalu begitu, setia. Aku suka.

            “Apa kamu sungguh butuh jawaban setelah selama ini aku sengaja untuk sendiri?”

            “Aku sungguh hanya butuh kepastian. Kan ini bukan bercandaan.”

            “Mau!”

            Hening dalam beberapa detik, lalu dia tersenyum salah tingkah. Aku senang dia bahagia.

            “Ra,” panggilnya.

            “Ya?”

            “Kamu tahu nggak apa yang teletubis lakukan kepada teletubis lain kalau mereka sudah lama sekali tidak bertemu?”

            Pertanyaan konyol macam apa lagi ini. Aku tertawa sambil memikirkan jawabannya. Belum-belum sudah diberi soal esai. Padahal aku belum belajar semalam. Dika tidak berubah. Sama sekali tidak. Kecuali dia bertambah tinggi kira-kira 10 senti.

            “Tanya apa kabar?”

            “Bukan…”

            “Apaan sih, bawa oleh-oleh nggak?”

            “Bukaaaannn… tindakan Ra, bukan ucapan. Ih, nggak asik!”

            “Eng… salaman?”

            “Hadeh, bukan Raraaa...”

            “Terus apaan?”

            “Coba pikir lagi!”

            Aku berpikir lagi dalam beberapa detik sampai aku ingat sesuatu.

            “Pe-lu-kan?” jawabku agak ragu dan penuh kehati-hatian.

            “Aku mau itu!” Dika tersenyum, lantas meraih tanganku, lalu merengkuh tubuhku dengan sepenuh hati.

Aku tersenyum dan tenggelam. Kami tertawa dan aku semakin tenggelam dalam peluknya. Apa perlu kami bilang bahwa kami saling menyayangi? Kurasa segala hal yang dilakukannya dengan tulus adalah jawaban. Kami tidak pernah lupa bahwa kami suka tertawa. Tawa, gara-gara itu kami bersama. Aku dengar, Dika membisikkan sesuatu padaku saat kami masih saling berpeluk.

“Semesta, beri tahu pada perempuan ini bahwa aku tidak akan membiarkannya sendiri lagi.”

 

TAMAT