Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun. Kita sering menggunakan bahasa dalam berdialog dengan orang lain. Dalam berdialog dengan orang lain pun kita perlu memperhatikan kesantunan dalam menyampaikan sesuatu atau biasa disebut dengan kesantunan dalam berbahasa atau tanggapan santun.
Ada khasus di mana seseorang dalam berbahasa melalui chat memiliki maksud yang baik dan tulus, tapi justru diartikan tidak sesuai makna sebenarnya oleh orang lain. Mengapa bisa demikian? Padahal secara kaidah berbahasa kalimat yang ditulis dengan tulus itu adalah kalimat yang santun.
Semua itu sebenarnya tergantung pada tingkat emosinal lawan bicara dan bagaimana pemahaman tanggapan santun orang tersebut terhadap orang lain. Ini hanya perkara bagaimana menyampaikan kata-kata dengan santun atau menanggapi sesuatu dengan santun. Contoh, terkadang ketika kita sudah menggunakan kata yang tepat dan santun untuk meminta maaf kepada orang lain karena misal tidak bisa membantu atau belum mampu memberikan solusi dengan baik.
Jika kalimat yang keluar seperti, “Saya minta maaf.” Itu sudah santun tapi untuk menanggapi seseorang itu masih kurang, karena perlu adanya penjelasan dan alasan kenapa saya harus meminta maaf. Maka, contoh tanggapan santun yang benar seperti, “Saya minta maaf karena saya belum mampu memberikan solusi untuk permasalahan kamu.”
Jika demikian, maka jelas, alasan meminta maafnya sudah dijelaskan dan ditanggapi seutuhnya dengan santun. Namun, jika lawan bicara menganggap bahwa kata maaf yang demikian terkesan tidak tulus. Itu jelas terlihat bahwa lawan bicara belum mampu memahami makna dari tanggapan santun itu seperti apa. Padahal jelas sekali bahwa kalimat tersebut lebih santun daripada kita mengucapkan seperti, “Maaf yaaaa… (lalu diberi emotikon)” Mengapa demikian? Mari kita bedah bersama-sama.
Kata, “Maaf yaaaa… (lalu diberikan emotikon)” sebenarnya tidak salah juga, namun secara penulisan kata maaf ditambah emotikon saja tidak dapat dikatakan tulus. Bisa saja orang tersebut hanya ingin membuat reda dengan retorika berbahasa, tapi dalam hatinya tidak tulus. Karena apa? Kita bisa saja menulis “hahaha” di chat hanya untuk menghargai lawakan teman yang sebenarnya garing atau tidak lucu. Jika diibaratkan, maka demikian. Jika akan dijadikan tanggapan santun, maka tidak hanya kata “hahaha” saja yang keluar tapi juga menyampaikan kalimat lain yang mendukung bahwa hal itu memang lucu. Jadi, tanggapan yang santun adalah menggunakan bahasa yang sopan dan menjelaskan sesuatu yang ditanggapi.
Adapun seperti bagaimana cara kita mengkritik seseorang dengan tanggapan yang santun. Memberi kritik yang benar akan mendorong seseorang untuk berkembang lebih baik. Kritik membangun (konstruktif) dapat meningkatkan karakter orang dan menghindari menyalahkan dan menyerang pribadi. Kritik yang konstruktif memiliki nada positif dan fokus pada tujuan yang jelas dan dapat dicapai.
Mengkritik itu membantu orang bukan karena kamu merasa tidak suka atau merasa perlu mendengar pendapatmu. Kritik yang perlu dihindari adalah kritik yang hanya mencari kesalahan, merendahkan, menjelekkan, dan menyakiti orang. Kritik yang hanya berfokus kepada kesalahan dan kelemahan bukanlah kritik, melainkan mencela dan mencaci.
Bagaimana cara mengkritik yang membangun? Mulailah dengan cara positif, memuji, menunjukkan apresiasi yang jujur dan tulus. Tidak menunjukkan emosi negatif, seperti bahasa tubuh dan nada suara. Hindari bahasa negatif, menyalahkan, atau meyerang pribadi seperti, “Kamu salah” atau “ini gagasan bodoh dan tidak masuk akal”. Jadi, konstruktif itu harus membangun memberikan solusi. Barulah hal itu bisa dikatakan sebagai mengkritik dengan santun. Contoh mengkritik dengan bahasa yang santun adalah “Puisi yang kamu bacakan tadi sudah bagus, tapi akan lebih indah lagi jika menggunakan majas agar tidak monoton.”
Ada lagi tentang bagaimana menanggapi suatu pujian dengan santun. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam memuji seseorang, yaitu pertama, memuji dengan tulus, bukan basa-basi. Kedua, hormati dan hargai. Ketiga, memperhatikan waktu. Keempat, berikan rasa nyaman. Kita mulai dari yang pertama. Tulus bukan basa-basi. Memuji tidak dengan sungguh-sungguh akan dapat dirasakan. Sebaliknya jika pujian itu sungguh-sungguh, tulus, bukan sekadar basa-basi dapat dirasakan orang senang dengan apa yang kamu katakan. Misalnya, “Kamu tampak lebih ceria jika memakai baju warna itu.” Daripada mengatakan, “Kamu bagus memakai baju itu.”
Kedua, hormati dan hargai. Jangan sampai niat memuji malah diterima sebaliknya. Hati-hati memuji berdasarkan suku, agama, dan rasa tau penampilan fisik seseorang. Hindari ungkapan penjelas yang tidak perlu. Misalnya, “Kamu hebat untuk ukuran orang desa” atau “Tidak ada orang kampong yang sehebat kamu” (Hal ini menyiratkan bahwa orang desa/kampong tidak ada yang hebat atau pintar). Lebih baik dikatakan seperti ini, “Kamu hebat dan pintar, tidak kalah dengan orang lain di luar sana.”
Ketiga, waktu. Ada pujian yang tidak cocok dalam waktu tertentu. Pastikan lihat konteks peristiwa dalam memuji seseorang. Paling tepat, pujian diberikan setelah seseorang mengerjakan sesuatu dengan sangat baik. Misal dengan memuji di hadapan banyak orang. Contoh, seorang siswa diminta menyanyikan lagu perpisahan di sebuah acara purna siswa kelas XII SMA. Kemudian saat turun, lalu MC menyampaikan bahwa, “Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Anggara. Penampilan menyanyi yang luar biasa menyentuh hati. Terima kasih Mbak Anggara sudah menghibur kami.”
Keempat, berikan rasa nyaman. Tujuan memuji adalah untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Jangan membicarakan diri sendiri apalagi jika maknanya berlawanan. Ini membuat orang yang dipuji merasa tidak nyaman. Misalnya, “Kamu hebat sekali sudah memenangi kejuaraan catur mengharumkan sekolah kita. Kalau saya tidak mungkin bisa. Saya orang yang tidak bisa apa-apa.” Pujian yang seperti itu justru membuat rasa tidak nyaman bagi orang yang dipuji. Jadi lebih baik kalimat, “Kalau saya tidak mungkin bisa. Saya orang yang tidak bisa apa-apa” dibuang saja. Cukup dengan memuji, “Kamu hebat sekali sudah memenangi kejuaraan catur mengharumkan sekolah kita”.
Kesimpulannya adalah tanggapan yang santun adalah tanggapan dengan menggunakan bahasa yang sopan, tidak terkesan dipaksa, tidak membicarakan diri sendiri, dan dengan perkataan yang baik. Perkataan yang menjelaskan peristiwa atau keadaan yang sedang terjadi dengan tulus. Demikian bagaimana cara memahami bagaimana memberi tanggapan dengan santun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar